
Aisha sama sekali gak membalas ucapan Altar.
"Sayang, ayo makan dulu," pinta Altar menyodorkan sendong berisi bubur.
Aisha membalikan wajahnya. "Sudah ku katakan, aku gak mau! Dengar gak sih?"
"Yaudah, makan roti aja terus minum obat ya?" tanya Altar berusaha sabar.
Aisha menepis tangan Altar yang ingin memegang kepalanya.
"Keluar lah kak Altar. Aku gak suka kamu ada di sini!" tegas Aisha mendorong tubuh Altar.
"Tapi, aku harus menemani mu," ujar Altar.
"Gak usah, aku gak butuh," celetuk Aisha mendorong tubuh Altar kembali. "Aku bilang keluar ya keluar, kak Altar," teriak Aisha.
Terdengar helaan nafas dari lelaki itu, bukannya keluar malah duduk di kursi membuat Aisha geram dengan suaminya.
Altar ingin meraih tangan Aisha namun cepat-cepat wanita itu menjauhkannnya.
"Sayang, maafin kakak," ucap Altar.
"Maaf buat apa?" tanya Aisha tanpa menoleh.
"Ini semua terjadi gara-gara kakak, kamu ke guguran juga karena ku," jawab Altar.
__ADS_1
"Itu semua terjadi bukanlah salah kaka, ini semua sudah kehendak sang maha kuasa," balas Aisha.
"Yaudah, jangan giniin kakak sayang. Jangan ketusin kakak,"pinta Altar.
"Gak bisa kak Altar, sudah ku katakan aku tak ingin mempunyai hubungan dengan orang yang gampang main tangan apalagi tidak mempercayai ku," sindir Aisha. "Apa kakak tau, gimana rasanya di tuduh bahkan di tampar untuk mengakui yang bukan salah kita?"
"Maaf." Hanya kata maaf yang bisa keluar dari mulut Altar.
"Aku sudah maafin kakak sebelum kakak meminta maaf, aku hanya ingin kakak pergi lah dari sini aku tak ingin melihat wajah mu."
"Tapi kamu tak akan ninggalin kakak kan?" tanya Altar dengan tangan yang sedikit bergetar.
"Aku gak janji," jawab Aisha.
"Kamu harus janji sama kakak kalau kamu tak ingin memutuskan hubungan kita. Aku akan memperbaiki ke salahan ku, aku takut sayang."
"Sampai kapan?" tanya Altar.
"Sampai aku bisa tenang dan aku sudah yakin untuk kembali lagi bersama kakak," jawab Aisha.
"Seminggu?"
Aisha menggeleng. "Satu bulan atau lebih."
"Jangan, kakak gak sanggup berpisah dengan lama. Cukup seminggu sudah membuat kakak tersiksa Aisha," tolak Altar.
__ADS_1
"Terima atau bercerai?" tanya Aisha.
Altar refleks menggeleng. "Yaudah aku akan menerimanya, asalkan jangan bicara tentang perceraian," jawab Altar. "Tapi gimana memberi tau kepada keluarga?"
"Setelah kelulusan aku ingin kuliah di LA, hanya aku! Kakak gak perlu ikut," tekan Aisha.
"Keluar negri? Aku gak izinin kamu keluar negri banyak kampus di negara indoensia yang bagus!" protes Altar.
"Ini bukan tentang fasilitas yang bagus atau tidak bagus, hanya untuk tidak bertemu dengan kakak saja."
Altar terdiam. Dadanya begitu sesak, apakah ini karma untuknya? Satu kesalahan membuatnya harus berpisah begitu lama dengan sang istri.
"Maaf kak Altar bukan berniat menyiksa mu, hanya saja aku ingin memberi pelajaran agar kedepannya kamu tidak mengulangi kesalahan yang sama," batin Aisha.
"Kakak masih bisa menghabiskan waktu bersamaku sampai kelulusan, untuk menutupi masalah keluarga kita pada yang lain," sahut Aisha.
Altar melap sedikit air matanya yang terjatuh lalu beranjak berdiri. "Pakai kerudung dan cadar mu, Mama dan Papa ingin masuk," pinta Altar membantu istrinya memakai kerudung dan cadar setelahnya dia keluar dari kamar rawat.
Aisha menatap punggung Altar yang sudah tak terlihat. Wanita itu menghela nafas kasar.
Beberapa saat kemudian, sepasang suami istri tua memasuki ruangan. Mereka adalah mertuanya.
"Sayang," panggil Marwa langsung berlari memeluk menantunya. "Apa ada yang sakit?" tanya Marwa meraba-raba seluruh badan menantunya.
Aisha menggeleng. "Gak ada kok, tadinya sakit banget tapi udah agak membaik," jawab Aisha. "Hati Ais yang sakit, Mah, di perbuat anak mama," batin Aisha berlanjut.
__ADS_1
"Maafin Ais mah pah, Ais gak bisa menjaga cucu kalian," ujar Aisha.