Badboy Suamiku

Badboy Suamiku
~Takdir Cinta Atlanta~ part 52


__ADS_3

Atlanta tertawa terbahak-bahak melihat istrinya terkejut setengah mati. Dia langsung memeluk tubuh mungil tersebut.


"Atlan, aku kaget tahu!"


"Maaf, iya sayang," ucap Atlanta mengecup pipi Leana singkat membuat Leana mengerucut bibirnya.


"Sana berenang cepat!" perintah Leana.


Atlanta pun hanya menurut, dia melompat turun ke kolam. Leana pun menaburkan bunga mawar serta teman-temanmya.


"Sini, sayang." Atlanta ingin menarik tangan Leana untuk turun. Namun, cepat-cepat wanita itu menghindar.


"Enghak mau," tolak Leana.


Atlanta mempunyai ide busuk. Dia menyelam ke bawah. Dan melihat kaki istrinya. Atlanta pun menariknya dari bawah, membuat Leana ikut masuk ke dalam kolam.


"Ih, Atlanta rese," ketus Leana langsung memeluk Atlanta, karena dia takut berenang. "Kan pakaianku jadi basah."


"Coba panggil mas lagi," pinta Atlanta. Dia mendengar tadi istrinya memanggil dirinya menggunakan mas Atlan. Dan Leana ingin mendengar sebutan tersebut.


"Mas Atlan," panggil Leana.


"Sekali dong aku enggak dengar."


Leana mendekatkan mulutnya di telinga Atlanta. Dan berteriak di sana.


"MAS ATLANTA, SAYANG," teriak Leana membuat Atlanta tersenyum lalu langsung mencium dengan lembut bibir Leana yang terus memancingnya tadi.


Leana pun tak protes. Bahkan dia membalas ciuman Atlanta lebih dalam lagi. Semakin lama, semakin memanas. Atlanta menyandarkan istrinya di sisi kolam. Lalu meremas bokong Leana membuat Leana meringis. Namun, ciumannya belum berhenti.


Bunda Karen yang ingin melihat putranya mandi langsung melihat pemandangan panas dingin. Segaranya pun dia berbalik badan kembali masuk ke dalam rumah.


"Astaga gini amat, mana udah enggak ada suami," pekik bunda Karen merasa malu sendiri melihat kelakuan putra dan menantunya.


"Jangan ada yang ke halaman bekakang, iya!" perintah bunda Karen pada pekerja di rumahnya.


"Baik nyonya."


Bunda Karen langsung memasuk ke dalam kamarnya. Yang dipikirkan saat ini, semoga saja sang anak ingat akan sesuatu yang dikatakan. Jika berhubungan harus memakai pengaman, karean Leana hamil muda.


Kembali lagi ke pasangan Atlanta dan Leana. Kini Atlanta sudah ingin memuka pakaian istrinya, tetapi Leana tiba-tiba menghentikannya.


"Ingat tempat," ucap Leana.


"Enak, sayang. Main di kolam," ucap Atlanta. Dia ingin mencoba dengan setuasi yang berbeda.


"Enggak ah, nanti bunda dan yang lain lihat gimana? Kita mainnya di kamar," ucap Leana.


"Di kamar mandi?" tanga Atlanta membuat Leana menganggukan kepalanya.


Keduanya pun berjalan ke kamar. Dan bercinta dalam kamar mandi. Kali ini Atlanta cukup sadar jika sang istri sedang hamil jadi tidak bermain begitu lama, hanya mengeluarkan hasrat saja setelahnya mereka berhenti. Padahal Leana masih ingin. Namun, Atlanta malah berhenti.

__ADS_1


"Kamu lagi hamil, sayang. Mainnya nanti lagi iya," ucap Atlanta mencium pucuk kepala istrinya.


"Masih mau," ucap Leana.


"Udah, sayang. Kamu enggak maukan baby kenapa-napa? Kata bunda, enggak boleh terlalu lama."


Leana menghela napss panjang dan pada akhirnya menganggukan kepalanya. Atlanta pun merapatkan tubuh mereka berdua dan mandi di bawah shower.


Setelah mandi junub, Atlanta menggendong tubuh Leana keluar dari kamar mandi. Dan menidurkannya di ranjang, lalu dia pun ikut tidur.


"Segarkan?" tanya Atlanta.


"Segar, tapi kurang," jawab Leana. "Kurang banget, biasanya aku bakal dapat pelepasn banyak banget. Kok sekarang baru dua kali?"


"Yang penting enakkan?"


Leana menganggukan kepalanya membuat Atlanta terkekeh. Dia pun menarik tubuh Leana untuk tidur di lengannya. Mereka pun tidur dengan nyenyak.


⊂((・▽・))⊃⊂((・▽・))


Kini kita kembali ke pasangan Alsha Altar Aisha. Author kangen sama mereka jadi satu bab ini aku sisain buat mereka berdua.


