Badboy Suamiku

Badboy Suamiku
~Takdir Cinta Atlanta~ part 20


__ADS_3

Kedua pasangan itu tidak saling berbicara dan masuk ke dalam kamar masing-masing, tapi bukan Atlanta yang tidak berbicara melainkan hanya Leana yang hanya diam sedari tadi.


"Leana," panggil Atlanta mengetuj pintu kamar yang di tempati istrinya.


Leana pun langsung membuka pintu kamar, menatap datar ke arah Atlanta. Kali ini dia benar-benar sudah tak ingin bersikap perhatian kepada laki-laki itu.


"Kenapa?" tanya Leana.


"Kita sekamar, iya?" tanya Atlanta.


Wanita tersebut langsung mengerutkan keningnya. Bukannya kemarin-kemarin Atlanta sudah mengatakan bahwa dia hanya penumpang di sana?


"Maaf kemarin siapa yang mengatakan bahwa aku hanya seorang penumpang di sini? Yakali seorang penumpang seperti aku satu kamar denganmu?"


Atlanta menghela napas kasar mendengar ucapan Leana barusan, wanita itu kenapa hobi sekali mengungkit masa lalu?


"Lupakan masalah itu Leana, dulu aku masih kecewa sama kamu sekarang udah enggak. Mari kita ulangi hubungan kita," mohon Atlanta ingin memegang tangan Leana. Namun, sang empuh langsung menjauhkan tangannya dari Atlanta.


"Enggak bisa," jawab Leana singkat. "Hubungan kita sudah berakhir saat kamu yang mengakhirinya waktu itu. Sekarang lakukan apapun yang kamu inginkan Atlanta aku tidak peduli lagi." Setelah mengatakan itu Leana kembali masuk ke dalam kamar, menutup pintu dengan sangat keras.


Atlanta langsung mengacak rambutnya furstasi. Gimana caranya dia bisa meluluhkan hati Leana seperti dahulu lagi? Apakah dia harus mengulangi teknik dahulu yang dia pakai saat mengejar Leana?


"Astaga apa yang ku lakukan," teriak Atlanta pergi dari depan kamar Leana dan menuju kamarnya.


Dia sangat furstasi, gimana tidak? Niatnya ingin balas dendam akan rass sakit yang dia rasakan, kini malah dirinya yang akan tersiksa.


Paginya tiba Leana sama sekali tidak menyiapkan sarapan untuk Atlanta. Wanita itu masih berada di dalam kamarnya.


Atlanta yang baru saja bangun, langsung saja menuju dapur. Namun, tidak mendapatkan makanan apapun di sana. Ingin memanggil Leana, tetapi dia tahu bahwa Leana sedang marah kepadanya.


Akhirnya, dialah yang membuat sarapan pagi untuknya dan Leana. Atlanta jago hal dalam memasak, karena berada di LN sudah lama hidup mandiri.


Usai memasak makanan, dia melepaskan celemek yang dia gunakan. Atlanta berjalan menuju kamar istrinya.


Tok-tok!

__ADS_1


"Leana," teriak Atlanta seraya mengetuk pintu kamar berulang kali.


Tidak tunggu waktu lama, pintu kamar terbuka dan memperlihatkan sosok Leana yang sudah rapi habis mandi. Terbalik oleh Atlanta yaang masih menggunakan piama tidur. Namun, hal itu Atlanta bodoh amat.


"Ayo kita makan," ajak Atlanta ingin menarik tangan Leana, tetapi buru-buru Leana menjauh dan berjalan lebih dulu ke dapur.


Dia khawatir nanti dapur malah berantakan. Leana sangat tahu, gimana Atlanta kalau sedang memasak, sangat brutal dan ceroboh.


Leana bernapas lega, saat melihat dapur bersih tanpa gangguan apapun. Cuma ada makanan yang berada di atas meja makan.


"Ayo kita makan," ajak Atlanta menyuruh Leana duduk. Leana pun hanya menurut.


Atlanta bersorak gembira dalam hatinya, dia akan perlahan mengambalikan Leana dahulu yang sangat mencintainya.


"Biar aku saja," cegah Leana mengambil nasi sendiri dan lauk. Atlanta pun hanya mengikuti itu.


