
Altar, memeluk Aisha dari belakang. "Sayang, kamu marah nih? Aku cuman bercanda, loh."
"Lepasin, kak Altar," pinta Aisha. "Kakak, bilang aisha tuh cerewet, berarti kakak gak suka dong punya istri cerewet, kaya Aisha?" tanya Aisha memanyunkan bibirnya.
"Kakak suka! Kapan kakak bilang, gak suka?"
"Tadi!" jawab Aisha, ketus.
"Mana, gak ada tuh!"
Altar membalikan badan Aisha, menghadap kearahnya. "Itu muka, gausah di tekuk gitu, jelek," ledek Altar.
Membuat Aisha mendengus kesal, sambil memukul dada kekar Altar.
"Kakak, suka banget sih, bikin Aisha itu kesal?" tanya Aisha, gemess pada Altar.
"Kenapa sayang?" tanya Altar. "Lucu lihatnya kalau kamu marah marah, kakak suka," lanjut Altar.
"Iyaudah, Aisha bakal marah sama kakak, selamanya, biar kakak suka sama Ais terus!"
"Jangan marah selamanya, juga sayang. Kali ini deh gak lagi, kakak gak bakalan bikin, istri kakak marah marah lagi," ujar Altar.
"Janji?" tanya Aisha. Sambil menaikkan jari kelikingnya kearah Altar.
Altar mengangguk, lalu menautkan jarinya dan jari Aisha.
"Kakak, temanin Ais ke supermarket, mau?" tanya Aisha.
"Emang mau beli apa hm?" tanya Altar balik. "Kan semuanya sudah kakak beli, dan simpan di dalam kulkas."
Aisha menggeleng. "Bukan itu kok kak Altar. Ais lagi datang bulan, Ais mau beli pembalut, perut aku sakit!" jelas Aisha.
Altar hanya menggut manggut mengerti. "Iyaudah, pake cadar kamu," pinta Altar.
__ADS_1
Aisha pun hanya mengangguk, lalu merai cadarnya yang ada di atas kasur.
"Sini kakak ikat." Altar pun mulai memgingkat tali cadar Aisha, dari belakang.
"Udah," seru Altar.
*************
"Bik, kita keluar bentar iya," pamit Altar.
"Iya Den, Nyonya," jawab Indah dan mengangguk.
Untung sudah sore, jadi matahari sudah turun. Aisha meminta suaminya untuk naik motor saja.
"Naik mobil aja?" tanya Altar, tetapi mendapatkan gelengan dari Aisha.
"Banyak debu!"
"Gak ada kak Altar! Aisha mau naik motor. Titik!" ketus Aisha, menaiki motor Altar duluan.
"tunggu di sini dulu! Jangan kemana mana," peringat Altar. Dan berlari masuk kedalam rumah.
Beberapa saat Altar kembali, membawa satu helm.
"Itu helm siapa?" tanya Aisha.
"Helm buat istri aku!" jawab Altar. Membuat Aisha senyum-senyum.
"Lucu banget," ujar Aisha. Melihat helm itu, di atasnya seperti telinga kelinci.
"Kakak, ini benaran buat Aisha?" tanya Aisha, berbinar. benar-benar lucu helm nya, bisa-bisanya, suaminya membelikan helm lucu seperti itu.
"Kata siapa, ini buat kamu?" tanya Altar balik. Membuat Aisha yang tadinya berbinar, menjadi murung seketika.
__ADS_1
"Ini buat istri aku!" sahut Altar, memakaikan, helm itu di kepala Aisha.
Aisha kembali tersenyum, mendengar ucapan Altar barusan. "Kakak belinya kapan?" tanya Aisha, di saat Altar sudah berada di atas motor.
"tiga hari yang lalu," jawab Altar.
Aisha hanya manggut manggut mengerti. Mereka pun pergi, menuju supermarket.
"Kamu biasanya, datang bulan di tanggal begini sayang?" tanya Altar.
"Gak, kak Atar, Aisha kadang datang bulannya cepat, kadang lambat," jelas Aisha.
"Tapi tanggalnya gak terlalu jauhkan?" tanya Altar lagi.
Aisha hanya mengangguk. "Aisha kalau paling cepat datang bulan tuh, di pertengahan bulan," jawab Aisha.
Altar pun hanya manggut manggut mengerti. "Tersiksa banget pasti, harus ngerasain sakit perut setiap bulan, Kasian istri gue," batin Altar.
Sekitar 15 menit, mereka pun sampai, di supermarket.
"Beli yang mana?" tanya Altar. Penasaraan dengan bentuk, pembalut yang sering di pake para perempuan, saat sedang datang bulan.
"Nah ini," tunjuk Aisha ke rak, yang penuh bermacam pembalut. "Kak Altar, tolong dong, ambil pembalut yang itu!" pinta Aisha.
Altar pun mengambil pembalut yang di tunjuk Aisha, dia memutar mutar barang itu, lalu memberikannya pada Aisha. Rasa penasaraanya sudah terbayar.
"Masih ada yang mau di beli?" tanya Altar, tetapi Aisha hanya menggeleng.
Mereka pun menuju kasir, untuk membayar.
"Gamau, cari yang lain lagi?" tanya Mbak kasir itu, pada Aisha.
"Maksud, Mbak apa? Mbak nyuruh gitu, istri saya nyari cowok lain?" tanya Altar, ketus.
__ADS_1
...----------------...