
Bunda Karen sekana mematung di tempatnya. Dia menatap lurus ke depan menatap laki-laki yang merupakan mantan suaminya itu.
"Mas Hendra, kamu benaran mas Hendra?" tanya bunda Karen saat seseorang itu mendekatinya.
Mahendra menganggukan kepalanya, dia tersenyum. Namun, bunda Karen malah tidak membalasnya, dia mengambil tasnya dan pergi dari sana.
"Karen," teriak Mahendra saat wanita tersebut berlari pergi. Mahendra pun langsung mengejar mantan istrinya.
"Karen," teriak Mahendra menarik tangan wanita tersebut sehingga memeluk dadanya.
Bunda Karen berusaha keluar dari dekapan laki-laki tua tersebut, tapi sangatlah sulit.
"Mas jangan seperti ini, kita sudah tak mempunyai hubungan apapun lagi!" ucap bunda Karen menggigit lengan Mahendra sehingga pelukannya terlepas.
__ADS_1
"Karen maafin, mas," ucap Mahendra.
Karen langsung terdiam mendengar kata maaf keluar dari bibir mantan suaminya. Usia Atlanta saat ini sudah 24-tahun, dan baru kali ini Karen mendengar kata maaf keluar dari bibir Mahendra pria kejam yang pernah dia kenal selama hidupnya.
"Kenapa mas menemuiku lagi? Kita sudah tak mempunyai hubungan apa-apa. Kalau hanya ingin meminta maaf, aku sudah memaafkan mas, aku mohon kepadamu jangan menampakan dirimu lagi. Jangan sampai kak Kana melihatmu."
"Terus kenapa kalau Kana akan melihatku? Apa dia ingin membunuhku? Ya enggak apa-apa dia bisa membunuhku, silahkan, tapi mas mohon kamu memaafkan mas dan biarkan mas melihat Atlanta dan adiknya."
Bunda Karen tertawa piluh dan berbalik menatap laki-laki tersebut. Tanpa sadar air matanya jatuh.
"Mereka anakku juga, Karen."
"Hahaha." Karen tertawa keras mendengar ucapan laki-laki tersebut. "HEY SIALAN, KAU TIDAK PUNYA HAK MENGAKUI KEDUA ANAKKU SEBAGAI ANAKMU. JIKA MEREKA ADALAH ANAKMU, DI MANA KAMU SAAT CILA DILAHIRKAN DI DUNIA INI? APA KAMU MELIHAT KEDUANYA TUMBUH DEWASA? APAKAH KAMU MEMBERI MEREKA NAFKAH?"
__ADS_1
Dengan dada yang naik turun, bunda Karen duduk perbatuan yang ada di sana. Laki-laki tua tersebut tidak tahu, gimana perjuangannya merawat kedua anaknya sampai tumbuh dewasa. Dan saat mereka sudah dewass, bisa-bisanya dia mengatakan bahws Atlanta dan Cila juga anaknya? Tidak, mereka berdua hanya anaknya seorang diri, ia sudah menjadi ibu serta ayah untuk kedua anaknya.
"Kamu tidak punya hak untuk menyebut kata anak kepada anak-anakku." Karen menunjuk laki-laki yang berada di depannya dengan air mata yang terus saja jatuh.
Sedangkan Mahendra hanya diam, mendengar ucapan perucapan Karen. Dia akui jika selama menikah dia tidak pernah membahagiakan hidup Karen.
"Maafin mas Karen, baikkah aku memang tidak pantas untuk di sebut ayah bagi mereka, tapi bolehkan aku bertemu dengan mereka berdua sekali saja?"
"Boleh, boleh banget. Mau bertemu dengan siapa dulu?" tanya Karen tersenyum tipis.
"Mas ingin bertemu dengan adiknya. Pasti dia sudah tumbuh menjadi seorang gadis cantik, wajahnya secantik wajahmu, Karen. Mas belum pernah ketemu dengannya, jadi izinkan mas untuk memeluknya sebelum Atlanta."
Bunda Karen menghela napas panjang, dia beranjak dari duduknya lalu mendekati Mahendra. Sebelum berucap, wanita yang usianya sudah tua tersebut tersenyum.
__ADS_1
"Mas benaran ingin bertemu dengan adiknya Atlanta? Apa kau ingin memeluknya?" tanya bunda Karen membuat Mahendra menganggukan kepalanya.
"Ya sudah ayo aku antar mas bertemu dengan kak Kana, biarkan kak Kana membunuhmu setelah itu kau bisa bertemu dengan Cila dan memeluknya."