Mereka pun makan dengan lahap, tanpa ada suara sedikit pun keluar dari mulut masing-masing. Usaianya mereka sarapan, Leana yang memutuskan untuk mencuci piring sedangkan Atlanta kembali ke kamar untuk mandi. Hari ini dia akan ke cafe, mengecek pengembangan cafe yang dia buat sampai se kembang gini.


Leana menatao Atlanta yang sudah rapi turun di anak tangga, Atlanta yang merasakan di perhatian lantas saja menoleh. Namun buru-buru Leana mengalihkan pandangannya.


"Aku pergi iya," pamit Atlanta membuat Leana kembali berdehem saja. "Cuma gitu?" tanya Leana.


Leana menoleh ke arah Atlanta, lalu mengerutkan keningnya. Terus dia harus menjawab bagaimana lagi? Menurutnya tadi sudah cukup.


"Terus gimana lagi?" tanya Leana.


"Cium punggung tangan aku, ini dan ini." Atlanta menujuk pipi dan bibirnya. Hal yang dulu Leana sering lakukan saat akan berpisah dengan Atlanta.


"Enggak usah ngadi-ngadi, kita tidak mempunyai hubungan," ucap Leana tanpa sadar bahwa sekarang dirinya sudah jadi istrinya Atlanta.


Mendengar ucapan Leana, Atlanta langsung duduk di samping gadis tersebut. Menatapnya dengan lekat.


"Aku suamimu!" imbuh Atlanta.


"Pernikahan kita hanya sebatas di atas kertas," jawab Leana.

__ADS_1


"Tapi tetap saja kita mempunyai hubungan, aku suami dan kamu istriku. Kamu tidak mengelak itu semua Leana," jelas Atlanta menarik tangan Leana dan memeluknya.


"Aku kangen sama kamu Leana, aku kangen banget," ucap Atlanta. "Aku sekarang ingin jujur, selama kamu pergi hidupku seakan hancur Leana, mungkin dulu aku salah paham dan berniat untuk membencimu, tapi kamu tidak tahu setelah kamu pergi entah kemana. Aku sangat sedih, tanpa semua orang tahu aku mencarimu," jelas Atlanta.


Leana hanya diam sesaat, membiarkan Atlanta memeluknya. Walaupun begitu dia tidak sama sekali membalas pelukanal Atlanta.


"Lepasin Atlanta," pinta Leana.


Namun, bukannya di lepaskan oleh Atlanta malah mengeretkan pelukannya kepada Leana. Dia kangen hal seperti.


"Kamu akan terlambat ke cafe," ucap Leana lagi berusaha melepaskan pelukan Atlanta.


"Aku pemilik cafe tersebut, tidak ada kata terlambat untuk aku," balas Atlanta.


"Aku sesak, Atlanta. Tolong lepasin," pinta Leana dengan suara yang sudah melunak hal itu mampu Atlanta lepaskan. pelukannya.


Leana langsung membalikan badannya ke arah lain, tidak berani menatap Atlanta yang terus menatapnya.


"Tolong beri aku kesempatan satu kali lagi, aku janji akan memperbaiki semua ke salahan yang pernah aku perbuat kepadamu," ucap Atlanta memohon kepada Leana. Bahkan laki-laki itu berlutut di depan Leana.


"Apakah masih ada kesempatan kedua untukku, Leana?" tanya Atlanta. Jujur laki-laki itu saat ini sudah menangis.


"Ada," jawab Leana membuat Atlanta mendongak ke atas dengan menatap Lena.


"Maaf," ucap Atlanta. "Beri aku kesempatan satu kali lagi, Na. Aku janji akan berubah," pinta Atlanta.


"Aku akan memberimu kesempatan sati kali lagi. Kalau para readers setujuh. Semuanya aku serahkan kepada readers jika readers ingin memberimu kesempatan aku akan memberimu."


"Itu sangat sulit, Leana."


"Aku juga sulit untuk mengambil keputusan, aku takut. Apalagi kamu masih berhubungan dengan Davina."


Atlanta menggeleng keras. "Aku akan memutuskan hubunganku dengan Davina, sejujurnya aku tidak mempunyai rasa kepadanya. Hatiku hanya untukmu Leana," sungut Atlanta.


"Aku serahkan masalah ini kepada readers maupun author. Jika mereka semua setujuh aku memaafkanmu dan memberimu kesempatan. Aku akan memberikannya," ucap Leana. "Kamu bisa melakukan apapun."

__ADS_1


"Baikah," balas Atlanta.


__ADS_2