
Beberapa bulan kemudian. Kini sudah sembilan bulan Atlanta dan Leana berpisah. Atlanta sangat tahu hari ini, anaknya lahir ke dunia bukan hanya anaknya dengan Leana, tapi juga anaknya dengan Davina.
"Sayang, hari ini kamu akan melahirkan aku ingat betul harinya. Sekarang kamu di mana? Apakah kamu sudah behasil melahirkan anak kita?" tanya Atlanta. "Sampai kapan pun surat cerai yang kau kirimkan tidak akan oernau aku tanda tangani sebelum kamu kembali ke aku."
Saat ini Atlanta sudah berada di rumah sakit sedang menemani Davina di dalam ruang persalinan. Davina begitu takut. Namun melihat Atlanta ada di sisinya wanita itu merasa tenang.
"Atlan," panggil Davina.
"Kenapa?"
"Jika diantara aku dan bayi kita. Kamu harus memikih yang mana jika kamu diberi pilihan?"
"Maksud lo?"
"Kalau aku meninggal saat melahirkan anak kita, gimana?" tanya Davina
"Tidak akan, apa yang kau katakan? Kau akan mengurus anakmu."
Davina terdiam. Dia kira saat Leana pergi dari kehidupan Atlanta, dirinya dan Atlanta akan dekat dan Atlanta bisa mencoba menerima dan mencintainya, tapi dugaannya salah. Atlan malah tak bisa lepas dari Leana.
Saat dokter masuk ke ruang persalinan. Atlanta mengenggam dengan erat tangan Atlanta. Sedangkan Atlanta malah memikirkan posisi istrinya saat ini, apakah wanita itu juga sudah melahirkan?
"Atlan," jerit Davina saat dokter menyuruhnya menjerit agar ada pergerakan.
Davina ngos-ngosan sambil mencakar tangan Atlanta semakin kuat. Sehingga Atlanta meringis kesakitan dan merasa tangannya berdarah di perbuat oleh Davina.
"Arghh," jerit Davina berulang kali. Keringatnya mulai bercucuran di keningnya.
"Ayo, bu. Kepalanya udah keluar," ucap dokter membuat Davina menjerit kembali.
Saat tangisan bayi mengiasi ruangan itu. Atlanta dan Davina langsung tersenyum begitu pun dengan dokter. Davina mulia melepaskan pegangan dari Atlanta dan mulai menutup matanya, Atlanta mengira jika Davina hanya butuh istriahat sebentar.
Dokter memeriksakan bayi tersebut lalu memberikannya kepada Atlanta untuk di adzanin. Atlanta pun sangat bahagia melihat putranya.
Atlanta mengeluarkan air matanya lalu mulai membacakan do'a di telinga bayi laki-laki tersebut. Enggak usah tes DNA, Atlanta sudah mengatahui bahwa itu anaknya. Mata, hidung dan bibirnya mirip sekali dengannya.
Walaupun dia tidak menaroh hati kepada Davina, tapi tetap saja anak itu adalah anaknya, dia yang menaroh benih di rahim Davina sehingga anak itu lahir ke dunia.
Setelah mengadzanin bayi tersebut, dokter kembali mengambilnya. Atlanta pun mendekati Davina yang masih terbaring belum membuka matanya.
"Dokter, kenapa istri saya belum bangun juga?" tanya Atlanta.
Dokter itu memberikan bayi Atlanta dan Davina ke suster barulah dirinya mendekati brankar di mana Davina tertidur.
__ADS_1
Dokter mulai memeriksa kondisi Davina. Atlanta pun masih melihat itu sesaksama. Dia begitu takut, mengingat akan kelahiran Cila ke dunia. Dirinyalah yang mendampingi sang bunda.
Atlanta menatap dokter tersebut yang menghela napas panjang lalu memandang juga. Atlanta mengerutkan keningnya bingung.
"Ada apa dokter?" tanya Atlanta.
"Maaf..."
"Maaf kenapa dokter?" tanya Atlanta lagi bingung. "Istriku kenapa?" tanya Atlanta.
"Ibu sudah menghembuskan napas terakhir saat berhasil melahirkan anaknya ke dunia. Kami tidak bisa buat apa-apa, karena ini kehendak maha pencipta. Dia akan tenang ke sana, dia ibu yang hebat," jelas dokter membuat Atlanta terkejut bukan main.
"D-okter tidak bercanda kan?" tanya Atlanta.
"Kami tidak pernah bercanda dengan kematian, pak."
Atlanta menatap Davina sebelum Dokter membawanya pergi untuk di mandikan. Atlanta terduduk di sofa yang ada di dalam ruangan tersebut. Dia belum jangka jika Davina akan pergi setelah melahirkan putrinya.
Bagaimana pun dia sudah berhutang budi kepada wanita tersebut. Atlanta langsung menghubungi seseorang untuk menyiapkan pemakaman untuk Davina.
