
Mendengar penjelasan bunda Karen, Atlanta pun langsung kaget mendengarnya.
"Cila," gumam Atlanta memerah. Dia langsung memeluk bundanya.
"Adikmu Atlan," lirih bunda Karen.
"Sudah, sudah. Kita doakan saja Cila baik-baik saja," ucap Atlanta.
Karena terus menangis, bunda Karen tertidur di dekapan Atlanta. Leana hanya diam di depan ruangan. Dia jadi merasa bersalah, seban tidak bisa menyelamatkan Cila.
Ceklek!
Pintu ruangan terbuka membuat Leana dan Atlanta menoleh. Leana pun langsung menanyakan keadaan Cila.
"Gimana dengan keadaan Cila?" tanya Leana.
Dokter itu menghela napas kasar. "Pasien menyuruh memanggil kalian untuk masuk."
Mendengar itu, Atlanta membangunkan bundanya dan mereka masuk bersama. Leana sebenarnya tidak ingin masuk tetapi bunda Karen menyuruhnya.
"Bunda, Aa, kak Leana," ucap Celi saat melihat ketiganya. Bunda Karen langsung memegang kedus tangan putrinya.
__ADS_1
"Kenapa sayang? Yang sakit mana?" tanya bunda Karen.
"Semua tubuh Celi sakit bunda, sakit semua. Celi enggak kuat," jawab Celi dengan rintihan.
"Tidak sayang, kamu harus berusaha ok? Kamu harus sembuh," ucap bunda Karen mencium pucuk kepala putrinya.
"Enggak bisa, aku gak kuat bunda. Celi capek, Celi mau tidur mau istirahat."
kata-kata itu semua orang tahu maksudnya apa. Bunda Karen dan Atlanta menggeleng dengan keras.
"Jaga omonganmu Celi, Aa gak suka jika kamu berbicara seperti itu!" sahut Atlanta kini matanya sudah memerah menahan air matanya.
Celi memegang tangan Atlanta. Dia melirik Leana yang berdiri agak jauh dari mereka bertiga. Gadis kecil itu memanggil Leana untuk mendekat, Leana pun mendekat.
Celi langsung menggeleng keras, dia membelai pipi Leana. Dan tersenyum.
"Kakak Leana sangat baik, kakak menganggap Celi seperti adik kakak sendiri," lirih Celi. "Apakah Celi bisa minta permintaan?"tanya Celi.
Tanpa pikir panjang, Leana maupun yang lain menganggukan kepala masing-masing.
"Celi pengen lihat kakak Leana dan Aa Atlan kembali bersama, Celi ingin kalian menikah. Ini permintaan Celi, Celi mohon terima," mohon gadis itu.
__ADS_1
Leana dan Atlanta saling memandang. Atlanta menggeleng, bertanda tidak ingin.
"Tidak! Jangan mengada-ngada Celi, permintaan apa ini?" tanya Atlanta menolak.
"Celi minta mohon Aa, ini permintaanku. Ini permintaan terakhir Celi, tubuh Celi sakit banget."
Dengan berat hati Atlanta perlahan menganggukan kepalanya, dia tidak tega melihat adiknya memohon dan menangis. Dalam pernikahan ini Atlanta juga bisa membalaskan dendamnya.
"Jangan bohong, iya!" peringat Celi membuat mereka berdua menganggukan kepalanya perlahan. "Bunda nikahkan mereka, iya! Aku akan marah jika kalian mengikari janji," ucap Celi.
Bunda Karen mengangguk, saat itu juga tubuh Celi tiba-tiba melemas. Matanya mulai dia tutup dengan perlahan.
"Celi," teriak mereka. Bunda Karen memegang tangan putrinya.
"Innalilahi wainnailaihi rojium. Cila," teriak bunda Karen memeluk tubuh putrinya yang sudah tak bernyawa.
Sama halnya dengan bunda Karen, Atlanta pun menangis, bahkan tak sadar jika dia memeluk Leana. Leana pun hanya diam menerima pelukan Atlanta.
"Bunda," teriak mereka bersamaan saat tubuh bunda Karen tiba-tiba saja jatuh ke lantai.
Atlanta pun langsung menggendong bundanya, ke sofa yang berada di sana. Pintu ruangan terbuka, terlihat beberapa orang yang akan mengambil jenasah Celi untuk di bawah ke ruang mayat sekalian untuk di bersihkan.
__ADS_1
Altar dan keluarganya baru saja tiba di rumah sakit, mereka mendapatkan kabar jika Cila masuk ke rumah sakit. Mereka terkejut melihat brankar membawa Cila.