
Sesampainya di Vila. Atlanta benar-benar merajuk dengan Leana. Bahkan, Leana yang meminta tolong untuk membuat sarapan pun, laki-laki itu seakan menulihkan pendengaranya dan malah tidur di ranjang sampai semalaman.
"Sayang, bangun yok. Kita makan dulu," ajak Leana mencolek lengan Atlanta yang sedang tidur dengan selimut di tubuhnya.
"Sayang," panggil Leana lagi. "Ayo bangun, ih. Kita makan dulu, sayang," ucap Leana.
Atlanta hanya membalikan wajahnya ke kanan, dan tidak ingin ditatap oleh Leana. Leana yang sudah paham jika suaminya saat ini sedang ngambek langsung saja menghela napas panjang.
"Kalau udah makan, nanti aku kasih jatah. Sebagai tanda terima kasih juga buat nemanin ketemu ayang Jeno," ucap Leana membuat Atlanta mendongak. "Ayo makan dulu."
"Jenok bukan ayangmu!"
"Udah-udah yang penting aku adil, jeno pacarku kamu suamiku," ucap Leana mencium pipi suaminya.
Namun, laki-laki tersebut masih dengan posisinya, tak ingin beranjak dari tidurnya. Dia menutupi wajahnya dengan bantal.
"Kamu kok kaya anak kecil sih? Kamu pasti tahu, jika Jeno juga tidak akan aku gapai, dia tidak akan mau sama kau ngapain cemburu? Aku cuma pengemarnya saja, orang yang aku cintai tetap kamu, sayang," bujuk Leana naik ke atas ranjang dan melompat ke atas tubuh Atlanta.
Atlanta menatap istrinya, Leana pun langsung memeluk laki-laki yang merupakan suaminya.
"Jangan cemburu lagi, sayang," ucap Leana.
"Aku bakal tetap cemburu dan ngambek sama kamu!"
"Kenapa?"
"Supaya dapat jatah terus-terusan," jawab Atlanta membuat Leana memutar bola matanya malas.
"Yaudah, kita makan dulu," ajak Leana ingin beranjak bangun dari atas Atlanta. Namun, Atlanta buru-buru menariknya sehingga kembali memeluk dada Atlanta.
"Kamu ngerasakan ada yang bangun? Seharusnya kamu mengerti," ucap Atlanta dengan lemas. Apalagi saat ini milik Leana sudah pas di milik Atlanta. Sedikit lagi diterkam itu.
Dengan nakalnya, Leana malah memukul junior Atlanta yang tertutup celana jeans membuat Atlanra meringis kesakitan.
"Kamu baperan banget, sih. Gitu aja langsung bangun," ketus Leana. "Aku lapar mau makan dulu, barulah kita main enak-enakan, sayang."
"Benaran?"
Leana menganggukan kepalanya. Setelah terlepas dari pelukan Atlanta, Leana segera bangkit dari sana dan keluar dari kamar, Atlanta pun ikut di belakangnya.
__ADS_1
"Kenapa buru-buru banget sih makannya?" tanya Leana melihat sang suami begitu cepat.
"Selesai makankan kita main enak-enak," jawab Atlanta.
Leana hanya menggelengkan kepalanya saja lalu fokus makan, daripada terus saja meladengi otak mesum sang suami. Jika sudah bersangkutan ke sana, laki-laki tersebut landhung saja semanhat lapan dua.
Leana belum selesai minum pun, Atlanta sudah menggendongnya masuk ke dalam kamar. Nanti akan ada maid vila tersebut yang akan membersihkannya.
"Astaga." Leana meringis saat badannya mendarat di ranjang, karena perbuatan suaminya yang melemparnya.
Atlanta melepaskan pakaian yang digunakan lalu mulai merangkak naik ke atas ranjang. Dia memagut dengan kasar bibir istrinya membuat Leana sulit membalasnya.
