
Aisha dengan ragu pun mencium pipi Altar. Pipi nya jadi merah bak kepiting rebus disaat sudah mencium pipi suaminya.
"Udah," ujar Aisha.
Jantung Altar seketika berdetak kencang disaat Aisha sudah mencium kedua pipi nya secara bergantian. Gila dia yang minta kenapa dia yang akan kena mental?
"Iyaudah pake kerudung lo dan cadar lo itu," ujar Altar yang berdiri mengambil kerudung dan cadar milik istrinya ,tidak lupa kaos tangan pun dia ambilkan untuk istrinya, agar tangan Aisha tidak terkena panas matahari disiang bolong seperti sekarang.
Altar mengenggam tangan istrinya keluar dari rumah. " Lo tunggu disini, gue ambil mobil dulu," pinta Altar.
"Naik motor aja kak Altar," celetuk Aisha.
"Ga, ini siang hari panas," balas Altar lalu pergi mengambil mobilnya dibagasi.
Aisha tidak membantah. Takut membantah maka Altar akan berubah pikiran.
Altar membukakan pintu mobil buat Aisha bagaikan sang ratu.
"Makasih mas suami," seru Aisha. Membuat Altar menahan salting.
"Ngerayu pas ada mau nya doang," sindir Altar sambil melajukan mobilnya.
Aisha hanya mencibir lalu menghadap kearah jendela luar. Menatap bangunan bangunan besar yang ada di di pinggir jalan kota itu.
"Altar menaikan kembali kaca mobil agar matahari tidak mengenah wajah istrinya.
"Kak Altar kok dinaikin sih? Ais kan mau lihat bangunan bangunan di kota ini," ketus Aisha pada Altar.
"Mending lihat gue aja dari pada liat luar ga menarik," timpal Altar.
__ADS_1
"Mang eak?" seru Aisha.
"Siapa yang ngajarin ngomong kaya gitu?" ujar Altar tidak suka mendengar perkataan istrinya.
"Evan sama Vier. Ais dengar mereka jadi Ais ikutin, kata kata nya keren, bagus," jawabnya dengan polos.
"Ga bagus, lain kali jangan ikutin omongan mereka yang sesad," balas Altar. Aisha hanya mengangguk mematuhi ucapan suaminya.
"Yaudah kak Altar juga jangan bicara kotor lagi, gabaik. Dalam islam kita gaboleh ngomong seperti itu nanti lidah kakak dipotong tau pas diakhiran nanti," jelas Aisha memberi tau suaminya.
"Nanti gue usaha in," balas Altar.
"Harus!" timpal Aisha. "Ais sering kali dengar kakak bicara sebutan hewan, itu gabaik apalagi ngucapinnya pada sesama manusia."
"Iya sayang," ujar Altar memutar bola matanya.
"Kak Altar ngapain bawa payung?" tanya Aisha disaat melihat Altar mengeluarkan payung dari tempat duduk belakang.
"Nanti lo kepanasan," jawab Altar.
Aisha menarik nafas dalam dalam. Perhatian sih perhatian tapi, perhatianya berlebihan.
"Makasih kak Altar." Aisha hanya tersenyum terpaksa dibalik cadar nya.
"Jangan jauh jauh dari gue!" peringat Altar menarik lengan istrinya disaat sudah turun dari mobil.
Altar pun senantiasa seperti pengawal memayungi majikanya yang sedang berbelanjaa.
"Kak Altar boleh beli itu?" tunjuk Aisha disaat melihat penjual cimol.
__ADS_1
Altar hanya berdehem. Mereka pun kepedagang kaki lima yang menjual cimol.
"Kang, cimol nya 5k iya!" ujar Aisha berbinar didepan pedagang cimol itu.
Altar hanya geleng geleng kepala.
"Eh pengawal mbaknya ganteng banget, sia sia banget cuman jadi pengawal, mending jadi suami anak saya deh mas. Mas gaperlu bekerja tinggal dirumah aja gapapa," sahut ibu ibu pedagang sebelah.
Aisha seketika menahan tawanya mendengar suaminya dikatain pengawal.
"Saya su-" ucapan Altar terpotong karena kang penjual cimol.
"Ini bumbunya pedas apa manis?" tanya kangnya.
"Manis aja dia gabisa makan pedas pedas,"tutur Altar.
"Ga kang, campur aja," sela Aisha.
"Gaboleh Sha," ujat Altar pada istrinya.
"Ga terlalu pedes kok kak!" jawab Aisha. "Yakan kang?" Aisha menaikan turun kan alisnya, agar kang cimol mengangguk. Akhirnya pun kang cimol itu mengikuti perintah Aisha.
"Kan?" ujar Aisha pada suaminya. Altar pun hanya bisa berdehem.
"Kalian suami istri iya? Cocok banget," sahut ibu ibu yang ikut membeli cimol.
"Makasih bu," ujar Altar.
"Wah dunia sangat sempit iya! Kemana mana Bertemu," ujar seseorang tiba tiba.
__ADS_1