
Setelah memberi tau Marwa kalau saat ini Aisha tengah mengandung, wanita paruh baya itu kelihatan sangat bahagia bahkan dia segera menelfon suaminya untuk pulang hanya berita ini padahal Kana sedang ada meeting dengan klean penting, namun karena paksa sang istri, Kana pun akhirnya pulang.
Marwa bercoloceh akan mengadahkan syukuran besar-besaran namun, mendengar lagi kalau besannya saat ini tidak baik-bail saja, Marwa mengurunkan niat.
Marwa saat ini sedang memeluk menantu tersayangnya, yang tengah menangis tanpa henti, mengingat dengan keadaan sang ayah.
"Sayang, kita di sini do'in kesembuhan abi kamu, dia akan pulang dan kita sama-sama merayakan hari paling bahagia ini. Kamu juga jangan lupa memberi tau mereka ke sana ya!" Marwa memeluk tubuh menantunya yang sedang menangis.
Aisha mengangguk. "Setiap hari Ais berdo'a, semoga abi cepat sembuh dan pulang bertemu dengan ku, dia pasti sangat gembira mendengar kabar bahagia ini," jelas Aisha dengan suara serak efek menangis.
Altar mengambil ahli istrinya dari pelukan sang mama. " Udah dong sayang, jangan nangis kakak gak suka, nanti selesai acara kelulusan, kita jengukin mereka ya? Semoga aja juga sebelum acara kelulusan kita, mereka sudah pulang dengan abi yang sehat, berlari tergesa-gesa menemui putri cantiknya ini, yang akan segera memberinya cucu." Altar berusaha menenangkan istrinya.
Altar menghapus air mata istrinya, mata yang mulai membengkak. Padahal kemarin-kemarin istrinya itu sangat tegar tidak kepikiran terus-terusan dengan keadaan sang ayah yang bertarung nyawa dengan alat-alat medis di tubuhnya.
"Tar, bawa istri mu kekamar!" pinta Kana, merasa kasian melihat menantunya. "Tinggal lah di sini beberapa hari, ada Mama yang menjaganya, yang lebih tau tentang wanita hamil," saran Kana, berlanjut.
Marwa mengangguk, membenarkan jawaban sang suami, yang menyuruh mereka tinggal beberapa hari dulu di sana.
__ADS_1
Altar hanya berdehem. "Altar bawa Ais kekamar dulu ya Mah, pah," pamitnya, dia menggendong tubuh istrinya ke kamar miliknya.
"Kak Altar, gimana kalau kondisi abi makin b-" Belum sempat melanjutkan ucapannya, Altar lebih dulu memotongnya.
"Sttt... Jangan berbicara seperti itu, yakin lah kalau abi akan sembuh," sela Altar menidurkan tubuh istrinya di ranjang.
"Ais, takut kak," keluh Aisha menatap senduh ke arah Altar.
"Yaudah, kita telfon abang Rigel, menanyakan kondisi abi!" cerca Altar, merengok saku celananya mengambil ponselnya lalu mulai menelfon sang abang.
Sudah panggilan kelima namun tidak ada tanda-tanda Rigel akan mengangkat telfonnya bahkan ponselnya saat ini sedang tidak aktif.
"Siapa tau bang Rigel sedang mengerjakan suruhan dokter? Makanya dia gak angkat, kamu jangan traveling kemana-mama dulu pikirannya, sayang," bujuk Altar menggenggam tangan wanitanya.
"Gak bisa kak, Ais merasa ada yang gak beres, Ais takut," ujar Aisha, mengacak rambutnya furstasi.
"Sayang," panggil Altar langsung menarik istrinya kedalam pelukan. " Kamu harus positif tingking, buang pikiran buruk kamu itu, ingat jangan terlalu banyak pikir, kamu sedang hamil," kata Altar sambil mengelus lengan sang istri agar tenang.
__ADS_1
"Abi, tidak bakal kenapa-napa kan? Abi akan pulang dengan keadaan sehat'kan, kak Altar?" tanya Aisha, penuh kepastian pada sang suami.
Altar mengangguk. "Kita berdo'a aja, semoga abi baik-baik aja," jawab Altar.
"Aku mau kepastian!" celetuk Aisha. "Ayo kak Altar, kita ke Australia, Ais mau lihat langsung gimana keadaan abi," sambungnya merengek pada Altar dengan air mata terus mengalir.
"Gak bisa sekarang, sayang," tolak Altar.
"Tapi kenapa?" tanya Aisha namun tak ada jawaban. "Tapi kenapa kak Altar!" bentak Aisha sambil memukul dada suaminya.
"Kaka jahat, jahat banget," umpat Aisha menggigit dengan kuat lengan Altar, sehingga lelaki itu meringis kesakitan namun tetap kokoh memeluk sang istri.
Aisha terus mengatai Altar.
Sampai hingga saatnya, Altar tidak mendengar ocehan Aisha lagi.
Altar mendongek ke bawah membelai rambut yang menutupi wajah istrinya.
__ADS_1
"Sayang," panggil Altar menepuk dengan pelan pipi istrinya, tangan wanita Itu dingin membuat Altar panik.