
Leana meninggalkan Atlanta sendirian di museum tersebut. Akhirnya Atlanta naik taksi, sesampainya di rumah Leana sudah siap membereskan seluruh pakaiannya ke dalam koper.
"Astaga, sayang," pekik Atlanta.
Leana tak sama sekali menoleh ke belakang. Dia masih fokus membereskan barang-barangnya.
"Sayang." Atlanta menarik tangan istrinya membuat Leana langsung menatapny, wanita itu sudah menangis sesengukan membuat Atlanta tidak suka.
"Aku jelasin, iya. Aku bukannya tak ingin lagi bayarin semua kebutuhan kamu, tidak sayang lagi sama kamu. Aku sayang sama, aku cinta sama kamu. Aku cuma takut kebab itu mubazir kamu tidak pernah makan kaya gitu. Kasihan dong kalau makanannya di buang."
Atlanta mendudukan istrinya di tepi ranjang. Leana masih sesengukan. Dia tidak mempermasalahkan masalah kebab, tapi dia mempermasalahkan tentang Atlanta dan Davina tadi.
Laki-laki tersebut ingin menyosor mencium bibir Leana, karena hanya itu yang mampu membuat Leana tak marah lagi kepadanya. Namun, Leana malah menghindar.
"Aku tidak ingin ciuman bekas ulat keket!" imbuh Leana.
Atlanta langsung menghela napas panjang. Dia berjongkok di depan istrinya. Ia memegang kedua tangan Leana, Leana menepisnya, tapi Atlanta menariknya kembali.
"Sayang," panggil Atlanta. "Aku minta maaf, tadi yang kamu lihat tidak seperti yang kamu pikirkan, aku tidak sengaja sayang. Dia yang melakukan hal itu!"
"Bohong! Kamu yang nunduk, dan menciumnya. Apakah semu yang aku berikan belum cukup untukmu? Apa memang kamu memilihnya? Ya sudah sana pergi!"
"Astaga, aku ingin mengambil sepatumu, dan dia malah menarikku sehingga aku menciumnya."
"Bisakan kamu pergi aja? Kenapa tinggal? Masih punya rasa? Enggak rela ninggalin dia?" tanya Leana berturut-terut.
"Bukan begi-"
"Udah deh pusing aku dengar alasan enggak masuk akalmu, mending awas-was." Leana mendorong tubuh Atlanta, dan kembali membereskan barangnya.
Atlanta yang geram langsung mendorong tubuh Leana ke ranjang, lalu menciumnya dengan kasar membuat Leana memberontak. Namun, Atlanta malah menahan kedua tangannya.
__ADS_1
"Laki-laki bajingan, gue enggak mau," teriak Leana menggigit bibir Atlanta membuat ciuman mereka terlepas.
"Kenapa di gigit?"
Leana hanya terisak, dia bangun dan menangis. Bayangan masa lalunya kembali lagi, di mana Atlanta memaksanya untuk melakukan hal tersebut dengan paksaan, dia juga sempat hampir di lecehkan oleh pamannya sendiri di Australia, dan hal itu kembali terngiang-ngia di kepala Leana.
"Pergi!" teriak Leana. "Jangan deketi gue." Leana terus menghindar.
Atlanta langsung terdiam melihat istrinya ke takutan, dia jadi merasa bersalah.
"Sayang, maaf," ucap Atlanra ingin meraih Leana. Namun, Leana malah turun dari ranjang.
"Jangan mendekat aku bilang!"
"Ini aku sayang suami kamu. Aku Atlanta."
"Jangan mendekat ku mohon," mohon Leana berjongkok dan merentangkan tangannya ke atas.
"Aku mohon, aku enggak mau. Biarkan aku bebas," ucap Leana menangis.
"Maaf," ucap Atlanta. Walaupun tidak tahu kenapa istrinya tiba-tiba seperti ini, tapi pastikan ada rasa trauma yang dirasakan wanita tersebut.
"Aku takut, tolong bawa aku pergi dari neraka ini. Kenapa semuanya mengincar ku? Bahkan paman aja ingin melecehkanku," ucap Leana.
"Sayang," panggil Atlanta. Namun, tak ada sahutan lagi dari wanita tersebut, mungkin udah terlelap di pelukan Atlanta. Atlanta pun lanshunh mencium pucuk kepala istrinya lalu membawanya ke ranjang.
Atlanta menidurkan Leana di ranjang, menatap mata istrinya. Masih saja terlihat begitu ketakutan.
"Aku enggak tahu kamu kenapa, tapi aku minta maaf karena telah memaksamu tadi. Mungkin kamu pernah merasakan di paksa, atau masalah dahulu yang aku memaksamu untuk mengambil keperawanan mu. Maafin aku, sayang."
Atlanta mncium pipi dan bibir Leana sekilas, lalu menyelimuti istrinya. Lalu setelah itu dia keluar dari kamar.
__ADS_1
"Tadi obat yang aku suruh beli udah datang?" tanya Atlanta.
Maid itu pun mengambil obat yang tadi di suruh Atlanta suruh beli.
"Kalau tespecknya?" tanya Atlanta.
Maid kembali memberikan tespeck yang Atlanta suruh beli. Atlanta sudah menelfon bundanya, karena sang istri terus mula dan moodnya berubah-ubah, akhirnya bunda Karen menyuruhnya untuk membeli tespeck.
"Makasih." Setelah mendapatkan apa yang dia inginkan, dia pun masuk kembali ke kamar. Dia duduk di tepi ranjang, lalu mengusap dengan lembut surai istrinya.
Atlanta membiarkan Leana tidur, sekitar setengah jam. Leana terbangun dan memanggil namanya, Atlanta yang baru saja keluar dari kamar mandi setelah membersihkan diri langsung menghampiri sang istri.
"Kenapa hem?" tanya Atlanta. Leana menatap tubuh suaminya dari atas sampai bawah. Rambut yang basah, serta cucuran air di tubuhnya membuat laki-laki tersebut semakin tampan.
"Gantang," ucap Leana.
"Terima kasih, aku tahu kok," jawab Atlanta membuat Leana membalikan wajahnya merasa malu.
"Sayang," panggil Atlanta.
"Kenapa?"
"Aku tadi telfon bunda, dan memberitahukan kondisimu dan nunda menyuruhku kembali membelikan tespeck untukmu. Katanya coba di periksa siapa tahu kamu hamil lagi," ucap Atlanta memberikan tespeck yang dia simpan di atas nakas kepada istrinya.
Atlanta tak begitu yakin. Namun, kata bundanya di coba dulu tak masalah. Siapa tahu benar jika Leana memang sedang hamil? Yakali usahanya setiap malam, pasti Allah akan memberikan hasil keringatnya.
Leana mengambil tespeck tersebut. Lalu berjalan masuk ke dalam kamar mandi. Atlanta pun menunggu di luar. Beberapa saat kemudian pintu kamar mandi terbuka.
"Gimana sayang?" tanya Atlanta.
Leana memberikan tespeck tersebut kepada duaminya, karena dia tak berani melihatnya.
__ADS_1