
Di saat Altar sedang menyelesaikan hafalannya di atas kamar, Aisha segera menjalanakan aksinya.
Dia berjalan ke arah pintu belakang rumah, dimana dia sudah saling tunggu dengan keempat teman suaminya.
Aisha langsung membuka pintu, dan sedikit bernafas lega, dia mengambil porsi seblaknya yang di pegang oleh Evan.
"Makasih, kalau gitu kalian pulang deh! Kalau ketahuan, bonyok kan!" usir Aisha.
Cakra yang ingin protes namun tak jadi karena ketiga temannya menarik kerah hoodienya, pergi.
Aisha pun masuk kembali, dia tidak mungkin makan di ruang tamu atau di meja makan jadi dia memutuskan akan makan di halaman belakang, yang di hiasi banyak lampu.
"Akhirnya," ujar gadis itu dengan berbinar mencium haroma khas seblaknya.
Saat Aisha ingin memasukannya dalam mulut, tiba-tiba seseorang mengambil sendok beserta porsi seblak itu dari pangkuannya.
Aisha memanyunkan bibirnya, menoleh ke atas melihat suaminya.
"Siapa suruh makan? Kenapa kamu bandel? Kamu mulai ingin berbohong sama kakak? Mulai gak nurut?" tanya Altar berturut-turut.
"Ais ka-" belum sempat melanjutkan ucapanya, gadis itu sudah menangis.
Altar menghela nafas lalu ikut duduk di samping sang istri. "Tukang nangis," ejek Altar membuka cadar Aisha dan menghapus air matanya.
__ADS_1
Aisha menepis tangan Altar, dan berdiri.
"Sekali aja gak boleh, kakak marah-marah mulu, apa-apa gak boleh!" bentak Aisha, mengerucut kesal.
"Kakak bukannya bikin Ais senang, malah membuat Ais merasa serba di batasi! Itu salah ini salah, jangan makan itu, itu gak baik gak sehat. Aisha tau kakak perhatian sama Ais, tapi kakak tau gak sih? Bahwa kakak sangat berlebihan?" tanya Aisha, menarik cadar yang di pegang Altar dan pergi begitu saja.
Altar menatap ke pergian istrinya, dia menghela nafas dalam-dalam.
"Berlebihan?" tanya bergumam.
Altar membuka ponselnya, bukan malah menyusul sang istri yang sedang marah.
Ingin suaminya menghampirinya, dan membujuknya agar tidak marah namun tidak ada hasil sama sekali untuk Aisha.
Sesampainya di kamar, gadis itu terus saja melap air mataya, entah mengapa terus saja turun padahal dia tidak ingin menangis.
"Aku aduhin ke bang Rigel!" ketus Aisha sambil berusaha menghubungi abangnya.
Panggilan kedua, Rigel mengangkat sambungan video darinya.
"Assllamualaikum," ucap Rigel tersenyum di seberang sana. "Dek kenapa? Ko mata dan hidungnya merah? Habis nangis?" tanya Rigel berturut turut.
"Walaikumsallam," balas Aisha. "Kak Altar jahat!" aduhnya pada sang abang.
__ADS_1
Rigel terlihat mengeruk kening. "Altar, ngapain adek abang? Sampai nangis gini? Coba cerita sama abang dek."
Dengan suara sesengukan, Aisha menceritakan pada abangnya.
dulu sang abang adalah tempat pengadunya, saat teman-temannya selalu mengejeknya dengan sebutan cewek aneh, setelah mengcepu pada Rigel, lelaki itu pun akan melabrak orang yang membuat adiknya menangis.
Rigel menggaruk belakang kepalanya, menurutnya adiknya yang salah di sini namun di sisi lain Altar pun sama-sama salah. Selain bertengkaran mereka berdua sudah di luar kendali, Rigel tak ingin ikut campur dengan urusan rumah tangga sang adik.
"Coba kamu sekali-kali bujuk dirinya, minta maaf," saran Rigel.
Aisha cepat menggeleng. "Kok Aisha yang minta maaf dan harus membujuknya? Bukannya dia yang salah di sini! Jadi dia yang harus bujuk Ais!" ketus Aisha, merasa abangnya berpihak ke suaminya.
"Gak apa-apa dek, wajar istri minta maaf pada suaminya."
"Udah ah, abang sama aja!" kesal Aisha mematikan ponselnya.
Aisha menyimpan ponselnya dan menidurkan dirinya, sampai terlelap dengan hidung yang sudah tersumbat.
Sebenarnya Altar ada di balik kamar. Di saat sudah melihat istrinya sudah terlelap dia memasuki kamar.
Ia memakaikan selimut pada tubuh sang istri.
Altar ikut naik ke atas ranjang. "Maafin kakak ya? Mungkin benar kakak kali ini berlebihan pada mu, mungkin kakak sudah sangat takut kamu kenapa-napa, maafin aku sayang," ucap Altar, membelai rambut Aisha yang penuh keringat, padahal saat ini AC dalam kamar nyalah, entah memang Aisha yang mudah sekali kepanasan.
__ADS_1