
Setelah sholat, Aisha kembali mengajar Altar mengaji. Dan Altar tanpa paksaan pun belajar mengaji.
Aisha tersenyum disaat suami nya meminta menambah untuk di baca. Sampai pun Altar mengenal semua huruf hijaiyah.
"Kak Altar udah dulu iya, Ais mau pipis," ujar Aisha berlari kearah kamar mandi. Sekarang bukan Altar yang menyerah melaikan Aisha si guru ngaji.
Altar pun melepaskan peci nya lalu memberes kan tempat mereka tempati sholat. Bahkan Altar melimpat dengan rapi sejada yang mereka pake.
"Belajar Ilmu agama seseru itu iya? Ngalahin pelajaran yang lain nya," gumam Altar. "Mungkin guru nya Masyallah jadi bisa buat gue kecandu gini heheje," kekeh nya.
Aisha yang baru keluar dari kamar mandi. Menatap heran suami nya yang nyengar nyengir.
"Kak Altar kenapa sih?" gumam Aisha.
"gue udah hafal yang surut al-Fatiha yang lo suruh hafal, gue juga hafal surat yang lain nya!" sahut Altar disaat melihat istri nya keluar dari kamar mandi.
"Wah benar kah? Secepat itu kak?" tanya Aisha bahagia.
Altar hanya mengangguk. "Mau dites ga? Takut nya ada yang salah lagi!"
"Iyaudah, ayo duduk kak! Ais mau dengar!" seru Aisha.
Altar pun duduk didepan istri nya, yang duduk dilantai dengan karpet tebal sebagai alasnya.
__ADS_1
Altar pun dengan semangat membaca surat Al- Fatiha, dan surat ayat kursi. Dan bacaan Altar benar.
"Wah kakak hebat," ujar Aisha memberi dua jempol nya kearah Altar.
"Gue mau hadiah!" sahut Altar, membuat Aisha menaikan Alis nya.
"Hadiah apa?" tanya Aisha, ia takut hadiah yang diminta suami nya aneh aneh.
"Gue mau tidur di pangkuan lo, sambil lo elus elus kepala gue sampai gue tidur!" ujar Altar, kalimat yang sudah dia niat niat kan untuk memberanikan diri mengucap kan kalimat itu pada istri nya.
"Bonus nya gue bakal ngehafal surat surat yang ada didalam al-Quran, gimana?" tanya Altar.
Aisha tersenyum lalu mengangguk." Deal!" sahut nya. Itu bukan masalah besar untuk nya.
Altar hanya mengangguk. Asalkan dia sudah mendapatkan satu keinginan nya untuk di puk puk oleh istri nya.
"Kakak lapar?" tanya Aisha, yang baru saja ingat bahwa suami nya belum makan disaat mendengar suara perut Altar.
Altar hanya mengangguk sambil menggaruk belakang kepala nya.
"Iyaudah, bentar iya AIs masakin buat kakak!" ujar Aisha beranjak dari duduk nya. Lalu memakai kerudung nya dan cadar nya.
Aisha pun pergi dari kamar itu menuju lantai bawah dimana letak dapur.
__ADS_1
Sesampai nya didapur Aisha membuka kulkas, kebetulan Altar sempat sudah mengisi nya dengan bermacam macam, bahan masakan maupun cemilan.
Aisha pun berniat memasak ayam tumis kecap untuk diri nya dan suami nya.
"Semoga aja kak Altar suka, dan iya! Semoga aja rasa nya sesuai harapan ku heheh," ujar nya sambil memotong kecil kecil daging ayam.
"Umah pernah mengajari ku memasak, jadi aku masih ingat gimana cara masak nya."
Aisha menarik nafas lalu membuangnya. Dia tidak akan mengecewakan suaminya. "Bismillah."
Aisha mulai memasak. Tiba tiba ada yang mengingkat kerudung nya dari belakang. Membuat nya sudah tidak repot dengan gangguan kerudung panjang nya.
"Makasih kak Altar," ujar Aisha. Ia tau itu suami nya. Karena jelas jelas di rumah itu hanya ada mereka berdua,dan aroma maskulin yang sudah Aisha hafal, aroma maskulin yang dipake Altar tentu nya.
Altar nya berdehem. Lalu pergi dari sana. Menghilang seperti super hero yang telah membantu seseorang dalam kekusahan. Heheheh.
"Dia pake shampo apa ya? Harum banget," ujar nya dalam hati
"Apasih anjir? Ngapain gue kepo tentang shampo apa yang dia pake, bau nya juga b aja!" gumam nya. Bertolak belakang dengan suara hati nya. Seakan ada dua jiwa didalam tubuh Altar.
...----------------...
...Gengsi nya pak Altar setinggi cinta ku ke jeno.😆 Altar tidak terima kenyataan gaes kalau dia mulai tertarik dengan Ais....
__ADS_1