Badboy Suamiku

Badboy Suamiku
~Berubah pada waktunya.. •Chapter 45•


__ADS_3

"Lah, bu ketua mana, Tar?" tanya Vier, di saat melihat Altar yang masuk ke dalam kelas, dengan wajah yang tidak bersahabat.


"Sakit," jawab Altar singkat, dan duduk kursi dekat Cakra.


"Sakit? Kalau sakit kenapa lo, ke sekolah ego," timpal Kendra.


"Gue gak mau, tapi dia maksa nyuruh gue ke sekolah!" balas Altar.


"Emang sakit apa?" tanya Cakra.


"Sakit perut, lagi datang bulanan," jawab Altar.


"Hah, bulanan apa? Sakit, karena telat bayar cicilan?" tanya Evan, dengan polosnya.


"Plak." Evan mendapatkan, pukulan dari Vier.


"Apa, apaan sih anjir, main pukul-pukul aja lo!" ketus Evan, pada Vier.


"Lo sih tolol bangete, udah mau lulus masih gak tau apa itu datang bulan!" skak Cakra.


"Emang apa?" tanya Evan.

__ADS_1


"Nah bukti nih, yang selalu melewatkan pelajaran bu Daya, padahal ngambil jurusan ipa."


"Datang bulan. Di mana wanita masuk ke dalam masa subur, seperti lelaki, tapi bedanya lelaki akan mimpi basah," jelas Altar.


"Emang, datang bulan itu gimana?" tanya Evan.


"Dih, itu rahasia para wanita kita gak boleh tau. Yang jelas, kalau wanita sedang datang bulan, efek sampingnya, mood selalu berubah-ubah, sakit di bagian perut, bisa juga sakit di bagian kepala. Jadi wanita itu, terminang, tersiksa di saat datang bulan, contohnya seperti sekarang yang di alami, Ais," jelas Cakra. Seperti seorang guru.


Cakra sangat ahli tentang pelajaran ipa, bisa di bilang, ipa adalah mapel favorit Cakra.


"Datang bulan, kata lainnya dalam pelajaran ipa, adalah menstruasi," tambah Cakra. "Biasanya pria selalu menganggapnya lebay, di saat wanita sedang menstruasi, padahal para pria tidak pernah merasakan gimana sakitnya.


Sakitnya tidak beda tipis dengan orang yang akan melahirkan. Maka di saat pasangan kalian nanti sedang menstruasi, jangan pernah abaikan, berfikir sakitnya hanya seberapa, itu bisa membuatnya menangis, apalagi sudah tadi gue bilang, wanita yang sedang masa menstruasi atau datang bulan, sering merubah mood, kadang menangis atau emosi."


"Altar, lo jangan ikutan emosi, di saat Aisha sedang rewel," ujar Evan.


"Gak usah ngasih tau! Gue juga tau," ketus Altar.


"Sakit banget pasti jadi cewek, harus ngerasain seperti itu, setiap bulannya," ucap Vier.


"Nah, benar tuh." Evan dan Kendra, membenarkan ucapan Vier.

__ADS_1


Kecuali Altar yang selalu gelisah, memikirkan istrinya, keempat temannya malah asik, membahas hal random. Beruntung di jam pelajaran pertama, mungkin jamkos.


"Halo," sapa seseorang, duduk di samping Altar.


Seseorang itu tak lain adalah Ilona. Kedatangan Ilona membuat mereka mendengus.


"Ngapain lo?" tanya Altar, tanpa menoleh kearah Ilona, bahkan dia menjauhkan sedikit badannya agar tidak bersentuhan.


"Gue bawain bekal buat lo," jawab Ilona, memperlihatkam kotak bekal. "Gue juga bawain buat kalian kok," lanjut Ilona, menaro kotak bekal satunya, ke atas meja.


"Gue udah makan," ujar Altar.


"Ini gue yang masak Tar, lo dulu suka dengan masakan yang gue buatkan? Jadi gue masakin ini buat lo," ucap Ilona, dengan lembut.


"Itu dulu! Sekarang gue cuman suka, makanan yang di masak oleh istri gue," jawab Altar.


Ilona yang tadinya senyum, seketika luntur mendengar kata istri dari mulut Altar. "Gue tau, tapi lo pasti gak sesuka, dengan masakan gue kan? Coba dulu." Ilona menyodorkan sendong berisi makanan, ke arah Altar. Namun Altar malah menepisnya, sehingga makanan itu terjatuh ke lantai.


"Gue udah bilang, gue gak mau!" bentak Altar. Sehingga membuat Ilona terdiam.


"Kata lo, kita bakal balik seperti dulu lagi," lirih Ilona.

__ADS_1


"Gue bilang, kembali menjadi teman! Ini bukan teman melainkan melebihi perasaan Lona." ujar Altar. "Lo jaga jarak dari gue please, sorry gue gak bisa seperti dulu lagi, seperti yang Lona mau. Ingat gue udah punya istri, gue ngejaga perasaanya, hanya istri gue yang bisa memperlakukan gue lebih!" sambung Altar.


"Gue udah jadi milik seseorang, gue tau lo mau kita seperti dulu. Tapi ada istilah 'kan, bahwa keadaan bakal berubah pada waktunya?"


__ADS_2