
Bruk!
Rigel melayangkan pukulan keras di tubuh Altar.
"Bang, udah," cegah Aisha memeluk suaminya yang sudah berguleburan darah.
"Dia pantas mendapatkan pelajaraan Ais, dia melukai mu menaikan tangannya, kamu tau? Aku dan abi gak pernah sama sekali menampar mu bahkan membentak mu. Dan seenak jidatnya dia melakukan itu." Rigel ingin kembali memukul Altar namun di tahan sang umah.
"Nak udah, redahkan emosi mu," pinta Umah Giva mendudukan anaknya.
"Dia sangat sialan umah, Rigel gak suka adik Rigel yang Rigel rawat bagaikan ratu dan memberikannya padanya namun apa dia lakukan? Dia menyiksanya!"
"Maaf bang," lirih Altar.
"Astaghfirullah." Lelaki berusia 26-tahun itu beranjak pergi untuk meredahkan emosinya.
Umah Giva juga nampak kecewa dengan menantunya. Dia kira Altar akan meratukan anaknya lebih dari apa yang di berikan suami dan anak sulungnya.
Wanita paruh baya itu ikut meninggalkan mereka berdua.
"Kan udah Ais bilang gak usah di beri tau biar ini berlalu aja, kenapa kak Altar begitu ngeyel? Ginikan jadinya kakak yang terluka," omel Aisha sambil menangis, memeluk tubuh Altar.
"Kakak gak papa, ini salah kakak jadi kaka juga harus menanggung akibatnya. Apa yang bang Rigel ucapkan ada benarnya kok sayang. Jangan nangis kakak gak suka, aku baik-baik aja. "Lelaki itu berusaha menenangkan sang istri.
__ADS_1
"Baik-baik gimana, kepala kakak berdarah gini karena pukukan bang Rigel, baik-baiknya apa coba!" ngegas Aisha.
Aisha memampah suaminya duduk di kursi lalu masuk ke dalam rumah mengambil kotak p3k dan air untuk membersikan darah suaminya.
Aisha melap dengan pelan bekas darah menggunakan handuk kecil. Setelahnya memberi perban.
Altar memandang istrinya yang serius mengobatinya, tiba-tiba dia mengulumkan senyumannya.
Saat telah selesai mengobati Altar, Aisha langsung berhamburan memeluknya.
"Maafin bang Rigel, ya," ucapnya memegang jangkut Altar yang naik turun.
"Ini salah ku sayang, bukan salah bang Rigel. Dia melakukannya karena sayang kamu." Altar menjauhkan tangan mungil Aisha dari lehernya.
"Biarin dia melakukannyaa, pasti Ais juga sudah memberinya pelajaraan," sahut sang abi. "Altar bukanlah lelaki pecundang buktinya dia menyerakan diri dan berkata jujur ke kita," lanjutnya.
"Gak bisa gitu dong, Bih," protes Rigel.
"Adik mu bahagia Rigel, mereka hanyalah remaja, dan pasangan muda. Dalam rumah tangga pasti banyak permasalahan yang bisa membuat fatal, dan solusinya memperbaikinya dengan sama-sama. Kita gak usah ikut campur masalah keluarga kecil mereka biarin mereka berdua yang menyelesaikannya. Kalau Altar melakukannya kedua kalinya dan Ais sudah tak sanggup baru kita bisa ikut-ikut," jelas umah Gavi.
Sebenarnya kecewa tapi mau buat apalagi? Memutar waktu dan merubah apa yang pernah terjadi? Tidak mungkin kan, lagian anak dan menantunya saling mencintai jadi atas hak apa mereka harus ikut-ikut masalah mereka? Dia tau anaknya adalah gadis yang mijak bisa mengambil keputusan tepat untuk hidupnya.
Rigel menghela nafas panjang dan pada akhirnya mengangguk.
__ADS_1
"Kak Altar," rengek Aisha. Lelaki itu memasukan kepalanya kedalam kerudung Aisha dan menggigit pelan lehernya.
"Ini kita ada di luar rumah, gak malu di liatin sama para santri yang lewat?" tanyanya.
"Gak di lihat kok, kan aku sembunyi di kerudung kamu," jawab Altar.
"Nanti umah atau yang lain datang, kak Altar." Aisha mendorong pelan tubuh Altar.
Aisha memegang lehernya. "Kakak kaya vampir," celetuknya manyun.
"Coba kakak lihat lagi, merah gak?" tanya Altar modus.
"Dih, mencari kesempatan dalam permasalahan."
"Biarin," jawabnya.
Tiba-tiba umah Giva keluar sambil membawa nampan.
"Ayo masuk jangan di luar, kalian nginap kan di sini?" tanya umah Giva duduk di kursi kosong.
Altar menatap istrinya.
"Umah gak marah?" tanya Aisha.
__ADS_1
"Marah sih sedikit, tapi masa anak dan mantu datang gak di tawarin masuk! Kan ini rumah kalian juga," jawab Giva. "Bermalam ya di sini! Boleh kan, Tar? Umah kangen sama anak umah."