
ilona tersenyum miris, di depan cermin. "Hei Ilona, lo sangat menawan dan cantik, dari pada gadis sok suci itu, lo bisa dapatin Altar kembali," ujar Ilona, memuji dirinya sendiri. "Wajahnya di tutupin, pasti hidungnya cungkal, hahahah." Ilona membayangkan, wajah jelek Aisha, yang selalu di tutupi, di balik kain cadarnya itu.
"Palingan, Altar cuman bikin dia pembantu di rumahnya." Ilona makin membayangkan, Aisha di siksa di rumah Altar, hati kecilnya, tertawa terbahak-bahak.
"Gue, yakin hari ini, Altar bakal perhatian sama gue," sambung Ilona, dengan yakinnya kalau, Altar, akan memperhatikan dirinya.
Gadis itu membalikan badannya, dan mengambil tas ranselnya, di atas meja belajar. Wajah Ilona hari ini, sangat ceria dan bahagia.
"Kejebak di toilet, ada untungnya," gumam Ilona. "Emang gue, penyakitan? Dih ogah, gue bukan orang penyakitan, entah siapa yang bilang kalau gue, mempunyai penyakit asma dari kecil? Ck," decek gadis itu, sambil menurungi anak tangga.
"Halo, Papah," sapa Ilona, mengcium pipi papanya.
"Kayanya, putri cantik papah, hari ini terlihat bahagia banget. Ayo apa penyebabnya?" tanya Dani, papa Ilona.
"Lona, udah baikan sama Altar, dan Cakra," jawab Ilona.
"Benarkah?" tanya Dani, mencium kening putrinya dengan lembut.
"Iya pah, doa'in, Lona ya, agar Lona bisa dapatin hati Altar," ujar Ilona pada sang papa.
"Pasti sayang, papah juga kangen lihat kalian berkumpul kaya dulu," balas Dani.
__ADS_1
Ilona anak piatu, mamanya sudah meninggal, di saat usianya menginjak sepuluh tahun. Sekarang dia cuman mempunyai Dani, yang berperan sebagai ayah sekaligus, ibu untuknya.
Ilona juga seorang anak tunggal seperti Altar. Tidak mempunyai saudara. Beda dengan Cakra, yang mempunyai, satu adik gadis, yang masih berusia empat belas tahun.
***********
"Perutnya masih sakit?" tanya Altar, yang duduk di tepi ranjang.
Aisha hanya mengangguk. Tidak biasa perutnya, sesakit ini, di saat, sedang datang bulan.
"Mau kedokter gak?" tanya Altar sekali lagi, namun kali ini, mendapatkan gelengan kepala, dari Aisha.
"Kakak berangkat ke sekolah aja, nanti juga sembuh kok," sahut Aisha.
Aisha menghela nafas. "Kakak pergilah ke sekolah, ada bik Indah yang akan menemani, Ais di sini, kakak harus belajar, sebentar lagi kita bakal ujian ke lulusan." Aisha berusaha membujuk, suaminya itu agar ke sekolah.
"Tapi, kakak gak tega, ninggalin kamu sendiri," kata Altar. Yang masih tetap dengan keputusanya, tidak ingin ke sekolah.
"Coba kakak, dekat sini," pinta Aisha. Altar pun hanya menurut, mendekatkan wajahnya ke arah Aisha.
Bik Indah, yang ada di sana, sudah siap menutup mata, di saat sudah yakin, bahwa Aisha ingin mencium Altar.
__ADS_1
"Kakak ke sekolah hari ini, setelah Ais kelar datang bulannya, Ais bakal memberi kakak hadiah," bisik Aisha, tepat di depan telinga Altar.
Altar menaikan satu alisnya, setelah mendengar bisikan dari Aisha. "Hadiah apa?" tanya Altar.
"Ada deh, yang jelas kakak bakal suka, tapi itu cuman berlaku, kalau kakak ke sekolah hari ini!" jawab Aisha, tersenyun smirk, ke arah Altar.
"Bibik, tau gak hadianya apa?" tanya Altar, pada Indah, yang masih menutup matannya. "Bibik, kenapa?" tanya Altar, lagi.
Indah yang sadar, refleks membuka matanya, dan langsung, cengar-cengir. "Tadi Den, ngomong apa?" Indah, balik bertanya.
"Udah ah, gak jadi," timpal Altar. "Kakak memilih tetap di sini, tidak mau ke sekolah."
"Yaudah, terserah, tapi jangan menyesal iya?" tanya Aisha, membuat Altar bimbang.
'Emang apa yang akan di berikan Aisha untuknya? Kenapa dia harus menyesal, kalau tidak mendapatkan hadiah itu?' Pikir Altar.
"Ayo, kak beneran gak mau?" tanya Aisha, yang melihat Altar yang terdiam.
"Ok, kakak ke sekolah, tapi janji iya! Kalau ada sesuatu kamu langsung nelfon kakak!"
...----------------...
__ADS_1