Badboy Suamiku

Badboy Suamiku
Habibati?


__ADS_3

"Sial!" umpat Aksa disaat Altar sudah mencapai finis duluan.


"Hore, Bos kita menang lagi!" teriak Vier mengibarkan bendera Aodra dengan lambang burung elang. Disaat Altar telah mencapai finis dan dibelakangnya ada Cakra.


"Congrats bos," ujar Cakra bertos pada Altar diikuti yang lain. Memberi selamat buat Altar.


Beberapa saat datanglah Aksa dengan kedua temannya yang lain.


Altar tersenyum miring kearah Aksa. "Katanya geng motor unggalan, ko lemah?" remeh Altar.


"Lo nya main curang bangsad!" ujar Aksa tidak terima dengan kekalahan nya. Baru pertama kali ada yang mengalahkannya balapan motor.


"Loh loh, kalah ya kalah aja! jangan ga terima gitu dong bro," sahut Vier menahan tubuh Aksa yang ingin menyerang Altar.


"Kalau memang ga keren, gausah ngerusak nama orang dong!" tambah Evan.


"Nama nya juga perkumpulan banci mana bisa mau galah wkwkwwk," ujar Kendra.


Telinga Aksa seketika panas disaat mendengar makian makian mereka. "Sialan lo pada anjing, gue bakal buat perhitungan sama lo," tunjuk Aksa pada Altar yang masih dengan senyum smirknya.


"Gue tunggu bang," sahut Altar, tidak lupa memberi jari tengahnya pada Aksa.

__ADS_1


"Party ga bos?" tanya Vier.


Altar menggeleng. " Menurut gue, uang kita dapat ini sebagian untuk renovasi markas dan lebihnya kita sumbangkan ke anak anak jalanana di luar sana yang butuh makan," saran Altar. " Kalian setuju kan?" tanya Altar pada anggota nya.


Satu persatu anggotanya pun bersorak setuju. "SETUJU PAKE BANGET BOS," ujar mereka serentak.


"Lagian ini duit kemenangan bos sendiri. Kenapa pake minta izin lagi bos? Kita bakal dukung apapun yang bos katakan! Karena apa yang bos ambil pasti itu yang terbaik buat kita dan geng kita," sahut salah satu anggota.


Altar tersenyum. "Gue mau yang gue putuskan untuk geng kita bisa dapat persetujuan dari kalian semua. Gue cuman menjadi pemimpin kalian tapi tidak seluruh kekuasan gue yang tentukan sendiri pasti juga butuh masukan kalian," jelas Altar.


Mereka hanya manggut manggut mengerti. Memang tidak salah mereka mempunyai pemimpin seperti Altar yang bijak.


"GAPAPA BOS," ujar mereka.


Altar pun pergi dari tempat balapan. Dia tidak seperti dulu lagi yang bisa pulang kapan saja, bahkan tidak pulang pun tidak masalah, tapi sekarang dia sudah berganti status jadi semua nya harus serba terbatas.


Altar membuka pintu kamar, dan terlihat istrinya yang sudah tidur pulas. Tanpa sadar Altar mengulupkan senyuman. Dia melangka masuk dan mendekati istrinya yang tidur disofa. Mungkin ini kedua kalinya Altar membuat istrinya menunggu sampai terlelap disofa.


"Lucu banget sih?Tidur aja cantik," kekeh Altar mengusap dengan lembut pipi cubby istriya.


"Gue belum tau perasaan gue ke lo bagaimana, yang jelas gue benar benar tidak rela kalau lo kenapa napa, lo yang bisa meredahkan emosi gue. Cukup lihat wajah lo aja gue sudah merasa sangat tenang," ujar Altar.

__ADS_1


Dengan perlahan Altar mengendong tubuh kecil istrinya keranjang.


Altar dengan hati hati menidurkan tubuh istrinya kekasur. Tidak lupa memakaikan selimut pada tubuh istrinya.


Saat hendak pergi tangannya di genggam oleh Aisha. Altar pun mengurungkan sedikit niatnya untuk pergi.


Dia duduk ditepi ranjang, lalu sedikit mencium kening istrinya.


"Good night habibati," ujar Altar sambil mengusap surai istrinya dengan lembut.


Altar terkekeh melihat tangan kekarnya yang dipegang oleh istrinya, tangan istrinya terlihat mungil dan kecil.


Dengan perlahan Altar melepaskan genggaman istrinya. Lalu beranjak dari sana.


Altar pun menutup kembali pintu kamar itu lalu berjalan kekamar sebelah dimana diakan tidur.


Dia merebahkan badannya diatas kasur empuk. Dengan sepatu yang belum dia lepas dari kakinya, bahkan jaket yang dia pake dia lempar kesembarang arah.


"Mungkin begini iya rasanya setelah nikah? Semua harus bersangkutan dengan pasangan? Semuanya sudah serba terbatas?" tanya pada dirinya sendiri.


Altar memandang keatas langit langit kamar yang berwarna putih.

__ADS_1


__ADS_2