
Niatnya ke Jogja malah terlempar ke Australia.
Sebelum penerbangan Altar di beri tau sama Ajudan papanya bahwa mertuanya dan iparnya bukan di Jogja melainkan di Australia.
Untungnya dia memakai jet pribadi sang papa, jadinya bisa di batalkan penerbangan ke Jogja beralih terbang ke Australia.
Altar sama sekali tidak memberi tau istrinya bahwa dia ada di Australia, dia mempunyai firasat yang aneh jadi dia tidak memberi taunya dulu.
Lelaki itu menghirup udara dengan banyak, dia berdiri di balkon kamar hotelnya. Dia menyiriput kopi hangat yang dia pegang.
"Kata Mbak Karla, mereka berada di Jogja, kenapa malah ada di Australia? Sepertinya ada yang di sembunyikan," gumam Altar.
Lamunan Altar buyar seketika, saat ponselnya berbunyi.
Altar tersenyum. Yang menelfon adalah istri tercintanya, Altar mengalihkan dengan panggilan video.
"Aduh, habis mandi ya? Cantik banget," puji Altar, tersenyum manis pada istrinya.
Aisha membalas senyuman suaminya. "Masya-Allah," ucap Aisha di seberang sana.
"Sudah makannya?" tanya Altar, kembali masuk ke dalam kamar dan merebahkan badannya di kasur.
"Udah," jawab Aisha. "Aisha bisa gemuk, mamah baru beberapa jam, nyuruh Ais makan lagi! Pulang-pulang kak Altar udah punya istri gembul," aduh Aisha.
Altar terkekeh. "Terus kenapa? Nanti kakak bakal terima kasih pada mamah," balas Altar.
"Kalau kak Altar, sudah makan di sana?" tanya Aisha.
Altar mengangguk.
__ADS_1
"Sayang, itunya udah gak sakit?" tanya Altar tiba-tiba.
Pertanyaan suaminya membuat Aisha malu, dia tau apa maksud Altar.
Aisha menggigit bibirnya lalu mengangguk.
"Kalau sakit lagi, nanti beri salep yang kakak belikan ya!" pinta Altar, di angguki Aisha.
"Kak Altar, udah dulu ya! Ais mau bantu mamah masak untuk makan malam," ujar Aisha, mematikan secara sepihak panggilan video tersebut.
Altar hanya terkekeh, dari wajah istrinya sudah di tebak kalau istrinya itu sedang malu.
Altar kembali membuka ponselnya dan masuk ke massage.
Altar mengirimkan pesan pada temannya, gimana tentang rencana mereka, menjebak Ilona.
"Thx buat lo pada, sorry gue ngerepotin."
^^^"Sans, masalah lo masalah kita juga Tar, jadi gak usah sungkan." From Evan.^^^
Altar menyimpan ponselnya setelah membaca pesan terakhir oleh temannya.
"Di setuasi seperti ini, mereka tetap ada sama gue," gumam Altar.
"Sekarang kenapa masalah datang secara bersamaan? Semoga mertua gue dan bang Rigel baik-baik aja."
Altar memilih tidur sambil memeluk guling. Di kota Canberra sudah jam setengah sepuluh sedangkan di kota jakarta baru jam setengah delapan.
Canberra ibu kota Australia, lebih cepat dua jam dari pada ibu kota jakarta.
__ADS_1
Besok pagi, Altar akan di beri tau oleh Ajudan sang papa di mana keluarga istrinya berada.
Altar terus saja membolak-balikan badannya, namun belum bisa tidur.
"Bahkan di kamar sebesar ini, gue gak bisa tidur tanpanya," lirih Altar mengecak rambutnya.
Dia beranjak bangun, dan memakai hoodienya, lebih baik dia keluar jalan-jalan, melihat gimana suasana di negara orang.
Sebelum keluar, Altar memberi tahu Ajudan papanya bahwa dia akan keluar sebentar mencari udara segar.
Saat sudah berada di luar hotel, banyak orang yang saling berbisik-bisik sambil menatapnya, dan kebanyakan kaum hawa.
Altar hanya membuang pandangannya ke bawah, istrinya sudah pernah bilang kepadanya. Seseorang tidak boleh saling menatap dengan sangat lama pada lawan jenis yang bukan mahromnya.
Altar singgah Di toko masker, di samping toko masker ada apotek besar.
Altar menatap sekitar, dan tatapannya jatuh pada satu orang yang baru keluar dari apotek, membawa beberapa kantong plastik mungkin berisi obat-obotan.
"Bang Rigel?"
Altar tidak salah lihat, yang sedang berada di depan apotek adalah iparnya.
Altar pun menghampiri seseorang yang dia sebut adalah Rigel.
"Bang Rigel," panggil Altar memegang bahu orang tersebut.
Orang yang di panggil Altar menoleh, dan benar saja dia adalah Rigel abang Aisha.
"Al-tar?" Dari raut wajah Rigel terlihat begitu panik.
__ADS_1