
Altar menggendong tubuh Aisha ke kamar.
"Sayang," panggil Altar. "Boleh?" tanyanya.
Aisha melap air matanya lalu mengangguk pelan.
Altar mengusap pipi Aisha dengan lembut. "Maafin kakak sayang, kasih kakak kesempatan untuk memperbaiki kesalahan yang ku perbuat jangan seperti ini. Kita harus mempertahankan pernikahan kita, kaka mohon sama kamu," ujar Altar yang berada di atas Aisha.
Aisha memeluk leher Altar. "Hati Ais sakit, kak," keluhnya sambil terisak.
"Maafin kakak, aku memang lelaki bajingan yang bermain tangan dengan istrinya, maaf. Kakak akui kakak salah, tapi please jangan tinggalin kakak sendiri beri aku kesempatan sekali? kalau aku menyia-menyiakannya kakak tidak akan melarang mu pergi," jelas Altar menjatuhkan air matanya di pipi sang istri.
Aisha membelai pipi Altar. "Jangan menangis kak Altar, Ais gak suka," cegahnya memeluk tubuh kekar yang rapuh itu.
"Aku mencintai mu sangat mencintai mu, kakak janji akan selalu percaya pada mu, berulang kali lagi kakak bilang maaf telah mengfitnah istriku."
"Aku lebih mencintai mu kak Altar," balas Aisha.
"Kita selesaikan masalah keluarga kita dengan baik-baik ya? Jangan seperti ini kamu membuat kakak tersiksa," ujar Altar seraya mencium inci wajah Aisha.
Aisha mengangguk.
"Kita sampaikan janji kita saat pernikahan, akan selalu bersama di setiap waktu."
Aisha kembali mengangguk. "Ais ingat kak Altar," jawab Aisha.
"Jadi jangan pergi tinggalin kakak ya?" tanya Altar kembali membelai pipi Aisha.
"Ya kak Altar, maafin Ais mungkin Ais gak sanggup beri kakak pelajaraan," jawab Aisha. "Ais gak bakal ninggallin kakak, tapi aku mohon kakak jangan ngulangin lagi ya? Kakak buat hati Ais sakit."
__ADS_1
Altar mengangguk. "Kita perbaiki hubungan kita yang hampir berantakan, mari kita kembalikan buah hati kita yang di ambil maha pencipta."
Aisha lagi dan lagi mengangguk dan mulai meraba dada suaminya membuka kancing kemaja yang di gunakan Altar.
Altar tersenyum memegang tangan mungil istrinya lalu menciumnya dengan agak lama.
"Jangan dulu sayang," cegah Altar. "Kita jalanin syaratnya dulu," lanjut Altar menggendong Aisha ke kamar mandi.
Aisha menggalungkan tangannya di leher sang suami.
"Mainnya di kasur aja kak Altar."
"Kakak tau, tapi kita mandi dulu."
Aisha mengangguk. Mereka pun mandi bersama dan melakukan ritual pembuatan buah hati baru.
💗💗💗💗💗
"Aku cinta kamu," bisik Altar dengan suara seraknya.
"Aku lebih mencintai kak Altar," balas Aisha. "Kakak pake baju lah," pintanya.
"Pakein," goda Altar sehingga mendapatkan cubitan.
"Kenapa? Kemarin kakak loh yang mandiin dan pakein kamu pakaian jadi gantian atuh."
Aisha menggeleng. "Gak mau," tolaknya.
"Yaudah kasih kakak ciuman dulu," pinta Altar, Aisha pun mencium pipi Altar sekilas membuat lelaki itu terkekeh dan melepaskan pelukannya.
__ADS_1
"Sayang baju kakak yang ini rontok," aduhnya memperlihatkan baju favoritnya yang di berikan oleh sang istri saat hari pernikahan mereka.
Aisha menoleh dan menahan nafas sesaat melihat Altar tidak memakai apapun di tubuhnya.
Dia beranjak berdiri lalu membuka lembari mengambil setrika.
"Kakak pakai yang lain aja nanti ku setrika dulu yang ini," pinta Aisha berusaha terlihat biasa.
Altar mendekati Aisha membuat wanita itu deg-degaan
"Kakak maunya yang ini!"
"Yaudah kakak pake handuk dulu gih."
Altar menggeleng malah di duduk di tepi ranjang.
Aisha melemparkan handuk ke arah suaminya. "Pakai kak Altar!" perintahnya.
Altar berdehem lalu memakai handuk itu sambil menunggu istrinya selesai menyesestrika bajunya.
Setelah usai menyesetrika Altar pun memakai pakaiannya.
"Kita ke ponpes?" tanya Altar memakaikan cadar Aisha.
Aisha mengangguk, dia menyisiri rambut Altar yang berantakan.
"Udah, cantik," puji Altar mengangkat tubuh Aisha turun dari ranjang.
"Masya-Allah," ucap Aisha mengambil tasnya lalu mengekor di belakang suaminya.
__ADS_1
Altar bernapas lega bisa membujuk istrinya. Dia akan menjaga kesempatan yang di berikan Aisha, tidak akan mengulangi kesalahan yang fatal kedua kalinya.