
Malamnya tiba, kedua pasangan tersebut berada di balkon kamar. Atlanta sedang memeluk sang istri dari belakang. Sedangkan Leana diam dan menikmati angin sepoy-sepoy.
"Kamu tahu enggak sayang?" tanya Atlanta. "Saat aku tidak bisa menemukanmu, aku merasa tidak ada setujuan lagi. Aku enggak tahu aku harus ngapain lagi jika aku kehilangan kamu."
Leana berbalik ke belakang menangkup kedua pipi Atlanta lalu mencium bibir tersbeut. Atlanta pun membalasnya dengan lembut. Ciuman yang tadi sempat tertunda karena kedatangan sang bunda. Kini semoga saja tidak ada halangan.
Atlanta menggendong istrinya ke dalam kamar, menidurkannya di ranjang. Tanpa ciuman mereka lepas. Ciuman tersebut semakin dalam membuar keduanya semakin terlena.
Suara mulut ke mulut menjadi nada malam di sana. Bulan serta bintang-bintang yang menyaksikan perbuatan mereka berdua.
"Atlan," panggil Leana dengan tak jelas karena Atlanta masih menciumnya. Wanita tersebut menepuk bahu Atlanta sehingga Atlanta mengudahinya.
Leana dan Atlanta mencoba mengatur napas masing-masing yang sama-sama memburu. Atlanta tidur di samping sang istri, memeluk Leana dengan erat Leana pun membalasnya.
Pagi tiba, kakak sepupu Atlanta yaitu Altar dan juga anak dan istrinya datang berkunjunglah untuk melihat kondisi Leana. Bukan hanya mereka yang datang, teman-teman Atlan pun ikut.
"Gimana keadaanmu?" tanya Aisha.
"Aku baik-baik saja kak Ais," jawab Leana. "Namun, tidak dengan buah hatiku dengan Atlan," lirih Leana.
Aisha memeluk istrinya Atlanta tersebut. Dia pernah berada diposisi Leana, kehilangan buah hati pertama, dan itu benar-benar menyedihkan.
__ADS_1
"Yang sabar, iya. Nanti kalian bisa mendapatkannya lagi, mungkin kali ini Allah masih tak ingin memberikan bayi tersebut kepada kalian, karena akan ada kejutan selanjutnya."
Leana menganggukan kepalanya. Dia akan berusaha agar menerima ini semua. Dia harus ikhlas, mungkin belum rejeki.
"Jadi Mahesa ketua geng motor lo yang culik, Leana?" tanya Kendra membuat Atlanta kenysnggukan kepalanya.
"Jadi sekarang lo mau ngasih pelajarannya apa kepadanya?" tanya Altar.
"Kalian enggak perlu tahu, tapi yang jelas hukumannya sedikit setimpal akan rasa sakit yang gue dan istri gue rasain."
Altar menepuk bahu sepupunya. "Gue cuma peringati ke lo. Apapun hukumannya, jangan sampai ada katakan kematian. Ingat menjadi narapidana itu enggak baik, dan biss merusak masa depanmu dengan Leana."
"Gue dengar-dengar om Mahendra kembali?" tanya Altar.
Atlanta mengangguk-anggukan kepalanya. "Bahkan, ayah yang membantu gue untuk mencari Leana."
"Bukan apa-apa ya, Lan. Gue cuma takut dengan kembalinya bokap lo."
"Gue tahu," jawab Atlanta. "Gue juga waspada dan tak muda untuk mempercayainya. Siapa itu tipu dayanya saja, supaya gue percaya ke dia dan dia malah menusuk gue dari belakang."
"Dia lupa kalau gue anaknya, gue mengikuti separuh sifatnya."
__ADS_1
Setelah lama berbincang-bincang, akhirnya mereka pamit untuk pulang. Leana pun kembali merasakan kesepian di rumah.
"Udah dong sedihnya, gimana kalau kita jalan-jalan keluar rumah?" tanya Atlanta.
"Ayo," seru Leana seketika membuat senyuman Atlanta terbit.
Mereka pun langsung bersiap, dan Atlanta mengajak istrinya jalan-jalan menggelilingi kota besar tersebut.
"Kamu masih ingat tempat ini?" tanya Atlanta saat dia membawa sang istri ke perbukitan. Di sana akan banyak orang yang akan menunggu sunset yang indah datang.
"Tentu, di mana pertama kali kamu menyatakan cinta kamu. Padahal dulu aku mengatakan, cinta kita hanya sebatas cinta monyet."
"Coba bayangkan mana ada bocah berusia dua belas tahun yang akan jatuh cinta?"
"Ada, buktinya aku! Aku mencintaimu semenjak kita duduk dibangku kelas satu smp, dan rasa itu masih ada sampai sekarang, Leana. Kamu masih ingat janji kita berdua?"
"Kita akan berjanji untuk bersama sampai hayat memisahkan kita berdua."
"Dulu aku berpikir jika janji ini tidak akan pernah terhujut, karena perpisahan kita."
"Adakan yang namanya takdir? Makanya judul cerita kita adalah Takdir Cinta Atlanta," ucap Atlanta.
__ADS_1