Badboy Suamiku

Badboy Suamiku
~Badboy Suamiku •Chapter 85•


__ADS_3

Aisha sudah berada di dapur pagi-pagi ini, bersama sang suami yang terus memeluknya dari belakang.


Aisha mendongok ke samping dan mencium sekilas bibir sang suami. "Sana ah, susah masaknya!" pinta Aisha.


"Gak mau," jawab Altar, menggeleng.


Altar mematikan kompor, membalikan badan istrinya ke arahnya.


"Minum susu yang kakak buat dulu sayang," pinta Altar dengan suara seraknya.


Aisha menggeleng. "Gak mau," celetuk Aisha manyun.


"Cepatan, terus pake cadar kamu, kamu ingat kan kalau di rumah ada teman-teman kakak?"


Aisha pun terpaksa mengambil susu, yang sudah di buat oleh suaminya.


"Kak Altar, mah Ais kan dah bilang Ais gak suka sama susu rasa vanilla kok belinya ini?"tanyanya mengerutuk.


"Kakak gak tau, di sana cuma ada dua rasa, rasa coklat dan vanilla aku kira susu buat orang hamil tuh bagusnya rasa vanilla biar anaknya putih mening," jelas Altar.


Aisha mencibikkan bibirnya, menarik nafas dalam-dalam dan membuangnya, mencoba meminum susu pemberian Altar.


Belum di minum, Ais sudah merasa mual.


"Ganti! Ais gak suka!"


"Yaudah, nanti kakak ganti!" ujarnya menyimpan susu tadi ke atas meja.


"Kakak tinggal dulu ya? Mau bangunin yang lain," izin Altar. "Cadarmu, jangan lupa di pakai!" pesan Altar dan hanya mendapatkan anggukan.


Saat asik masak, tiba-tiba sudah pada ribut ulah teman Altar.

__ADS_1


"Bu ketua, Evan bisa bantu apa?" tanya Evan yang menyuci wajahnya di kran.


"Eh, gak usah kamu duduk aja, biar aku aja!" tolak Aisha.


"Gak papa, bu ketua biar kami bantu," timpal Kendra.


"Yaudah, Kendra tolong potong sayur-sayurnya kalau bisa!"


Kendra mengangguk menaikan jempolnya.


"Evan, tolong beri salam ke itu..." tunjuk Aisha pada wajan yang berisi daging di atas kompor.


Evan mengangguk. "Asslamualaikum," ucap lelaki itu.


Aisha yang mendengarnya menepuk jidat.


"Daun salam maksudnya, Evan," celetuk Aisha, tak habis pikir.


Aisha menggeleng. "Serah kamu lah Evan, Aish enek!" cerca Aisha.


Vier dengan wajah bantalnya, belum sepenuhnya sadar, duduk di kursi makan.


Dia melihat susu di meja dan menenguknya dengan perlahan sehingga jangkutnya naik turun.


"Kok enak, tapi rasa rada-rada lain ya?"gumamnya, namun tetap melanjutkan meminumnya sampai habis.


Altar yang melihatnya refleks mengambil gelas itu dan menoyor kepala sahabatnya.


"Ini, susu buat orang hamil anjir," pekik Altar sehingga Vier membulatkan matanya.


"Yang benar loh? Kalau gue hamil gimana? Gue kan bukan banci." Panik lelaki itu.

__ADS_1


Cakra ikutan duduk. "Kenapa sih lo?" tanyanya, merasa pening di era kepala.


"Noh, minum susu hamil," celetuk Altar, menunjul Vier.


"Mampus, aw awas hamil anaknya samsunding." Cakra membuat Vier semakin panik.


"Lo mah, bikin panik," ketus Vier merai segelas air di atas meja, namun Cakra mengambilnya lebih dulu dan meneguknya sampai habis.


"Sialan!" umpat Vier. "Teman lucnuk," lanjutnya, berjalan ke arah dapur, sambil memegang pinggangnya yang masih terasa sakit.


*****************


"Eh, Tar jumat besok kita udah berbagikan ya? Lo dan bu ketua harus ikut!" pinta Cakra.


"Berbagi apa?" tanya Aisha menuangkan nasi ke arah piring suaminya.


"Kita berniat, jumat besok akan membagi rejeki ke anak-anak jalanan di luar sana yang butuh makan," jawab Vier.


Aisha mengangguk. "Wah benarkah?" tanya Aisha berbinar, tak percaya.


Mereka mengangguk." bukan cuma kita aja berlima, tapi satu geng Aodra," jelas Kendra. "Ini ide suami lo, dia juga yang donasi," lanjutnya.


Aisha menatap suaminya, Altar yang di tatap mengangguk.


"Wah, suami aku memang hebat. "Aisha memberi jempol ke arah suaminya. "Aisha ikut ya!" pintanya.


Altar mengangguk.


Aisha bersorak hore di dalam hati, dia sangat suka berbagi rejeki pada anak-anak jalan di luar sana yang butuh makan.


"Eh apa itu? Gue juga ikut dong!"sahut seseorang yang tak lain adalah Gea.

__ADS_1


"Astaghfirullah neng, kalau datang tuh permisi atau beri salam, jangan seperti jalangkung!" celetuk Kendra.


__ADS_2