
Leana tidak tahu sekarang, di mana akan mendapatkan pekerjaan. Dia sangat sulit mendapatkan pekerjaan.
"Atlanta tega sekali," gumam Leana.
Sudah berhari-hari dia mencoba melamar pekerjaan, dan tidak ada satupun yang ingin menerima. Dia ingin menyerah namun dia teringat akan uang kontrakan.
"Di mana lagi aku harus melamar pekerjaan?" tanya Leana furstasi dia duduk di dekat halte bus.
Tiba-tiba dia melihat seseorang yang ingin di tabrak oleh mobil. Dan terlebih lagi, orang itu adalah Cila adik Atlanta. Dengan siagap Leana langsung berlari. Namun, kakinya malah terkilir.
Brak!
"Arggh."
"Cila," teriak Leana.
Leana berusaha bangun, dengan kaki gonta ganti dia berlari ke tengah jalanan. Hanya ada darah yang mengalir di tubuh gadis kecil itu. Itu membuat Leana sangat panik.
"Tolong," teriak Leana menggendong tubuh Celi dan meminta pertolongan.
Darah Cila terus mengalir. Membuat Leana semakin panik dan ketakutan. Beberapa orang yang berlalu lalang di sana segera menghampiri Leana dan membantunya membawa Celi ke rumah sakit.
Sesampainya di rumah sakit, bunda Karen terkejut melihat Leana sudah di penuhi darah.
__ADS_1
"Bu-nda," teriak Leana dengan air mata yang terus mengalir.
"Kenapa, kamu kenapa?" tanya bunda Karen.
"Celi." Leana menunjuk seseorang yang membawa Celi masuk ke dalam rumah sakit.
Deg!
Saat itu juga, tubuh bunda Karen terasa tak seimbang. Wajah putrinya sudah tak terlihat karena di penuhi darah.
"Celi," teriak bunda Karen hesteris mengambil ahli putrinya dan melarikannya ke ruangan darurat.
Satu dokter dan beberapa suster ikut masuk ke dalaam ruangan tersebut. Bunda Karen sambil menangis memeriksa putrinya.
Dokter yang bernama Cinta langsung mengambil ahli pekerjaan Karen. Sedangkan bunda Atlanta itu di bawa keluar dari ruangan. Di luar ruangan ada Leana.
"Lena," lirih bunda Karen memulik gadis itu. Leana pun senantiasa menerima pelukan bunda Atlanta tersebut.
"Telfon Atlanta," ucap bunda Karen memberikan ponselnya pada Leana.
Leana tanpa pikir panjanh langsung menghubunginya Atlanta. Tidak memikirkan bahwa keduanya sedang bertengkar hebat.
"Atlanta," ucap Leana.
__ADS_1
"Leana? Kenapa lo yang pegang ponsel bunda gue, di mana bunda gue? Dan kenapa lo menelfon?" tanya Atlanta.
"Itu gak perlu Atlanta, sekarang juga kamu datang ke rumah sakit xxxx. Cepat!" Setelah mengatakan itu Lenaa mematikan sambungannya telfon.
Atlanta yang sedang berada di cafe langsung saja menuju rumah sakit yang di beritahukan oleh Leana barusan. Sesampainya di rumah sakit. Dia melihat bundanya dan Leana di depan ruangan darurat.
Yang Atlanta herankan adalah Leana, pakaian gadis itu di penuhi oleh darah. Itu pun membuat laki-laki tampan itu sedikit khawatir dengan mantan kekasihnya. Sebenci-bencinya, sekceewanya dia dengan Leana, tapi gadis itu masih menjadi cinta Atlanta sampai sekarang.
"Leana kamu kenapa?" tanya Atlanta langsung bertanya pada intinya kepada Leana. Terlihat kepanikan diwajah laki-laki itu.
"Bukan aku! Tapi Celi," timpal Atlanta.
Atlanta seketik ngeblak sebentar, dia menoleh ke bundanya yang duduk di kursi sambil menangis terisak.
"Bunda ada apa ini?" tanya Atlanta pada bundanya, dia pun mendekati sang bunda.
Bunda Karen pun langsung memeluk putra sulungnya. Atlanta yang bingung hanya menerimanya.
"Adik kamu Atlan, dia..." Bunda Karen menunjuk ke dalam ruangan membuat Atlanta mengikut arah tunjuk bundanya.
"Jangan bilang, Celi..."
Bunda Karen menangis lalu menganggukan kepalanya. "Adekmu jadi korban tabrakan lari dekat halte bus," jawab bunda Karen.
__ADS_1