Badboy Suamiku

Badboy Suamiku
~Badboy Suamiku •Chapter 53•


__ADS_3

"Ferry?" tanya Altar.


Kendra hanya berdehem. "Tapi gue belum terlalu mengetahui edintitasnya, mungkin nih si Ferry licik juga anjir, gue sampai kesusahaan nyari taunya," jelas


"Ferry, gue gak asing dengan namanya," sahut Altar.


"Siapa tau si Ferry, teman harisan mamah lo," tebak Kendra.


"Sembarangan lo, tapi ada benarnya juga," pikir Altar.


"Btw keadaan Aisha, gimana Tar?" tanya Kendra.


"Udah membaik, cuman masih butuh hiburan agar kejadian yang menimpahnya tidak dia jadikan bahan pikiran," jawab Altar.


"Lo gak ada niatan, ajak dia ke dokter psikiter?" tanya Kendra, seperti memberi saran.


"Tidak, gue masih bisa mengurus kesembuhan istri gue sendiri, dia pasti sembuh tanpa bantuan dokter paskiter atau psikolong," tolak Altar.


"Lakukan yang terbaik Tar," balas Kendra. "Kalau gitu gue matiin iya! Gue penasaraan banget sama nih, si Ferry," lanjut Kendra.


"Beri tau gue, kalau ada kabar baru," pinta Altar, dan hanya di di berikan deheman dari Kendra.


Kendra pun mematikan telfon secara sepihak.


"Ferry? Gue sepertinya pernah dengar," gumam Altar, kembali ke arah brankar.


Altar tersenyum. "Cantik banget Masy-Allah, adem banget lihatnya," lirih Altar, mencium sekilas bibir yang berwarna pink alami milik sang istri.


"Seberuntung ini iya gue dapatin gadis seperti dia? Gue gak nyesal nerima perjodohan ini," gumamnya dalam hati. "Kalau tau-tau gini, dulu gue gak usah sok mau kabur dari rumah," kekeh Altar.


"Kakak bakal bantu, kamu pulih sayang." Altar duduk di kursi, lalu mencium punggung tangan Aisha.

__ADS_1


Altar lebih memilih memandang wajah cantik istrinya, dari pada tidur.


Beberapa saat kemudian, adzan subuh sudah berkomandang. Altar pun mulai membangunkan sang istri.


"Sha bangun," pinta Altar, mengusap-usap pipi mulus Aisha. "Sayang bangun," bisik Altar.


"Kak Altar, Ais ngantuk," celetuk Aisha.


"Sholat subuh sayang, ayo bangun! Setelah ambil air wudhu ngantuk mu bakal hilang."


Aisha mengucek matanya dan mengejap, yang pertama dia lihat adalah suaminya dengan senyuman mengembang.


"Ayo bangun," pinta Altar, menuntut Aisha.


"Mau di gendong?" tanya Altar, dan hanya di angguki oleh Aisha. Altar pun mengangkat tubuh istrinya, tangan kirinya memegang selang infus Aisha.


Altar mendudukan Aisha di tepi closet.


Altar pun keluar dari Wc.


**************


"Kalian kok repot-repot banget sih? Bukannya Ais gak mau! Tapi ini kebanyakan, tapi terima kasih iya," ujar Aisha, pada keempat teman suaminya.


"Ini iya bu ketua! Kata tetangga gue! Kalau bu ketua makan banyak buah nanti punya dedek! Jadi Vier dan yang lain bawain buah deh, agar bu ketua cepat hamil," jelas Vier.


"Hoax dari mana ini ya Allah? Main celap celup aja belum, masa udah punya dedek," ujar Altar dalam hati.


Aisha hanya tersenyum kecut, dan melirik Altar sekilas.


"Terserah kalian, deh," cerca Aisha menggeleng.

__ADS_1


Altar malah tersenyum, kayanya istrinya bakal melupakan peristiwa yang terjadi semalam, kalau teman-temannya yang pada bersifat absrud menghibur istrinya.


"Sayang kamu makan dulu, biar cepat pulih!" sahut Altar.


Aisha hanya mengangguk, dia membuka mulutnya, saat Altar menyiuapinya bubur menggunakan sendok.


"Tar tentang mas-" Ucapan Cakra terpotong, karena Altar memberinya kode agar tak membahas hal itu sekarang.


Dia tak ingin istrinya kembali, mengingat kejadian semalam.


Cakra manggut-manggut mengerti, dia akan memberi tau Altar sebentar saja.


"strong bu ketua!" ujar Evan, dan di senyumi oleh Aisha.


"Strong, stres tak tertolong?" tanya Vier.


"Serah lo, kembang tujuh rupa!" cibir Evan, memutar bola matanya jengah.


Aisha tertawa kecil, sehingga membuat Altar kembali tersenyum.


"Akhirnya, ke bobrokan mereka ada manfaatnya," ucap Altar, dalam hati.


"Bu bos tau gak sih? Bedanya Vier sama pohon yang ada di luar sana?" tanya Evan.


Aisha menggeleng.


"Kalau pohon yang ada di sana kokoh! Kalau Vier, lentoy." Evan berniat melawak, namun tidak ada yang tertawa.


...****************...


__ADS_1


__ADS_2