Badboy Suamiku

Badboy Suamiku
~Badboy Suamiku •Chapter 56•


__ADS_3

Aisha terkejut saat ada tangan kekar memeluknya dari belakang. "Kebiasan," sahut Aisha, menoleh sekilas ke arah suaminya, lalu kembali menatap ke depan.


Aisha sedang berada di balkon.


Altar menghampirinya istrinya, karena sedari tadi hanya mendiam dan terus menghela nafas.


"Kenapa, hem?" tanya Altar.


Aisha menggeleng. "Tidak ada apa-apa," jawabnya, senyum kecut ke arah Altar.


"Jangan bohong, kakak tau kamu masih memikirkannya," ujar Altar. "Kakak mohon jangan diam seperti ini sayang, kakak takut kamu malah menjadikannya bahan pikiran."


Aisha menetap Altar. "Ais tidak akan melupakan kejadian yang menimpah Ais ini kak, namun Ais berusaha menanamnya dalam-dalam, cukup kakak ada di samping Ais, Ais akan berhasil," jelas Aisha.


Altar tersenyum. "Kakak selalu ada buat kamu, aku akan menyemangati istriku agar bisa menghilangkan kejadian tersebut dari pikirannya, kakak percaya istri kakak ini orangnya kuat," tutur Altar.


Aisha mengangguk, dia mengusap punggung tangan suaminya yang melingkar di pinggangnya.


"Ais memikirkan keadaan umah abi dan bang Rigel, Ais khawatir dengan mereka," ujar Aisha. "Walaupun Ais sudah membuang jauh-jauh pikiran buruk yang ada di kepala Ais, namun tetap aja kepikiran yang gak-gak."


"Kakak juga sama, apa kamu tau tempat biasa mereka inapin di sana?" tanya Altar.


Aisha menggeleng. "Ini pertamanya mereka ke kota jogja, dan bisa-bisanya mereka sama sekali tidak memberi tau kita."

__ADS_1


"Hem, semoga aja mereka tidak kenapa-napa," seru Altar, menggendong tubuh istrinya masuk ke dalam kamar.


"Sayang, apa kamu ingin ke rumah mamah? Kayanya minggu depan aku akan ke jogja mencari mereka," sahut Altar.


"Ais, ikut."


"Biarin kakak yang pergi, kamu di rumah aja bareng mamah, kakak akan segera pulang dan membawa informasi," titah Altar. "Mumpung kita di beri libur selama seminggu, sebelum melaksanakan ujian akhir bukan?"


Aisha mengangguk. "Baiklah, tapi di sana kakak janji jaga diri kakak, dan jangan lupa terus mengabari," pinta Aisha.


Altar mengangguk. "Kakak tidak sendirian ke sana ada ajudan papah, jadi gak perlu khawatir ok?"


Aisha Berdehem.


"Aksa dan kedua temannya sudah di tangkap, cuman dua orang yang belum, yaitu Ferry dan bapak-bapak waktu itu."


"Bapak-bapak itu tak salah kak! Mungkin saja dia tidak tau," ujar Aisha.


"Tapi tetap aja bapak-bapak itu harus di beri peringatan, agar tidak berbuat seperti itu lagi kedua kalinya," balas Altar.


Yang di katakan Altar ada benarnya. Aisha pun mengangguk, dia yakin suaminya selalu benar.


"Sebenarnya kakak hari ini ingin keluar sebentar, dan kamu di rawat mamah dan bik Indah dulu ya? Sampai tunggu kakak pulang,"

__ADS_1


Aisha hanya manggut-manggut. "Pergi lah, tapi jangan lama pulangnya!" peringat Aisha.


//////////////////////


BRAK!


Altar membanting kursi yang ada di depannya. "Gue tanya sekali lagi, siapa yang menyuruh paman?" tanya Altar, mencengkram dengan kuat dagu pria tua tersebut.


"Cepat katakan!" bentak Altar, sehingga pria itu tersentak kaget.


"A-ku tak tau namanya, kalau kalian meminta ciri-cirinya akan ku kasih," jawab pria paru bayah.


"okay, ayo sebutkan!" pinta Vier, dari belakang.


"Dia seorang gadis, tubuhnya agak mungil, rambutnya bergelombang di ujung, dan yang terakhir ada tailalat kecil di hidungnya."


"Ilona," sahut seseorang tiba-tiba, yang tak lain adalah Cakra, di belakangnya ada Evan dan Kendra.


"Udah gue duga, si ulet bulu yang melakukannya," ujar Evan.


"Lo pada bego apa bloon? Kalian lupa nama panjang Ilona, Ilona Ferry Alvino?" tanya Cakra, geleng-geleng. "Sebenarnya gue udah tau saat Ken menyebut nama Ferry, namun kalian tidak bertanya masukan gue, jadi ya, gue diam aja," lanjut Cakra, tanpa dosa.


Ucapan Cakra, membuat keempat temannya menatapnya dengan tatapan sulit di artikan.

__ADS_1


Cakra menggaruk belakang kepalanya dan menyengir. "Bay, gue di suruh beli roti jepang sama adik gue, jadi gue cabut duluan ya!" celetuk Cakra, pergi dengan tergesa-gesa.


__ADS_2