
Setelah Davina sudah pergi dari rumah. Leana pun keluar dari kamar. Niatnya untuk mengambalikan pergi kotor. Di perjalanan Leana melirik Atlanta yang duduk di sofa sambil menonton tv.
Pakai Leana saat ini sudah rapi. Dia berniat untuk kembali mencari pekerjaan. Walaupun dia mempunyai suami, tapi kehidupan mereka sedikit tidak akur.
Usai meletakan piring kotor itu wastafel, Leana mencuci tangannya dan menuju ruang tamu. Atlanta yang mengatahuo Leana akan mendekat langsung saja pura-pura tak peduli.
"Atlan, aku izin keluar dulu iya. Mau cari kerja," izin Leana kepada suaminya, dia mengulurkan tangannya pada Atlanta. Namun Atlanta tak sama sekali membalasnya.
Leana tersenyum kecut. Dia pun menurunkan tangannya lalu berjalan keluar rumah. Saat sampai di ambang pintu Leana berhenti mendengar ucapan Atlanta.
"Siapa yang nyuruh lo kerja?" tanya Atlanta.
Leana berbalik badan, menatap Atlan. Laki-laki itu beranjak dari sofa lalu mendekatinya.
"Aku sendiri, emang siapa lagi?" tanya Leana.
__ADS_1
Atlanta mencengkram dengsn kuat lengan Leana, sehingga gadis itu meringis kesakitan.
"Sudah berani menjawab dengan nada seperti itu?"
"Terus aku mau jawab apa Atlan? Aku sudah minta izin, aku kerja untuk kebutuhanku sendiri. Jika aku tidak kerja aku hidup pake apa?" tanya Leana sama sekali tak takut. Rasa takutnya sudah habis di gantikan rasa sakit hatinya.
"Gue suami lo, gue yang akan nanggung semua pengeluaran lo. Cukup lo tinggal di rumah, layanin kebutuhan gue dan cewek gue itu udah cukup," jawab Atlan semakim kuat mencengkram lengan Leana.
Leana berusaha melepaskan cengkraman Atlan dari lengannya, karena begitu kuat dan membuatnya sakit.
"Atlan lepasin, sakit," aduh Leana memberontak. Atlan pun melepaskan cengkramannya.
"Gue udah bilang lo gak bakal kerja, lo tinggak di rumah aja! Turutin kata gue, gue suami lo," ucap Atlan.
Leana menatap manik mata Atlan, manik yang masih sama seperti dahulu. Di mata itu tidak ada tanda kebencian malahan kerinduan.
__ADS_1
"Atlan," panggil Leana. "Tolong jangan bersikap sepert ini," ucap Leana. "Kamu menyakitiku."
"Emang itu tujuanku," jawab Atlan.
Mereka saling memandang satu sama lain. Walaupun sudah tak lama bersama, tapi keduanya masih menghafal sifat mereka.
Seperti sekarang Atlan sudah melihat tanda-tanda Leana akan menangis. Dari matanya dan raut wajahnya Atlan sudah hafal gadis itu akan melakukan apa.
"Hiks-hiks, kamu jahat Atlanta," ucap Leana dengan tangisannya. Dia memukul dada bidak suaminya.
"Lo yang lebih jahat, lo buat gue kecewa Leana! Jika saja lo gak melakukan hal yang gak buat gue sakit hati, mungkin hubungan kita baik-baik saja," jelas Atlanta.
Leana menunduk dalam diam, Atlan pun memegang dagu gadis itu agar menaikan pandangannya.
"Atlan, kita sudah lama bersama. Jika kamu mempercayaiku tidak mungkin kamu yakin di dalam video tersebut adalah aku, Atlan."
__ADS_1
"Tapi udah jelas-jelas di dalam video itu wajah lo, Leana."
"Kamu gak bisa mengenali postur tubuhku? Bukannya kita saling tahu satu sama lain? Jika seperti itu, maka kamu pasti tahu bahwa postur tubuhku dan orang yang berada di dalam video itu bukan aku. Kamu juga harus tahu bahwa video tersebut bisa saja di edit, kamu tahukan cangginya zaman sekarang?"