Badboy Suamiku

Badboy Suamiku
~Badboy Suamiku •Chapter 88•


__ADS_3

Saat ini Altar sedang menyuci pakaian di bantu dengan do'a oleh istrinya, yang terus saja mengawasinya di sana.


"Kan, bisa langsung di kasih turun di mesin cuci aja, sayang," keluh Altar.


"Tidak! Kalau langsung di kasih turun di mesin cuci, masih ada daki dan kotorannya, Ais gak suka itu," tekan Aisha. "Jadi kakak gak ikhlas? Yaudah biar Ais ajak yang cuci," sambung wanita itu beranjak dari duduknya ingin mengampiri Altar.


"Berhenti!" pinta Altar, sehingga Aisha memberhentikan langkahnya. "Gak usah maju, biar kakak aja yang nyuci, di sini licin nanti kamu kepeleset,"cegah Altar.


Aisha menghela nafas lalu mengangguk, dia duduk kembali di kursi yang sudah di siapkan oleh suaminya.


Aisha terus saja mencuri pandang ke arah Altar.


"Tampan," ujarnya keceplosan bahkan sang empuh pun mendengarnya.


"Tampan?" tanya Altar, di angguki oleh Aisha.


Altar tersenyum, pipinya memerah bak kepiting rebus.


Banyak yang mengakuinya tampan namun, akuan dari istrinya lah yang mampu membuat seorang Altar salting.


"Yah, kak Altar salting," ledek Aisha tertawa renyah.


Altar mencibikkan bibirnya. "Gak, tuh," dustanya.


"Masa? Gak percaya Ais mah!" cerca Aisha, memicingkan mata ke arah suaminya.


Altar mengusap kasar pipinya, yang memerah. "Gak!" celetuknya. "Jangan Di lihatin terus," tegur Altar benar-benar di adu mekanik oleh istrinya.


Aisha terkekeh lalu membuang pandangannya ke arah lain.


Altar pun melanjutkan menyuci pakaian hingga selesai, sehabis itu dia di bantu istrinya menjembur pakaian.


Altar mengibaskan pakaian istrinya sehingga air yang belum di peras terkena wajahnya.

__ADS_1


Aisha yang melihatnya terkekeh sambil menghampiri suaminya, dan melap wajah sang suami menggunakan kerudungnya.


"Makasih," kata Altar mencium sekilas pipi chubby tersebut.


Mereka pun menyelesaikannya bersama-sama hingga selesai.


Sesudanya, mereka memutuskan untuk istirahat.


Altar memangku istrinya yang sedang mengiringkan rambutnya.


"Sayang, sehabis ini kamu siap-siap, kita ke dokter memeriksa kandungan mu," sahut Altar.


Aisha mengangguk. "Terus, ke rumah mamah dan papah, ya?" tanyanya. "Ais mau beri tau mereka, berita bahagia ini."


Altar mengangguk dia menyipitkan anak rambut istrinya ke belakang.


"Aku kangen umah dan abi, sekarang kondisinya gimana ya? Semoga aja abi cepat sembuh biar dia bisa lihat cucunya," ujar Aisha.


"Hem, lain waktu kita jengukin mereka ke sana ya!"


"Ayo siap-siap, cepat."


"Kakak aja, Ais malas," jawab Aisha manyun.


"Kakak aja, yang siap-siapin?" tanya Altar memastikan.


Aisha mengangguk.


********************


"Kandungan Ais sehat, tetapi jangan bekerja terlalu berat, dan melakukan hal-hal yang membuat lelah," jelas dokter. "Karena kehamilan Ais adalah kehamilan muda, jadi gampang memicu keguguran, Altar jaga terus istri mu," lanjut dokter yang merupakan tantenya Altar.


Altar mengangguk, terus menggengam tangan istrinya erat.

__ADS_1


"Kehamilannya, sudah dua minggu," ucap dokter lagi.


"Dua minggu?" tanya Altar menoleh ke arah Aisha dan dokter karen.


Dokter itu tersenyum, mengerti isi pikiran Altar. "Kalian berhubungan di waktu Aisha berpas-pasan selesainya mestruasi, memasuki masa subur, jadi gak perlu traveling kemana-mana kamu Altar."


Altar yang tadinya menegak langsung merileskan badannya mendengar tuturan sang tante.


Lelaki itu menggaruk belakang kepalanya.


Dokter Karen memicingkan matanya ke arah keponakannya tersebut. "Ais, suruh suami mu ini puasa, sampai kamu melahirkan ya! Kamu hamil muda jadi tak boleh melakukan hubungan intim!" Dokter Karen niat mengerjai keponakannya.


Aisha mengangguk malu-malu.


Altar yang ingin protes namun mengurungkan niatnya.


Di jalan wajah Altar terlihat kusam, tidak ada tanda-tanda kehidupan.


Aisha memeluk pinggang suaminya. "Lemas, lotoy banget kelihatannya," ejek Aisha melihat pantulan wajah suaminya di kaca spion motor.


"Yah, masa puasa," keluhnya pada sang istri.


Aisha mencubit pelan perut Altar.


"Bisa krimis dong," lanjutnya mengeluh.


Beberapa saat kemudian, mereka pun sampai di kediaman Geutama.


"Asslamualaikum," ucap mereka, dan tak lama datanglah Marwa.


"Walakaikumsslam, menantu Mama," seru Marwa berlari memeluk menantunya, mengajaknya masuk meninggalkan anaknya sendiri di luar.


"Anaknya, aku atau Aisha sih?" gerutu Altar makin kesal.

__ADS_1


...----------------...



__ADS_2