
Mahesa langsung berjongkok di depan sahabatnya tersebut. Dia langsung memeluk Atlanta.
"Maafin gue, Ta. Gue dibutuhkan akan cinta."
"Apa boleh gue enggak bisa maafin lo?" tanya Atlanta.
Mahesa menganggukan kepalanya. "Gue tahu gue salah, gue bakal nerima hukuman apapun yang akan lo berikan kepada gue, Ta. i's Oky gue salah sama lo dengan Leana, gue berhak di hukum. Lo bisa hukum apapun yang lo mau."
"Apapun?" tanya Atlanta.
"Apapun itu," jawab Mahesa tanpa ragu.
"Gue mau lo kembali ke Indonesia, dan lahirin anak gue! Gue mau anak gue kembali," pinta Atlanta membuat Mahesa meneguk salvinnya.
"Gue enggak bisa, Ta."
Mana mungkin dia harus mengembalikan bayi yang sudah meninggal? Atau dia mengandungnya, mana masuk akal? Dia kan cowok.
"Kan lo yang bilang kalau gue boleh minta apapun sebagai hukuman buat lo. Makanya gue mau minta itu sebagai hukumannya."
"Gue lebih baik dipenjara, Ta. Daripada mengikuti permintaan lo yang ini, gimana gue lakuin!"
__ADS_1
Davin dan Dito menahan tawa, tadinya mereka ikut terharu dan menangis. Namun, seakan itu semuanya menghilang saat mendengar permintaan Atlanta yang ingin Mahesa mengandung anaknya, yakali mereka belok? Emang Mahesa bisa hamil?
"Ya udah buatin seratus lima candy di dekat rumah gue, dan itu harus jadi sampai sebulan!" perintah Atlanta kembali membuat Mahesa dan kedua temannya terkejut.
Bahkan, mata Mahesa sudah ingin lompat saking terkejutnya mendengar permintaan kedua dari sahabatnya tersebut. Yakali dia harus buat candy seratus lima puluh dalam sebulan?
"Ya benar aja permintaan lo, gue enggak bisa cuy. Satu candy aja biasanya enggak bisa jadi dalam satu bulan cuy."
"Iya mau gimana lagi? Gue maunya itu, harus mau kalau nggak mai gue tembak lo sekarang juga." Atlanta mengeluarkan pistol dari balik saku jaket yang digunakan.
"Gilak lo, Ta. Gue masih mau hiduo woi, gue belum dapat daddy baru," ucap Mahesa.
"Gue yang bakal jadi daddy lo, Sa," sahut Dito dan Davin bersamaan.
"Masalahnya, mak Mahesa mau enggak sama lo pada?" tanya Atlanta. "Kalau mau gass aja, setelah dari salh satu di antar kalian berhasil, gue bakal bunuh Mahesa."
"Mending lo masukan gue ke penjara aja. Pilihan lo enggak ada yang baik anjir," ketua Mahesa.
Atlanta tetsenyum lalu memeluk sahabatnya. Membuat ketiganya kebingungan.
"Gue enggak mau apa-apa, gue cuma mau lo pulang ke Indonesia dan meminta maaf kepada Leana. Jika Leena memaafkan lo, gue juga bakal gitu," jelas Atlanta melepaskam pelukannya.
__ADS_1
"Gimana kalau Leana enggak ngasih hue maaf, Ta?" tanya Mahesa.
"Iya terima resikonya sendiri, kok tanya saya." Setelah mehatskan itu Atlanta pergi dari sana dan kembali pulajg ke hotel.
"Ta tungguin woi." Mereka berdua melambainan tangannya kepada Mahesa lalu mengejar Atlanta.
Mahesa menatap ketiga temannya yang naik ke taksi. Laki-laki tersebut menghela napas panjang. Dia kembali ke dalam rumah, di mana ada mommynya.
"Hesa enggak bisa lanjutin lagi. My, mommy tahu Atlanta adalah sahabat aku, aku enggak bisa menghancurkannya. Hesa enggak sanggup."
"Mahesa, kamu harus ingat perlakukan keluarga mereka ke kita!"
"Mahesa tahu, Mahesa sudah menyakiti istri Atlanta, itu sudah lebih cukup untuk membuat mereka hancur. Bahkan istrinya Atlanta sudah tak bisa hamil lagi, apakah belum puas bagi mommy untuk itu?"
"Sampai kapan pun, mommy belum puas. Mommy ingin membalasnya dengan kejam lagi dari itu."
"Terserah apapun yang mommy mau, tapi peringat dari Mahesa. Mahesa tidak akan tinggal diam jika mommy masih ingin membalas dendam kepada keluarga Atlan."
"Apa? Apa yang akan kamu lakukan jika mommy bertindak sendiri?"
"Mahesa akan bunuh diri," jawab Mahesa. "Pegang kata-kata Mahesa, kalau mommy sayang Hesa mommy pasti tidak akan bertindak. Jika tak sayang maka lakukanlah yang mommy mau." Setelah mengatakan itu Mahesa menuju kamar miliknya.
__ADS_1
Dendam apa yang dimiliki mommynya Mahesa kepada keluarga Atlanta? Kenapa wanita itu ingin sekali keluarga Atlanta hancur?