
Leana membuka matanya, yang dia lihat hanya kegelapan, tidak ada satu pun sinar yanh dia lihat.
"Halo baby," sapa seseorang membuat Leana langsung mencari keberadaan seseoranh tersebut.
"Siapa kau? Di mana kau berada? Lepaskan gue sialan, kita enggak punya urusan sedikit pun denganmu," teriak Leana.
Orang itu menyentuh dagu Leana membuat Leana menatapnya. Leana langsung memulat saat lampu menyalah dan memperlihatkan laki-laki tersebut.
"Mahesa," ucap Leana. "Apa yang kamu lakukan Mahesa? Lepaskan aku, Atlanta pasti sudah mencariku. Kamu di suruh Atlanta kan? Ayo temani aku pulang, aku takut," pinta Leana memohon kepada laki-laki tersebut.
Mahesa menyeringai, dia malah tersenyum tipis ke arah Leana. Leana pun bingung dibuat laki-laki tersebut.
"Mahesa, apa kamu mendengarku?" tanya Leana. "Aku mohon lepaskan aku Mahesa, di mana Atlanta?" tanya Leana.
__ADS_1
"KENAPA KAU CEREWET SEKALI, LEANA?" tanya Mahesa sedikit berteriak membuat Leana tersentak kaget mendengarnya. "Bisakah kau tidak menyebut nama Atlanta? Gue benci mendengar nama itu," teriak Mahesa.
"Mahesa ada apa denganmu?" tanya Leana.
"Gue gila karena lo, Leana," jawab Mahesa. "Gue cinta sama lo, gue sayang sama lo. Dan sebab itu, gue benci Atlanta, lo hanya milik gue. Kenapa terus sajs Atlanta yang menang sedangkan gue tidak?"
"Sadar Mahesa, Atlanta sahabat kamu. Apakah kamu iri kepada sahabatmu? Kita udah seperti kakak dan adik, dan kamu yang bilang seperti itu."
"Lo diam sialan, gara-gara lo yang buat pertemanan gue dan Atlanta hancur. Gue benci Atlanta, karena lo memilih Atlanta bukan gue, kenapa Leana? Gue kurang apa? Bukannya kita lebih dulu kenal dari para Atlanta, kenapa malah kamu memilih Atlanta bukannya gue? Kenapa terus saja Atlanta yang menang?"
Leana menggelengkan kepalanya, tidak nyangka seorang Mahesa yang sudah dia kenal selama bertahun-tahun akan mengatakan hal tersebut. Mahesa yang dia kenal sangatlah baik.
"Kamu bukan kak Mahesa yang aku tahu, kamu berubah kak. Bukannya kamu sangat bangga dengan apa yang dilakukannya? Bukannya Atlanta yang merebut semua hakmu, tapi memang kamu yang tidak pantas mendapatkannya kak. Aku tidak memilihnya, karena aku mencintai Atlanta dan aku juga sudah menganggapmu sebagai kakakku," jelas Leana.
__ADS_1
Plak!
Tamparan keras melayang ke pipi mulus wanitanya Atlanta. Leana menatap Mahesa yang telah berani menaikan tangan kepadanya.
"Kak? Kau menamparku?" tanya Leana.
Kenapa semenjak dia kembali dari Australia, kenapa semuanya pada berubah? Ada apa ini? Leana sangat tak mengerti, jika saja akan begini ulurnya. Dia memilih untuk menetap di Australia saja.
Mahesa memukul tembok yang berada di sana, dia mengamuk dan Leana diam melihatnya. Dalam pikiran bumil tersebut, dia hanya ingin lepas dan memeluk suaminya, Atlanta.
"Atlanta aku di sini, tolong selamatkan aku," batin Leana memohon.
Darah yang keluar dari bagian pahanya sudah mulai mengering, entah apa yang akan terjadi nanti kepadanya. Yang pastinya dia hanya memanjatkan doa agar secepatnya pergi dari sana.
__ADS_1
"Tolong aku Atlanta, ya Allah berikan petunjuk kepada suami hamba, katakan jika aku berada di sini dan di sikap oleh sahabat yang sangat dia percayai. Semoga Atlanta bisa melihat sisi buruk Mahesa."