"Kak," panggil Aisha.


Altar yang tidur sambil memeluk sang putri menoleh ke arah sang istri.


"Jangan di cium mulu, Fishanya. Nanti memerah pipinya, kak," ucap Aisha saat Altar terus saja mencium bertubi-tubi pipi sang putri.


"Kangen banget," bisik Altar.


"Kan tiap hari sama, kok bisa kangen?" tanya Aisha.


"Enggak tahu," jawab Altar mencium leher istrinya yang mempunyai bau bayi.


"Kayanya kamu bakak hamil lagi, deh sayang," ucap Altar asal ucap saja.


"Enggak dulu, kak. Fisha masih kecil, belum saatnya mempunyai adik. Jalan pun dia belum."


"Aku ngerti sayang, enggak maksa juga kok. Kakak cuma ngode buat kamu ngasih jatah buar papah. Udah seminggu loh libur," ucap Altar.


"Ya udah ayo."


"Udah selesai haidkan?" tanya Altar membuat Aisha menganggukan kepalanya.


Dengan semangat pun Altar menidurkan sang istri di ranjang. Saat hendak melakukan pemanasan, tiba-tiba saja Fisha bangun dan duduk.


Dengan refleks pun Altar bangun dari atas Aisha. Aisha pun buru-buru mengancing dasternya.


"Kenapa bangun sih ini anak?" tanya Altar dalam hatinya. Padahal baru saja dia akan buka puasa, sudah tak jadi deh.


"Apah anapa aik ubuh umi?" tanya Fisha. Hanya Aisha dan Altarlah yang paham dengan bahasa gadis kecil tersebut.

__ADS_1


"Itu, sayang. Kan umi sakit perut tuh, jadi apah mau mijitin umi."


"Tenapa alus uka-uka aju?" tanya gadis kecil tersebut kembali.


"Kan kalau di pijat tuh harus buka baju dulu, sayang. Biar apah bisa mijit umi."


"Enarkah?"


Altar berdehem, dia menidurkan kembali bocah cerewet tersebut. Agar dia secepatnya buka puasa.


"Sayang jangan tidur, dulu ih. Kakak kan belum buka puasa," imbuh Altar saat Aisha ingin menutup matanya.


"Aku enggak tidur! Cuma tutup mata aja," ketus Aisha.


"Bobok, sayang," pinta Altar menepuk bokong putrinya agar secepatnya kembali terlelap.


Sekitar lima belas jam. Gadis itu sudah tertidur dengan pulas. Altar pun mengajak istrinya ke sofa, untuk main di sana agar sang anak tak terganggu dengan permainan mereka.


"Bismilah."


Keeskan paginya. Keduanya masih terlelap di bawah selimut yang sama. Bahkan, bocah imut tersebut yang membangunkan kedua orangtuanya. Untungnya semalam mereka tidak bertelanjang dada jadi aman.


Aisha membuka matanya, dia menepuk bahu sang suami agar menjauhkan tangannya di atas tubuhnya.


"Umi ama angun. Cha mau inung cucu," omel baby Fisha membuat Aisha terkekeh.


Aisha menggendong putri kecilnya keluar dari kamar untuk dibuatkan susu. Memang setiap pagi Aisha akan membuatkannya susu, karena sudah tidak mengasi lagi semenjak Aisha memberikan balsem ke asinya.


"Maaf iya, anak umi. Umi lama bangun iya?"


"Iya, adi ugah Cha angunin apah utu angun cholat, api apah ndak angun. Umi."


"Ya udah maaf iya."


"Mana cucu Cha?" tanya bocah itu lagi membuat Aisha terkekeh dan menyimpan segelas kecil susu di depan Fisha.


"Aci umi."


"Sama-sama, sayang."


Aisah berjalan kembali ke dapur dan menyuruh bibik untuk menyiapkan sarapan. Barulah dia membangunkan sang suami untuk bersiap ke kantor.


"Kak," panggil Aisha menyalahkan lampu kamar. Dia menggoyangkan lengan Altar yang besar tersebut.


"Tujuh menit lagi," pinta Altar mencium punggung tangan istrinya lalu kembali memejamkan matanya.


"Ayo bangun, kak. Kakak akan terlambat ke kantor, kakak juga harus antar aku buat imunisasi Fisha," ucap Aisha menarik lengan suaminya.


"Hug dulu." Altar merentangkan tangannya membuat Aisha menghela napas panjang lalu memeluk suaminya itu.


"Cium."

__ADS_1


Aisha hanya menurut, dia mencium pipi dan bibir sang suami. Barulah Altar bangun dan berlari memasuki kamar mandi. Aisha merasa di sini yang bayi itu Altar bukan Fisha. Soalnya Fisha lebih berakal dari pada apahnya yang suka tantrum kalau dia belum di manja seharian.


__ADS_2