
Anggota Aodra pun berpencar di jalan dan mencari anak-anak yang biasanya ngamen atau menjual tisu dan lain-lainnya, bukan cuman anak-anak, pengemis orang dewasa pun mereka bagikan dengan tulus.
Begitupun dengan Aisha saat ini, dengan di kawal beberapa anggota geng motor suaminya, ada yang memayungi, mengangkatkan berbagai sembako. Pokonya sekitar lima orang yang mengawasinya saat ini. Menurut Aisha itu sangatlah terlihat lebay dan berlebihan namun bagaimana lagi mereka semua tetap kukuh untuk melakukannya.
"Halo, dek," sapa Aisha berjongkok di depan anak-anak yang masih perkiraan berumur 6-8 tahun.
Aisha mendongak ke atas. "Boleh minta tisu gak?" tanya Aisha.
Tono yang di tanya pun mengangguk, dia memberikan tisu kepada Aisha.
Aisha tersenyum dan kembali menatap ke arah anak yang ada di depannya.
Tanpa merasa jijik, Aisha membersihkan ingus anak di depannya
Bocah yang di perlakukan oleh Aisha hanya tersenyum. "Makasih, kakak baik," sahut bocah perempuan tersebut.
"Kamu, cuma sendiri?" tanya Aisha.
Bocah itu mengangguk.
"Kakak punya sesuatu buat, adek," seru Aisha membuat bocah yang ada di depannya kegirangan. "Tapi ada syaratnya, loh..."
Gadis kecil itu mengejapkan matanya ke arah Aisha. "Apa, kakak cantik?" tanyanya penasaraan.
"Kakak mau ngasih pertanyaan buat adek, kalau jawaban adek benar, kakak kasih yang di pegang mereka," jawab Aisha.
Dia menoleh ke arah kelima lelaki yang ada di samping dan belakang Aisha, yang masing-masing memegang kantong plastik merah.
Bocah itu mengangguk. "Mau kak."
__ADS_1
Aisha mengusap dagunya yang ketutup cadar, mengekspersikan sedang berfikir.
"Adek, agamanya apa?" tanya Aisha.
"Islam, kak."
"Ok, kakak mau nanya sama adek, nama ayah nabi Ismail a.s siapa?"
Bocah itu nampak diam dan berfikir keras.
"Nabi Ibrahim a.s!" jawab bocah itu, akhirnya.
Aisha menutup mulutnya. "Wah, jawaban adek tepat. Jadi sesuai apa yang kakak tadi bilang kalau kamu menang kakak kasih...?"
"Sesuatu," jawabnya dengan gembira.
"Di sini kakak mau nanya lagi," seru Aisha. "Nama adek, siapa?"
"Aqila? Nama yang cantik, sama kaya orangnya," seru Aisha.
"Kakak juga cantik," balas Aqila memegang tangan Aisha.
Aisha menoleh ke arah Marwel, dia mengambil kantong plastik dan memberikannya pada bocah bernama Aqila.
"Ini, apa kakak cantik?" tanya Aqila.
"Itu, sembako dari kakak-kakak yang ada di belakang aku," jawab Aisha. "Semoga Aqila suka ya! Bisa kasih ke keluarga Aqila," sambungnya.
Aqila mengangguk gembira. "Pasti nenek di rumah sangat senang kak, bisa dapat ini buat makan bebebapa hari ke depan, tidak susah paya mencari uang dengan cara jual koran," gumam bocah itu membuat air mata Aisha tiba-tiba terjatuh.
__ADS_1
"Aqila, cuma tinggal sama nenek?" tanya Aisha.
"Ya kak, aku cuma tinggal sama nenek."
"Neneknya sehat?" tanya Aisha lagi.
Aqila menggeleng. "Nenek Aqila cacat kak, kaki kanan nenek lumpuh, kata dokter harus di operasi tapi nenek gak punya uang untuk biaya operasi kakinya," jelasnya.
Aisha benar-benar merasa ibah dengan anak yang ada di depannya. Kapan lagi kalian bisa bersyukur dengan apa yang ada? Jangan menyia-nyiakan hidup kalian yang sudah lumayan, ingatlah di luar sana masih banyak orang yang lebih dari bawah mu.
"Masy-Allah," ucap Aisha. "Maafin hamba ya Allah, kalau selama ini hamba masih merasa gak bersyukur tentang apa yang Ais punya," sambungnya dalam hati.
Aisha memeluk tubuh kecil bocah itu. "Aqila mau gak, temanin kakak ketemu sama neneknya Aqila?" tanya Aisha.
Gadis kecil itu menghapus air matanya. "Boleh," serunya.
Aisha tersenyum dan menuntut Aqila berdiri.
"Tapi, kamu ikut kakak dulu ya! Kakak mau panggil suami kakak dulu."
Aqila hanya mengangguk, mereka pun mencari keberadaan Altar sampai ketemu.
Beberapa saat Aisha pun menemukan keberadaan sang suami.
Aisha langsung menghampiri Altar yang sedang beristrahat di pinggir jalan.
"Kak Altar," panggil Aisha berlari kecil.
Altar yang mendengar suara istrinya menoleh dan langsung berdiri.
__ADS_1
"Hati-hati sayang, kalau kamu jatuh gimana!" cerca Altar.
"Kak Altar, lihat dia namanya Aqila." Aisha memperkenalkan gadis kecil yang sedang dia gandeng tangannya.