
"Sayang, kakak di hasut mereka," ujar Altar membujuk istrinya.
"Ya! Di hasut," jawab Aisha.
Altar mengacak rambutnya furstasi. "Senyum dulu dong, sayang!" pinta Altar, memegang sudut bibir Aisha dan membentuk senyuman.
Aisha menepis tangan altar dan mendengus. "Sana pergi minum-minum lagi, have fun sayangku," ujar Aisha, mencium pipi Altar.
"Gak mau." Altar menggeleng, dia memperlihatkan wajah gemesnya pada sang istri.
"Sana ah, susah masak nasi gorengnya, kakak mau makan nasi goreng gosong?" tanya Aisha.
"Owh iya, kan sudah minum Alkohol makanya gak lapar sebulan kan? Bagus dong irit uang," sindir Aisha.
Altar hanya mendengus kesal, pengen banget dia membenturkan kepala ke dinding.
"Sayang udah dong, kakak minta maaf janji gak ulangi lagi," celetuk Altar, menaikan dua jempolnya.
"Ya!" jawab Aisha singkat.
"Kakak serius!" cerca Altar.
"Ya, kak Altar!"
Aisha mendudukan Altar di kuris makan. "Enteng di sini, awas gerak! Kalau gerak sebulan gak dapat itu... "
Altar buru-buru mengangguk."kakak gak akan gerak!" mantap Altar.
Aisha mencibikkan bibirnya, dia membelakangi suaminya yang sedang duduk tenang.
"Sayang, kamu masak apa aja?" tanya Altar basa basi.
"Masak cancing," jawab Aisha.
"Jorok dong," ujar Altar.
__ADS_1
"Ya!" bentak Aisha, dan menggebrak wajan dengan keras.
Altar tidak berkata kembali, sahutan istrinya membuatnya merinding.
Kini mereka sudha berada di meja makan.
"Sayang makanannya e-"
"Gak usah bersuara, orang makan gak boleh bicara,"ketus Aisha.
Altar mengangguk, melanjutkan makannya tanpa bersuara.
Aisha yang melihat suaminya sepertinya takut, diam-diam dia terkekeh dalam hati.
"Maafin Ais ya kak, tapi Ais gak suka kakak kaya semalam," ujar Aisha dalam hati.
Setelah selesia makan, mereka berdua duduk di sofa sambil menonton TV.
Sedangkan Indah sedang membersihkan dan Mang Ujang memotong rumput di depan rumah.
"Kak Altar," panggil Aisha tiba-tiba, Altar yang sedang makan kue hanya menoleh ke arah Aisha.
Aisha maju sedikit mengambil tisu di atas meja lalu membersihkan bagian bibir Altar yang melepotan coklat. "Ck, ketua geng motor, badboy kejam tapi makan kue aja belepotan, gak cocok gelarnya," jelas Aisha mengejek.
Altar tidak marah dengan ejekan istrinya, dia cuman diam.
"Kakak bisu? Kok gak bicara?" tanya Aisha karena suaminya tidak membalas ucapannya.
Altar hanya menggeleng.
"Terus kenapa, gak balas ucapan Ais?" tanya Aisha.
Altar mengunyah kuenya dengan cepat.
"Kata kamu, kalau orang sedang makan gak boleh ngomong," balas Altar dengan wajah polosnya.
__ADS_1
Aisha mencibikkan bibirnya.
"Sayang," sahut Altar tiba-tiba tidur di paha Aisha.
Aisha hanya berdehem.
"Kakak jadi pengen beli kucing deh," serunya.
Aisha menoleh ke bawah. "Gak boleh, Ais takut kucing kak Altar," balas Aisha.
Altar memanyunkan bibirnya dan menarik tangan istrinya ke atas kepalanya. "puk-puk Sha!" pintanya.
Aisha yang hendak mengikut perintah suaminya namun langsung menurunkan kembali tangannya.
"Kenapa Sha?" tanya Altar menegok ke atas.
Aisha tidak membalas ucapan sang suami dia memilih menatap ke arah depan.
"Sayang," rengek Altar.
Entah mengapa saat ini lelaki itu manja sekali. Apakah efek minum Alkohol? Kayanya gak mungkin.
Aisha mendengus. "Ya kenapa, kak Altar!" hidung Aisha kembang kempis, ingin sekali ia meninju suaminya ke sungai Amazon.
"Jangan kasar-kasar ngomongnya," balas Altar, mengulungkan bibirnya dengan mata berkaca-kaca.
Aisha yang melihatnya tidak kuasa menahan marahnya, dia cepat-cepat mencubit bibir suaminya.
"Cengeng banget sih? Suami siapa sih ini?" tanya Aisha.
Altar menyembunyikan wajahnya di perut Aisha. "Jangan marah lagi, kakak takut," ujarnya dengan suara bergetar.
Aisha melotot, apakah suaminya itu menangis?
Aisha merasa gamisnya basa di bagian perut, cepat-cepat dia membalikan wajah suaminya dan benar saja lelaki itu sedang menangis.
__ADS_1
"Kok menangis? Cowok kok cengeng, katanya ketua geng motor Arogan, paling di takuti, eh malah menangis," bujuk Aisha membelai rambut suaminya.
"Emang cowok gak bisa nangis? Cuman cewek yang boleh nangis?" tanya Altar.