Badboy Suamiku

Badboy Suamiku
~Badboy Suamiku •Chapter 64•


__ADS_3

Ilona memundurkan kursi menggunakan kakinya. Saat ini Ilona benar-benar panik di perbuat Altar.


"Lo tenang aja, dia gak bakal gigit lo. Kalau, lo gak berteriak, atau coba-coba kabur," sahut Altar.


"Ombih lo temanin dia dulu di sini, kalau dia berteriak atau mencoba kabur, lo tinggal lahap aja!" ujar Altar ambingu, mengajak hewan bicara.


Hewan itu sudah jinak pada Altar, Ombih kucing besar alias harimau. Hewan peliharaan Altar.


Altar tersenym devil, beranjak pergi dari sana, meninggalkan Ilona dengan Ombih si kucing besar.


Saat Altar sudah menghilang dari pandangan Ilona, gadis itu berteriak, membuat Ombih mengeluarkan suara kematiannya.


Ilona memilih diam dengan perasaan di ujung kematian.


"Wah, kalau anak orang mati di dalam sana gimana Tar?" tanya Kendra.


"Ya dah, mending lo penjarain dia, dari pada mati di lahap Ombah Ombih, dapat masalah lagi."


"Yak! Gak apa-apa misalnya dia mati di lahap Ombih, yang penting bukan kita yang lahap," timpal Vier, berada di tim Altar.


Altar memberi jempolnya pada Vier. "Kali ini otak Vier lebih bekerja dari pada kalian," seru Altar, memuji Vier. Yang di puji udah merasa akuh dan sombong.


Dengan Menampilkan wajah tengilnya, lelaki itu mulai berbicara. "Gue memang pintar," seru Vier, membangga.


"Udahlah, gue mau pulang! Thx lo pada udah bantu gue," ujar Altar.


Dia meregok saku celananya dan mengeluarkan beberapa lembar uang merah. "Nah buat kalian makan."

__ADS_1


Mereka yang melihat uang merah seperti kembangnya si mawar, langsung berbinar.


Saat Cakra hendak mengambilnya, tiba-tiba Vier merampasnya lebih dulu dari tangan Altar.


"Wah, bagi njir," teriak mereka bertiga, mengejar Vier yang memegang uang merah empat lembar.


Altar terkekeh dan menggelengkan kepala melihat kelakuan keempat temannya. Padahal bapak mereka gak kalah kaya sama seperti bapak Altar.


The real bukan beban keluarga, melainkan beban teman.


Altar ikut meninggalkan tempat di mana dia menyuruh hewan peliharanya memantau Ilona.


Altar sudah sangat kangen dan ingin cepat-cepat bertemu dengan istri tersayangnya.


Sesampainya dia di rumahnya. Dia bergegas masuk bahkan mobil belum terparkir dia sudah turun dan meninggalkan Marko sendiri dengan kopor pakaian miliknya.


"Asslamualaikum, Sha gue pulang," teriak Altar.


" Walaikumsallam" teriak orang yang ada di rumah.


"Iya dah, yang di anggap saat ini cuman Ais, kita mah bagaikan debu, Ind," sindir mamanya menyauhun.


Altar hanya mencibikkan bibirnya ke arah mamanya yang sedang menjahit bersama Indah.


Saat melihat istrinya di dapur, Altar segera menghampirinya dan memeluk Aisha dari belakang.


tanpa memikirkan bahwa mamanya dan Indah ada di sana.

__ADS_1


Aisha yang kaget saat merasa ada yang menyentuh pinggangnya.


Gadis itu menyubit perut keras suaminya, saat tau bahwa pelakunya Altar. "Ngagetin aja. Aku kira Cakra yang datang, jadi Aisha gak nyamperin," ujar Aisha mematikan kompor dan membalikan badannya ke arah Altar.


Aisha menggalunkan tangannya di leher sang suami.


Altar cemberut. "Emang suara kakak, mirip Cakra?" tanya Altar.


Aisha mengangguk.


"Mana ada!" protes Altar, dia tidak suka kalau di mirip-miripin dengan seseorang.


"Kak Altar, kakak udah dapat kabar tentang mereka di sana?" tanya Aisha.


Altar terdiam mendengar pertanyaan Aisha. Sungguh dia tidak ingin berbohong pada istrinya, Altar juga sudah berjanji pada mertuanya dan iparnya, bahwa tidak akan memberi tau Aisha.


Altar berdehem. "Kakak sudah dapat kabar, bahkan kakak sudah bertemu dengan mereka. Mereka baik-baik aja, hanya saja sibuk jadi tidak sempat mengaktifkan ponsel. Tapi kakak udah bilang segera aktifin ponselnya, agar istri aku bisa mendapatkan kabar dari kalian," dusta Altar, menjelaskan pada sang istri.


"Kakak kok gak panggilan video dengan Ais? Ais kan pengen lihat mereka."


"Kakak lupa sayang, maaf ya! Sebentar malam kita hubungi mereka," bujuk Altar.


Aisha hanya berdehem. "Kakak lapar? Bentar ya Ais siapin dulu!" Aisha hendak membalikan badannya, namun Altar mencegah.


Altar menggeleng. "Makan kamu aja, sayang!" ujar Alta, tersenyum nakal. Dia mengangkat tubuh istrinya, alah karung beras menuju kamar.


...----------------...

__ADS_1



__ADS_2