Setelah Davina di sholatkan serta di mandikan, kini Atlanta mengantar Davina ke tempat beristirahat terakhirnya. Hanya dirinya dan warga sekitar rumah dan rumah sakit, keluarganya tak ada karena setelah menikahi Davina semua keluarganya memutuskan hubungan keluarga dengannya.
"Tenang di sana Davina, terima kasih kamu sudah menitipkan bayi mungil kepadaku," ucap Atlanta meneteskan air mata seraya mengaburkan bunga ke makam wanita tersebut.
Kata bunda Karen, mau se menyangkal apapun mereka. Atlanta adalah tetap anaknya walaupun sudah memutuskan hubungan keluarga.
Dengan siagap bunda Karen langsung memeluk putra sulungnya itu. Atlanta pun menangis dalam pelukan bunda Karen.
Melihat kondisi sekarang, Atlanta kurang mempunyai apa-apa, hanya pengasilan dari cafenya saja dia dapatkan untuk makan sehari-harinya, tapi beberapa hari terakhir ini, cafenya menjadi sepi. Untungnya Davina walaupun dirinya masih seperti itu, Wanita tersebut masih bersamanya.
"Sudah tenang." Bunda Karen melepaskan pelukannya dan mengambil ahli bayi yang di gendong Atlanta. "Kenapa kamu membawa anakmu ke makam?"
"Tidak ada yang menjaganya di rumah, Bun," jawab Atlanta.
( ◜‿◝ )♡( ◜‿◝ )♡( ◜‿◝ )♡
Saat keadaan Atlanta sedang berduka. Beda dengan Leana yang bahagia, karena berhasil melahirkan bayi laki-laki yang sangat tampan duplikat dari suaminya. Dia hanya sedikit sedih, karena Dito yanh memberi anaknya adzan bukan papa kandungnya.
Leona yang ada di sana memeluk tubuh iparnya tersebut, Leana pun sedikit terharu. Walaupun tak ada suaminya, sepupu dan istrinya masih ingin merawatnya.
"Selamat jadi mama muda," ucap Leona membuat Leana menganggukan kepalanya.
Leana kembali menerima tubuh kecil putranya. Dia mencium hidung mancung tersebut, wajah yang masih merah tetapi sudah jelas tubuh bayi itu sangat putih.
__ADS_1
"Lo mau ngasih dia nama apa, Na?" tanya Dito.
"Alanta Arlangga," jawab Leana.
"Kenapa mirip sekali dengan nama Atlanta?"
"Bagaiman pun, dia adalah anaknya Atlan, kak."
Akhirnya Dito menganggukan kepalanya, seraya tersenyum. Semenjak Atlanta menyakiti hati adik sepupunya, sampai sekarang Dito tidak pernah menemani Atlanta lagi.
Follbck of
Beberapa hari kemudian. Leana sudah kembali ke rumah. Wanita itu kembali mendapatkan kabar jika Atlanta masih tak ingin mendatangani surat perceraian tersebut membuat Leana berdecak sebal sekaligus kesal dengan tingkah Atlanta.
Bukannya laki-laki itu sudah menikah? Kenapa tak ingin menceraikannya, itu pikir Leana.
"Egois banget kamu, Ta. Sebal jadinya, enggak suka banget," ucap Leana mendengus.
Dia mendekati putranya yang masih tertidur pulas. Jika melihat Alan dia merasa sedang bersama dengan Atlanta. Dari posisi gimana, anak itu sangat mirip dengan papanya membuat Leana semakin kesal membayangkan wajah Atlanta.
"Kenapa enggak di tanda tangani sih? Tinggal tanda tangan aja sulit banget. Kasihan juga Davina kalau suaminya belum resmi sama aku," ucap Leana.
Drttt!
Deringan ponsel membuat Keana buru-buru mengangkat sambungan telfon tersebut.
"Assalamualaikum."
"Walaikumsslam, ini benar owner tokoh kue Alan cake?"
"Benar."
"Saya yang mesan kue di tempat mbak kemarin lalu. Apakah kue tersebut telah selesai?"
"Alhamdulillah, sudah pak. Tinggal di ambil aja."
"Aduh maaf mbak, apa kamu bisa minta tolong agar mbak bisa mengantar kannya ke kami? Kami tidak sempat, karena sudah melakukan meeting."
Leana terdiam sesaat, lalu berdehem. Itu tak masalah baginya, dia akan meminjam motor Elana untuk membawakan kue.
"Boleh, pak. Antar ke alamat bapak yang sudah bapak tulis itu?" tanya Leana.
"Tidak mbak, saya akan memgirjnkan lokasi saya sekarang. Mbak tunggu saja."
__ADS_1
"Baik," jawab Leana mematinan sambungan telfon tersebut.