Badboy Suamiku

Badboy Suamiku
Bab 20. Full bab Altar and Aisha.


__ADS_3

Altar mendengus kesal disaat ponselnya berdiring, siapa yang menelfon di pagi buta begini?


Altar pun dengan berat membuka matanya dan melihat jam tertara dilayar ponselnya. Altar seketika bangkit. Dia lambat untuk sholat subuh jam sudah menunjukan 7:45. Aisha juga sepertinya tertidur karena tidak ada yang membangunkan nya.


Altar menyimpan ponselnya diatas nakas lalu berjalan kearah kamar mandi untuk bercuci muka. Hari ini, hari minggu dimana para anak yang bersekolah bahkan orang kantoran, tunggu tunggu hari ini tiba.


Karena rasa penasaraan, kenapa Aisha belum keluar dari kamar sejak tadi. Altar pun bergegas kekamar dimana Aisha tidur.


Dia mendekati istrinya yang menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut.


"Panas?" gumam Altar. Yang sempat ingin membangunkan Aisha. "Demem nya sangat tinggi," ujar Altar memegang kening istrinya. Terlihat wajah Aisha yang pucat. Pantas saja gadis itu tidak membangunkan dirinya melaksanakan sholat subuh.


Dengan perasaan gusar Altar mengambil kain beserta air hangat. Dia juga sempat menelfon dokter pribadi keluarganya.


"Sha, bangun!" Altar menepuk dengan lembut pipi Aisha.


"Kak Altar?" panggilnya Aisha dengan nada lemahnya. Disaat membuka mata dia langsung melihat wajah tampan suaminya.

__ADS_1


Aisha hendak bangun namun Altar langsung melarangnya. "Jangan bangun, tidur aja! Badan lo panas banget," ujar Altar. "Kepalanya sakit?" tanya pria itu.


Hanya di tanggapi dengan anggukan kecil dari Aisha.


"Tidur lah, sebentar lagi dokter datang!" ucap Altar sambil membelai kepala Aisha.


Beberapa saat dokter pun datang. Dan memeriksa kondisi Aisha.


"Ini hanya demam biasa, nanti saya bakal kasih obat ya!" ujar dokter itu tersenyum.


"Gaada yang apa apa kan dok? Itu bahaya ga?" tanya Altar. Dari ruat wajahnya sudah sangat terlihat pria itu sangat panik bercampur khawatir dengan keadaan istrinya.


Altar pun hanya mengangguk paham. Setelah itu Altar pun mengantar dokter itu sampai di ujung pintu rumah. Baru dia kembali keistrinya.


"Masih sakit kepalanya?" tanya Altar yang duduk ditepi ranjang.


"Udah ga terlalu kok kak Altar," jawab Aisha.

__ADS_1


Altar hanya berdehem. Tangan nya mengenggam jari jari lentik istrinya dia menautkan tangannya dan tangan istrinya itu.


"Cepat sembuh! Gue gasuka lihat lo sakit kaya gini," ucap Altar.


"Ini juga bukan kemauan Aisha! Tapi Aisha berharap ini berjalan dengan durasi yang sangat panjang, agar kak Altar terus perhatian kepadaku, bahkan diperlakukan dengan lembut. Ais suka, maaf kalau Ais egois mau seperti ini aja biar dapat kasih sayang dari kakak!" jelas Aisha.


Altar terdiam dengan ucapan yang dia dengar keluar dari mulut istrinya. Dia baru sadar pertama mereka nikah dia terus saja membentak istrinya dan berkata kasat kepadanya. Altar sangat tau Aisha tidak pernah sama sekali dibentak atau diperkataan kasari seperti itu sebelum mereka menikah.


"Maaf, dan jangan ngomong seperti itu lagi! Lo harus sembuh, gue bakal seperti ini bahkan lebih dari ini kalau lo sembuh," ujar Altar.


"Ga bohong kan?"


"Gue minta maaf gue pernah berkataa kasar sama lo. Gue baru tau dalam islam suami tidak pantas berkata kasar pada istrinya apalagi membentaknya. Gue bakal jadi suami yang bisa lebih pengertian lagi kedepannya. Gue berharap lo maklumi kelakuaan gue.


Dan gue juga bakal belajar ilmu agama dan berusaha mengenal lebih dalam lagi tentang larangan atau perintah yang akan di lakukan dalam islam, bakal belajar bagaimana kita harus memperlakukan pasangan dalam islam juga."


Aisha tersenyum, semua nya terasa mimpi baginya tapi disaat dia mencubit pipi nya itu terasa nyata.

__ADS_1


"Aisha bakal nunggu, dan Aisha bakal sport kakak agar semangat. Ais bangga sama kakak karena apa? Karena kakak ingin berusaha untuk belajar mengenal lebih dalam agama kita."


"Lo yang bisa buat gue seperti ini Sha, makasih telah hadir dalam hidup gue."


__ADS_2