Badboy Suamiku

Badboy Suamiku
~Badboy Suamiku •Chapter 96•


__ADS_3

"Aduh, sayang kamu tuh kalau makan belopatan ih," celetuk Altar, melap bibir istrinya lalu menciumnya sekilas.


Mereka sudah berada di rumah jadi Aisha bisa leluasa membuka cadarnya karena hanya suaminya yang melihatnya, bahkan Papa mertuanya tak ada di rumah lagi keluar kota.


"Kakak, mau?" tawar Aisha mengulurkan setusuk batagor ke arah mulut suaminya.


Altar menggeleng. "Itu pedas," tolak Altar.


Aisha memasukannya ke dalam mulut lalu mengunyahnya, membuat Altar terkekeh.


Aisha memanyunkan bibirnya ke arah sang suami.


"Nawar nih?" tanya Altar.


Aisha tersenyum lalu mengangguk. "Kan kakak gak suka pedas, kalau dari bibir aku pasti mau," jawab Aisha ambigu.


Altar langsung menggendong tubuh istrinya sambil memagut bibir ceri itu.


Aisha mendorong sedikit wajah suaminya. "Kak, batagor ku belum habis." Aisha manyun.


"Bentar, lanjut lagi makannya, sekarang giliran kakak yang makan kamu," bisiknya.


Aisha menggeleng. "Gak bisa kak Altar, kakak gak ingat apa yang di katakan Mama karen? Gak boleh." Wanita itu menyilangkan tangannya di depan wajah.


Altar menidurkan sang istri di kasur. "Kata siapa gak boleh? Kakak sudah chek di internet kalau wanita yang sedang hamil masih bisa berhubungan."


"Huek..."


Aisha mendorong tubuh Altar dan berlari ke kamar mandi.

__ADS_1


"Huek.."


Alter mendengus kesal lalu mengikuti istrinya sambil membawa segelas air.


"Huek..."


Altar melepaskan kerudung istrinya dan memijat tengkuk leher wanitanya itu.


"Minum, dulu," pinta Altar.


Aisha menatap Altar dan kembali mual, memuntah cairan mening beserta makanannya.


"Keluar!" pinta Aisha menunjuk pintu.


Altar menggaruk tengkuk lehernya merasa bingung. "Sayang..."


"Keluar! Aku bilang keluar kak Altar, aku mual lihat muka kakak," ngegas Aisha mendorong pelan tubuh suaminya.


"Gantang gini, kok dia mau muntah sih!" gerutu Altar.


Aisha merentangkan kakinya ke lantai, merasa kesal dengan suaminya. "Keluar cepat kak Altar! Kakak bau dan muka kakak buat Ais pengen muntah," ketus Aisha mendorong tubuh Altar sambil menahan mualnya.


Altar yang di dorong hanya mendengus kesal.


Ingin kembali menghampiri istrinya, eh malah di tutupin pintu.


Lelaki itu memukul dinding lalu duduk di sofa dengan wajah di tekuk.


"Ck, ini di luar perdiksi BBN," teriak Altar furstasi sambil meninju-ninju angin.

__ADS_1


Dia mencium badannya namun tak merasa bau, hanya ada bau parfum istrinya yang tertempel.


Dia menyilangkan tangannya di depan dada dengan wajah di tekuk sambil menunggu istrinya yang sedang berada di dalam kamar mandi.


Beberapa menit, pintu kamar mandi terbuka membuat Altar langsung menghampiri istrinya.


Altar yang sempat memegang tangan Aisha, tiba-tiba wanita itu menghindar.


"Mau, ngapain?" tanya Aisha, was-was.


"Mau periksa keadaan kamu."


"Gak usah!" tegas Aisha, menyipit hidungnya. Aisha berjalan ke arah kasur. Mengambil bantal dan selimut dan kembali berjalan ke arah suaminya.


Altar tersenyum berfikir di luar dugaan, tetapi sayang sekali fikirannya harus terjatuh di saat istrinya melampar bantal dan selimut itu ke arahnya.


Senyum Altar luntur. "Ini apa sayang? Mau coba bobo di lantai?" tanya Altar ambigu.


"Gak!" ketus Aisha. "Kakak tidurlah di luar, mau di sofa, ruang tamu, atau di kamar lain. Terserah, asalkan jangan di sini jangan memperlihatkan wajah kakak yang membuat Aisha mual, apalagi menyium bau badan kakak yang bau ikan asin. Mandilah di kamar lain!"


Aisha melipat tangan di depan dada, dan menatap ke arah lain.


Ingin rasanya, saat itu juga Altar menangis kejar di perlakukan seperti ini oleh istrinya. Apa faktor kehamilan? Tapi menurutnya ini sangat di luar tata surya.


"Kakak maafin Ais, tapi muka kakak emang ngeselin ples bikin Ais mual!" tegasnya. "Entah, dedeknya memang bermusahan sama apahnya kali ini."


Dengan wajah kusam, dia berjalan ke arah sofa ruang tamu.


"Kenapa, tuh?"

__ADS_1


Altar menoleh sekilas ke arah mamanya dengan muka di tekuk. "Di usir dari kamar," jawabnya.


__ADS_2