
"Bukan gitu maksudnya, kak Altar," sahut Aisha.
"Terus apa? Mbaknya, nyuruh kamu nyari yang lain, kan udah ada aku, kenapa nyari lagi?" tanya Altar.
"Maksud Mbak kasirnya, apa lagi yang mau di beli! Selain pembalut, kak Altar!" jelas Aisha. "Bukan, nyuruh Aisha nyari cowok lain!"
Mendengar penjelasan istrinya. Altar refleks menggaruk tengkuk lehernya.
Mbak kasir itu hanya tersenyum, lalu memberikan belanjaan mereka. Yang sudah di total, dan di bayar.
"Kakak, gak tau!" bisik Altar.
"Makanya, jangan langsung salah paham!" celetuk Aisha.
Di saat ingin keluar dari supermaket, Aisha kembali membalikan badannya.
"Kenapa?" tanya Altar.
"I-tu," tunjuk Aisha, keluar dari supermarket itu.
Altar seketika ikutan panik. Di saat melihat, Alma dan Kiara, sedang mengomeli tukang parkir supermarket.
Altar dan Aisha, bingung mau ngelakuin apa, agar Alma, Kiara. Tidak curiga atau mengetahui hubungan mereka berdua.
"Gimana nih, kak?" tanya Aisha panik.
"Coba, kamu keluar duluan, nanti kakak nyusul!" saran Altar.
"Bakal berhasil?" tanya Aisha memastikan. Dan hanya di angguki ragu oleh Altar.
"Sha," panggil Altar, di saat Aisha sudah ingin, keluar dari supermarket.
"Kenapa kak Altar?" tanya Aisha. Membalikan badannya kebalik.
__ADS_1
"Ini." Altar, menunjukkan kantong plastik berisi pembalut, yang dia Pegang.
Aisha menepuk jidatnya, lalu mengambil kantong plastik itu.
"Gue tanya deh pak! Di sini bapak di gaji gak, sama pemilik supermarketnya?" tanya Alma.
Bapak-bapak tukang parkir itu, hanya menggeleng.
"Terus kenapa, bapak, rela panas-panasan, cuman ngejaga, supermarket ini?" tanya Kiara.
"Iya! Bapak gak ngejaga supermarketnya, tapi motor yang terparkir di sini!" jawab tukang parkir itu.
"Terus, kalau ada preman yang ingin mengambil salah satu motor di sini, bapak lawan gak, premannya?" tanya Kiara lagi.
"Gak lah! Cuman ngejaga! Kalau motornya di ambil preman itu, mana mau saya lawan. Saya aja takut!" jawab tukang parkir itu.
"Aelah, payah," cibir Alma dan Kiara, secara bersamaan.
Alma menoleh kekanan. Dan tidak sengaja melihat Aisha.
"Ais," panggil Kiara juga.
Aisha pun pura pura, seperti baru melihat mereka berdua, agar tidak di curigai.
"Kalian." Aisha berjalan kearah, ke dua temannya.
"Lo juga ada di sini, beli apa?" tanya Kiara.
"Ini." Aisha memperlihatkan, kantong plastik itu pada kedua temannya. "Tadi Ais, habis beli pembalut," lanjutnya.
Kiara dan Alma, hanya manggut manggut mengerti.
"Terus kalian?"tanya Aisha. Melirik ke dalam supermarket, dan mengode Altar agar segera keluar. Untungnya Altar paham dengan kodean istrinya.
__ADS_1
Altar pun dengan perlahan, keluar dari supermarket. Seperti seorang pencuri, yang takut ketahuan oleh pemilik rumah.
"Ini, sebenarnya, gue sama Alam goib mau beli cemilan, tapi sempat mewawancarai dulu, tukang parkirnya," jawab Kiara.
"Astaga, kalian ada ada aja. Masa tukang parkir di wawancarai, gak ada kerjaan banget," kata Aisha.
"Emang. Kerjaan kita cuman rebahan, sampai tulang encok, tetap pantang menyerah," balas Alma.
Aisha hanya menggelengkan kepalanya. Gak temannya, gak teman Altar. Kelakuan tidak ada bedanya.
"Iyaudah, kalau gitu aku pamit duluan iya," pamit Aisha.
"Eh, bentar." Alma menarik tangan Aisha. Membuat Aisha, menelan salvinnya.
"I-ya, kenapa Alma?" tanya Aisha.
"Lo, gamau nih, ajak kita berdua ke rumah lo?" tanya balik Alma.
Aisha terdiam. Gimana dia bisa mengajak kedua temannya, ke rumahnya dan Altar?
"Hem, bukannya Aisha gak mau, tapi di rumah sedang ada acara. Lain kali aja iya! Kalian datang berkunjung ke rumah Ais," jelas Aisha, berdusta.
"Iyaudah deh, tapi nanti kabarin iya Kalau acaranya sudah selesai. Kita berdua mau main ke rumah lo," jelas Kiara.
Aisha hanya mengangguk.
Di saat ingin melangka pergi. Tiba tiba Alma memanggilnya lagi.
"Kenapa lagi?" tanya Aisha.
"Itu belakang lo, warna merah!" jawab Kiara.
"Warna merah maksudnya?" tanya Aisha kembali, bingung dengan ucapan temannya.
__ADS_1
"Lo tembus, Ais," jawab Alma.
Mendengar itu, Aisha langsung panik. Namun tiba tiba seseorang menutupi belakangnya, menggunakan jaket.