
"Kok, udahan sayang? Ayo makan yang banyak, kakak suapin ya?" tanya Altar.
Aisha menggeleng. "Udah kak, Ais sudah kenyang," tolaknya.
Aisha menghela nafas menatap makanan yang sudah dia masak begitu lama. Dengan berat hati Aisha membereskannya, menyatuhkannya dan ia akan memberikannya pada Mang Ujang untuk bawa pulang aja, mubazir kalau di buang padahal belum di sentuh.
"Biar, ku bantu ya!" ujar Altar, membantu istrinya membersihkan.
"Makasih," ucap Aisha hanya tersenyum tipis.
Altar mengangguk.
Setelah selesai membersihkan, Altar mencuci tangannya dan mendekati istrinya.
"Sayang, maaf," bisiknya.
"Gak apa-apa, kak," jawab Aisha. "Aku ke kamar ya! Kamu ajak Gea aja di bawah, kasian, nanti biar aku yang nyusun barang-barangnya." Aisha berusaha menahan air matanya.
Altar hanya mengangguk, sebelum pergi Altar mencium sekilas pipi sang istri lalu tersenyum tipis.
Aisha hanya menghela nafas, berlari menaiki anak tangga menuju kamarnya.
Setelah sudah berada di kamar, Aisha mengunci pintu.
Tubuhnya sangat capek, tadi tangannya pas lagi motong bawang ikutan tergores namun mungkin Altar tidak melihatnya.
"Harus sabar ok? Dia juga gak terus-terusan memperhatikan ku 24 jam!" Aisha berusaha menyemangati dirinya sendiri.
Dia mulai mengambil buku catatannya. Memilih belajar, fokus untuk ujian akhir minggu depan.
__ADS_1
Karena merasa sudah menguasai pelajaran, Aisha menyimpan buku-bukunya kembali, sekarang dia akan menyusun barang-barang sepupu suaminya.
"Sebenarnya gak pengen, tapi gak ada kerjaan juga, ikut gabung bikin sakit aja," gumamnya.
Aisha masuk ke dalam kamar tamu, dia membereskannya, menyusun pakaian Gea membersihkan tempat tidur, dan memasangkan seprai.
Sekitar hampir dua jam akhirnya dia sudah selesai, barang-barang Gea begitu agak banyak.
Tanpa sadar dirinya tertidur di sofa, efek kecapean.
Di sisi lain di mana ada Altar dan Gea yang berada di ruang tamu, sedang bermain game bersama, hingga lupa waktu sudah menunjukan pukul 15:14 WIB.
"Gue naik dulu!" ujar Altar menaro ponselnya di atas nakas.
Gea tersenyum sinis, dia merai ponsel Altar yang belum di matikan jadi otomatis belum kekunci.
Altar dengan pelan membuka pintu kamar tamu, terlihat lah istrinya yang tertidur di sofa, tangannya masih memegang sapu lidi.
Altar tersenyum mendekati istrinya yang begitu mengemaskan saat tidur.
"Cantik," pujinya, mengangkat tubuh kecil istrinya menuju kamar.
Sesampai di kamar. Altar tidak ingin membangunkan istrinya, dia akan memberinya beberapa menit lalu membangunkan untuk sholat adzar.
Altar tidak henti-hentinya memandang wajah tanpa noda yang ada di depannya, wanita cantik yang mampu meluluhkan seorang Altar Calvin Geutama.
"Aku tau kok, akhir-akhir ini kamu bedmood sama kakak, maafin kalau kakak ngeselin," ujarnya.
"Kelihatan banget capeknya," lirih Altar tersenyum, sambil menoel-menoel hidung mancung istrinya.
__ADS_1
Karena ulah Altar, membuat Aisha terganggu dan terbangun.
Aisha menengok ke atas, langsung beranjak.
"Kenapa?" tanya Altar bingung.
Aisha hanya menggeleng. "Maaf, Ais mandi duluan ya!"
Aisha buru-buru mengambil baju rumahan bergambar pororo, dan berlari masuk ke dalam kamar mandi.
"Dia kenapa?" tanya Altar bingung.
Altar pun ikut beranjak bangun, dia berniat kali ini menyiapkan alat sholat untuknya dan istrinya.
Saat asik memilikan mukena untuk Aisha, tiba-tiba suara bunyi ponsel terdengar.
Altar melirik sekilas ke arah ponsel sang istri, karena tidak terlalu kelihatan pesannya, akhirnya Altar merai ponsel tersebut dan membuka ponsel Aisha.
"Siapa dia? Nomor baru tapi dari pesan terakhirnya begitu mesra," gumam Altar.
Altar melirik ke kamar mandi, dengan ragu dia memencet pesan tersebut.
Dari pesan pertama membuat Altar memanas, bahkan dia meremas dengan kuat ponsel tersebut.
Aisha merebut ponselnya yang di pegang oleh Altar. "Kenapa?" tanya Aisha.
Tangan Altar dia kepal dan memandang Aisha dengan begitu marah.
"Ka-k Al-tar," panik Aisha mundur merasa takut dengan tatapan Altar.
__ADS_1