
Altar mendongak ke bawah dan berjongkok di hadapan Aqila.
"Namanya, Aqila?" tanya Altar memegang kedua bahu anak kecil itu.
Aqila mengangguk.
Altar menatap ke atas, ke arah istrinya.
"Ais mau ketemu sama neneknya Aqila kak, katanya neneknya sakit, kita boleh ya jengukin?"
Altar terdiam sejenak lalu mengangguk.
Aisha tersenyum begitupun Aqila.
"Ayo, kakak-kakak baik, Qila antar ketemu sama nenek," ujar Anak itu memegang kedua tangan pasangan tersebut.
"Vier, kalian lanjut aja gue mau ke rumah anak ini dulu," pesan Altar.
Yang lain pun mengangguk.
"Bos, gue ikut?" tanya Marwel.
Altar menatap Marwel dan menggeleng. "Gak usah, kalian lanjutin aja, kalau gue butuh apa-apa gue bakal telfon," jawab Altar.
Marwel pun mengangguk.
"Kita, naik motor aja ya?" tanya Altar.
"Jalan aja kak, dekat kok."
Altar menggeleng. " Kita naik motor biar cepat sampe, kasian istri kakak, dia sedang hamil gak boleh terlalu capek," jelas Altar.
Aqila menatap Aisha lalu mengangguk.
Mereka pun pergi ke rumah Aqila dan neneknya menggunakan motor.
__ADS_1
Sekitar 5 menit mereka sampai di rumah kecil, atap yang sudah bolong, alasan cuma memakai koran.
"Ini, rumah Aqila?" tanya Aisha.
Aqila mengangguk. "Maaf, kak kalau rumah aku dan nenek kecil," sungkan anak itu.
Aisha menatap ke arah suaminya dengan mata yang berkaca-kaca, Altar pun segera memeluk badan istrinya.
"Asslamualaikum,"ucap mereka secara bersamaan.
"Walalaikumssalam," balas wanita tua.
"Nenek," seru Aqila.
"Kok cepat, pulang nak? Apa ada sesuatu yang terjadi?" tanya nenek tua itu.
Aqila menggeleng. "Kakak-kakak baik ini mau lihat nenek, jadi aku antar." Aqila menunjuk Altar dan Aisha.
Mereka berdua pun maju dan berjongkok di depan nenek tersebut, mencium punggung tangannya.
"Eh nak, tangan nenek kotor tau," seru nenek itu menarik tangannya.
"Nenek, tinggal berdua aja dengan Qila?" tanya Altar, di angguki neneknya Aqila.
"Nenek, udah beberapa lama lumpuh?"
"Udah 2-tahunan nak, nenek kasian sama Aqila harus berhenti sekolah demi mencari duit untuk makan sehari-sehari kami."
Tanpa di sadari mata Altar memanas.
"Aqila, kelas berapa berhentinya?" tanya Aisha pada anak itu.
"Kelas 2 sd, kak," jawabnya.
Aisha menoleh ke arah Altar, Altar pun mengusap pipi istrinya.
__ADS_1
"Kasian banget kak, Aqila harus berhenti sekolah, mana anaknya pintar banget," ibah Aisha memeluk tubuh suaminya.
"Kamu, mau membantunya sayang?" tanya Altar.
Aisha mengangguk. "Ais pengen bayar biaya operasi neneknya, kalau bisa pake uang yang kakak kasih ke Ais aja, uang itu cuman sedikit Ais pake."
Altar mengangguk.
"Nenek, di sini saya dan istri saya, ingin membantu membayar biaya operasi nenek," kata Altar, membuat nenek itu ingin berucap namun di sela Altar. "Jangan di tolak nek, ini bukan kasian tapi ini memang rejekinya Aqila dan nenek," sela Altar.
Nenek itu menoleh ke arah cucunya, Aqila mengangguk membenarkan ucapan Altar.
Sesaat itu lah, neneknya Aqila menundukan kepalanya, ingin memegang kedua kaki Altar dan Aisha namun cepat-cepat mereka menghindar.
"Jangan, nek," cegah mereka memundur.
"Makasih nak, kalian begitu baik, mau menolong orang seperti kami ini," kata nenek itu mengeluarkan air mata.
Aisha langsung berhamburan memeluk tubuh rapuh wanita tua yang ada didepannya.
"Sama-sama nek, kalian dan kami itu sama aja nek, derajat kita sama, ciptaannya Allah," jelas Aisha.
"Kamu memang malaikat, semoga kalian hidup bahagia selalu," ucap nenek itu.
"Kami cuma manusia biasa, bukan malaikat nek," cerca Altar.
"Nenek, kakak baik hamil loh," sahut Aqila pada neneknya.
"Benarkah? Kalian suami istri? Nenek pikir kalian bersodora" seru nenek itu. "Semoga sukses sampai lahiran, ya nak, nenek bakal berdo'a kamu dan anak kamu di lindungi," sambung nenek itu.
Aisha mengangguk. "Makasih, nek."
"Kalian, mau tinggal sementara waktu di rumah kami? Sampai nenek selesai operasi, ya?" tanya Altar.
"Gak usah nak, di biayain buat operasi aja udah cukup buat nenek."
__ADS_1
...----------------...