Leana mengalungkan tangannya di leher Atlanta. Dia terus saja mengeluarkan suara-suara lucnuk saat Atlanta mulai menjajah tubuh mulusnya.
"Uh..." Leana merem-merem merasakan sentuhan suaminya. Apalagi saat Atlanta sudah berada di daerah sensitifnya.
"Atlanta, cepatan," pinta Leana sudah tak tahan.
"Nanti kamu kesakitan, sayang," jawab Atlanta dengan suara seraknya dan kembali melakukan aktivitas pemanasannya.
Leana menggigit bibir bawahnya dan meremas sperai dengan kuat-kuat. Dia tidak mengeluarkan suara lucnuknya, karena mendengar suara langkah kaki, yang mungkin maid sedang membersihkan di luar.
"Nanti kedengaran sama maid sampai di luar," jawab Leana.
"Biarin aja, sayang. Mereka pasti ngerti kok," ucap Atlanta kembali mencium dengan lembut bibir istrinya.
"Uh..."
Atlanta menaikan kedua kaki istrinya di bahu, dan membuka paha Leana dengan lebar. Atlanta menarik tangan Leana untuk memegang juniornya, Leana pun sempat terkejut.
"Coba kamu masukin, sayang," pinta Atlanta.
Leana mendongakan kepalanya ke bawah dan memasukan junior Atlanta ke dalam miliknya. Leana meringis dan menggigit bibir bawahnya.
"Mau di atas enggak?" tanya Atlanta. Perlahan Leana mengangguk-anggukan kepalanya, dia tidak pernah memimpin jadi dia ingin mencobanya.
Atlanta pun berpindah ke bawah dan mendudukan istrinya di perutnya.
"Coba puasin aku!" perintah Atlanta.
__ADS_1
Leana pun menganggukan kepalanya. Dia mulai melakukan aksinya membuat Atlanta kagum dengan tingkah istrinya.
"Iya, begitu lebih cepat, Na," pinta Atlanta. Leana pun hanya menuruti permintaan Atlanta.
Tok-tok!
Drttt!
Ketukan pintu serta suara ponsel berbunyi membuat pasangan tersebut menghentikan aktivitas bermainnya.
"Udahlah di lanjut aja," pinta Atlanta. Kembali membalikan posisinya, di mana Leana kembali di bawah.
Leana meraih ponselnya di nakas dan melihat pesan masuk, sedangkan Atlanta masih melakukan aksi tabrak-tabrak masuknya.
"Diam, iya!" perintah Leana dan mulai menelfon ulang mertuanya.
"Assalamualaikum."
"Walaikumsslam, sayang. Gimana keadaannya kalian di sana?" tanya bunda Karen.
Leana mengode suaminya untuk berhenti sesaat, Atlanra pun hanya mengikut.
"Alhamdulillah, kami baik-baik saja, bunda."
"Kapan kalian pulang?"
"Enggak tahu bunda, kayanya Lea...Ha." Leana tidak sengaja mengeluarkan suara lucnuknya saat Atlanta menggoyangkan badannya.
"Leana apa kalian sedang?"
Leana mencubit dengan pelan pinggang Atlanta, dan tertawa kecil.
"Gimana sih bunda, pikirannya. Padahal kami sedang makan ini, tadi Atlanta cubit pipi Leana jadi Leana kaya gitu."
"Masa sih? Kok bunda enggak percaya, iya? Coba kita Vcan."
Mereka langsung kala kabut dibuat bunda Karen. Leana menatap suaminya, sedangkan Atlanta juga tak ingin menghentikan permainannya.
"Apasih bunda, mending bunda tidur deh. Kepo banget sama urusan orang, sudah dulu iya." Tanpa menunggu persetujuan bundanya Atlanta sudah mematikan sambungan telfon.
__ADS_1
Atlanta menyimpan ponselnya kembali ke nakas. Dan kembali melanjutkan tabrak-tabrak masuknya sampai tengah malam tiba.