
Kini Atlanta sudah kembali ke Indonesia. Dia pulang bukan dengan kedua temannya saja, tapi juga bersama dengan Mahesa.
Kedatangan Atlanta membuat Leana menjemputnya di bandara. Wanita itu memeluk dengan erat tubuh milik suaminya. Dan belum sadar jika suaminya tak sendiri.
Atlanta terkekeh dan langsunh menggendong Leana seperti bocah.
"Kangen enggak?" tanya Atlanta.
"Kangen banget, padahal kamu pergi cuma dua hari, tapi kok kangen banget iya?" tanya Leana.
"Enggak tahu sayang, itu tandanya kamu tidak bisa tanpa aku," jawab Atlanta membuat Leana memukul lengan laki-laki tersebut.
"Turunin, Lan," pinta Leana. "Malu tahu."
Atlanta pun menurunkan sang istri. Saat itu juga Leana sadar jika Atlanta tak sendiri tapi bersama dengan temannya.
Saat Leana melihat Mahesa, wanita tersebut bersembunyi di balik badan Atlanta.
"Lan, kenapa dia bisa ada di sini?" tanya Leana.
"Kita bicarakan di rumah saja, iya. Kita pulang dulu," jawab Atlan.
Seakan seperti tokek, Leana terus menempel di tubuh Atlanta. Semenjak kejadian di mana Mahesa mendorongnya membuat wanita tersebut sangat was-was.
__ADS_1
"Dia bukan setan, sayang. Kenapa takut?" tanya Atlanta.
"Dia pembunuh," ucap Leana nampak di dengar oleh Mahesa dan ketiga temannya.
Atlanta menghela napas panjang. Dia mengode kepada ketiga temannya agar naik taksi saja, dia akan pulang dengan Leana dengan menggunakan mobil yang dikendarai sopir rumahnya.
Sesampainya di rumah, Leana semakim menempel tak kalah Mahesa malah ikut ke rumah mereka. Padahal kan, Leana sudah berpikir jika laki-laki tersebut akan kembali ke rumahnya.
"Sayang jangan takut," ucap Atlanta.
"Lea," panggil Mahesa membuat Leana berdehem, tapi tak bergerak dari tempatnya.
"Gue minta maaf. Mungkin maaf tidak akan cukup dengan apa yang gue perbuat sams lo. Gara-gara gue, lo keguguran dan terpaksa kehilangan bayi lo kandung. Jujur gue gelap mata, Lea. Gue dibutuhkan akan cinta dan obsesi ke lo, gue enggak bisa mengontrol diri ini, maafin gue."
"Aku tidak akan memaafkanmu. Jika maaf bisa mengambil kan anakku, maka kamu akan mendapatkan maaf dariku," jawab Leana.
"Gue mohon, Lea. Gue minta maaf." Mahesa berlutut di depan Leana membuat wanita tersebut terkejut.
"Jika lo enggak maafin gue, gue bisa mati di tangan suami lo. Dia bakal tembak gue, Lea kalau lo enggak mau maafin gue dengan ikhlas," ucap Mahesa memohon.
"Ya udah biarin aja di tembak," jawab Leana singkat membuat Atlanta pun melotot mendengarnya.
Leana yang sangat lembur dan tegaan orangnya. Mengatakan hal itu? Atlanta jadi takut jika dia berbuat salah kepada wanita tersebut.
__ADS_1
"Mau aku yang tembak?" tanya Leana kepada sang suami." Kita akan menembaknya secara pergantian, agar kita juga sama-sama masuk ke dalam penjara," jelas Leana kepada sang suami.
"Kalau kamu aja yang masuk penjara kan enggak lucu, gimna kalau aku kangen? Masa aku nyari perhatian cowok lain agar rinduku terlepas," imbuh Leana.
"Kamu jangan, sayang."
"Kenapa? Biar kita dosa sama-sama juga."
"Kamu tidak maukan? Begitupun dengan aku, kak Mahesa memang membuat kesalahan yang buat aku sangat sakit hati, tapi tidak ada niatin sedikit pun untuk membunuhnya. Kita enggak usah bertindak, kita berikan saja hukuman yang kita mampu, urusan hukuman yang adil akan Allah kasih nanti," jelas Leana membuat Atlanta tersenyum dan langsung memeluk istrinya.
"Jadi kamu memaafkanku?" tanya Mahesa.
"Enggak! Kalian pulang aja dulu, aku akan kasih tahu jika aku sudah ada hukuman yang pantas aku kasikan ke kamu," jawab Leana.
Akhirnya ketiganya pulang dari rumah Leana maupun Atlanta. Entah hukuman apa nanti yang pantas Mahesa dapatkan dari Leana.
"Kamu lapar enggak?" tanya Leana.
Atlanta menganggukan kepalanya.
"Mau makan apa? Biar aku masakin atau food aja," imbuh Leana.
"Aku bukan mau yang itu, aku mau makan kamu. Udah kebelet ini." Tanpa menunggu jawaban Leana, Atlanta sudah menggendong istrinya ke kamar.
__ADS_1