
Mereka berdua menghampiri gadis yang bernama Ileana. Bunda Karen sempat terkejut melihatnya, gimana tidak? Gadis itu tiba-tiba saja menghilangkan padahal setahunya hubungan Atlanta dan Ileana baik-baik aja kala waktu itu.
Ileana yang melihat bunda dan adik Atlanta refleks membalikan badannya dan buru-buru mengambil barang belanjaannya, lalu pergi dari sana.
"Ileana," panggil bunda Karen mengejar gadis itu. Ileana pun semakin mempercepat jalannya, sampai dia tidak melihat orang di depannya yang membuatnya jatuh.
"Ileana."
"Kak Ileana."
Bunda dan adik Atlanta refleks menolong gadis itu. Kini Ileana tidak bisa kabur lagi.
"Kenapa kamu menghindar, Leana?" tanya bunda Karen.
Orang yang ditanya hanya diam, menjatuhkan pandangannya ke bawah, dan belum menjawab pertanyaan bunda Atlanta.
__ADS_1
"Bunda kangen sama kamu, nak. Selama kamu pergi Atlanta sedikit berubah, dia sering balapan dan keliyuran. Jika saja kamu gak pergi dia tidak akan seperti ini. Seketika dia berubah saat kau tidak lagi bersamanya. Kalian ada masalah apa?"tanya bunda Karen mengenggam tangan Ileana.
Bunda Karen sudah menganggap gadis itu sebagai anaknya sendiri. Dia jadi sedih saat tahu jika gadis itu keluar negri entah masalah apa.
"Kami enggak kenapa-napa, bunda. Mungkin kami sudah tidak cocok makanya kami memilih untuk mengambil jalan masing-masing," jawab Ileana." Lagian aku ingin memperbaiki diriku, aku berusaha istoqomah," lanjut Ileana.
"Sekarang kamu tinggal di mana? Celi terus ingin menjenguk mu di rumahmu, tapi saat bunda antar ke sana kamu sudah tak ada. Bahkan dia memaksa Atlanta untuk mencarimu."
Ileana beralih menatap Celi, tersenyum manis ke arah gadis kecil itu. Dia menyubit pelan pipi Celi.
Celi tersenyum dan langsung memeluk Ileana. "Aku sangat kangen dengan kakak, aku selalu menyuruh kak Atlanta untuk mencari kakak sampai ketemu, sampai di ujung dunia pun," seru Celi. "Jangan pergi lagi iya, kak. Aku tidak ingin kakak Leana pergi!"
"Kakak gak janji, tapi Insya-allah kakak usahain," ucap Ileana melepaskan pelukan mereka
"Ayo kita ke rumah, pasti Aa Atlan senang lihat kakak," ajak Celi menarik tangan Leana.
__ADS_1
Leana seketika terdiam, dia sudah lama tidak bertemu dengan Atlanta. Bahkan, dia tidak ingin bertemu dengan laki-laki itu, dia tidak berani melihat kebencian di matanya.
"Kakak gak bisa," tolak Leana menggeleng sehingga membuat Celi jadi sedih.
"Kenapa?" tanya Celi.
"Bukannya kamu akan sekolah? Jika kita ke rumah, kamu akan absen, jadi kamu sekolah dulu aja," ucap Leana mengacak rambut Celi dengan gemass.
Celi menatap bundanya. Bunda Karen pun mengangguk, bertanda membenarkan ucapan Leana.
"Tapi aku ingin tahu rumah kakak di mana, biar Celi sering berkunjung seperti dulu," ucap Celi.
Mau tak mau Leana pun memberikan alamat rumahnya kepada mereka. Setelah tahu rumah Leana di mana, mereka pun pergi.
"Semuanya tidak seperti dulu, Celi. Aamu sudah sangat membenci kakak. Entah dia masih ingin mendengarkan penjelasan kakak atau enggak. Aku sangat tahu gimana keras kepalanya Atlanta, bukan hanya keras kepala, dia juga cepat sekali mengambil kesempulan tanpa mendengar faktanya dulu, itulah seorang Atlanta," gumam Leana mengambil barang belanjaannya lalu pergi dari sana. Tentunya akan pulang ke rumah.
__ADS_1