Badboy Suamiku

Badboy Suamiku
~Badboy Suamiku •Chapter 60•


__ADS_3

Rigel menceritakan semuanya pada adik iparnya. Dan saat ini mereka sedang berada di rumah sakit terbesar di Australia.


"Kenapa masalah sebesar ini lo sembunyiin bang? Lo gak tau gimana khawatirnya Aisha?" tanya Altar, tak habis pikir dengan jalan pikiran iparnya.


"Gue tau Tar, gue cuman gak pengen kalian apalagi Aisha, khawatir," jawab Rigel.


"Tapi justru di saat abang tak bisa di hubungi, membuat Aisha khawatir!"


"Maaf." Hanya kata itu yang bisa keluar dari mulut Rigel.


Altar menghela nafas, berusaha meredahkan emosinya. "Terus, sekarang keadan abi gimana?" tanya Altar.


Rigel menggeleng. "Abi masih kritis Tar, gue gak tau lagi harus gimana," jawab Rigel apa adanya.


Altar mengacak rambutnya furstasi. Ayah mertuanya mempunyai penyakit kanker otak.


Ternyata saat mereka ke rumah Altar dan Aisha, mereka berniat pamitan pada anaknya dan menantunya.


"Aisha harus tau ini!" sahut Altar.


Rigel buru-buru menggeleng. "Gue mohon jangan beri tau dia apapun Tar," cegah Rigel pada adik iparnya.


Altar menghela nafas. "Terus mau lo apa bang?" tanya Altar.


Rigel menghapus secuil air matanya yang jatuh. "Gue mau, lo jangan beritahu pada Ais, lo rahasiakan ini semua."

__ADS_1


Altar diam sejenak. Dia juga berfikir kalau dia memberi tau Aisha, maka beban pikiran istrinya akan bertambah, apalagi Aisha baru-baru mendapatkan musibah.


"ok," ujar Altar. "Tapi gue mau aktifkan ponsel lo, beri kabar ke Ais agar dia tidak merasa khawatir," pinta Altar.


Rigel hanya mengangguk. "Thx Tar," balas Rigel, tersenyum.


"Terus kasih kabar ke gue, tentang perkembangan abi," perintah Altar.


Rigel kembali mengangguk.


"Sebenarnya gue mau ngomong sama lo, ini tentang masalah Aisha, dua hari ini."


Rigel menatap adik iparnya. "Masalah apa?" tanya Rigel.


Altar menghela nafas. "Pertama-pertamaa di sini gue minta maaf sebesar-besarnya pada lo, gue yang lalai menjaganya sampai dia seperti ini. Dua hari yang lalu dia hampir di lecehkan oleh musuh geng motor gue bang, gue minta maaf gara-gara gue, Aisha yang mendapatkan imbasnya," jelas Altar sambil menunduk.


Hening tercipta Di antara mereka berdua, Rigel belum mengeluarkan satu katapun.


Dadak Rigel naik turun, namun dia cepat-cepat istgfar dalam hati dan menahan emosinya.


"Di saat adik gue mengalami masalah sebesar ini, gue gak ada di sampingnya," lirih Rigel.


Hidupnya saat ini benar-benar hancur, pertama abinya menderita penyakit, dan sekarang dia mendengar adiknya hampir di lecehkan.


Rigel menatap pada Altar lalu menepuk pundak sang ipar. "Perlu lo tau ini bukan salah lo, tapi gue mohon tolong tingkatkan lagi pengawasan lo terhadap adik gue, kalau saat itu lo gak ada mungkin Ais sudah di lecehkan? Dan mungkin saja lo akan membuang adik gue!"

__ADS_1


Mendengar kalimat terakhir Rigel, Altar refleks menggeleng cepat. "Apapun keadaan Aisha gue tetap menerimanya, ini bukan salahnya melaikan salah gue!"


"Gue pegang janji lo Altar. Jangan pernah lo nyakitin adik gue secara fisik maupun mental," pesan Rigel.


Altar mengangguk. "Lo bisa pegang janji gue bang!"


"Lo datang ke Australia hanya mencari kami?" tanya Rigel dan langsung di angguki oleh Altar.


"Gue gak tega lihat istri gue khawatir," jawab Altar. "Setelah ini, tolong lo sering-sering hubungi Aisha, sekedar memberi kabar," lanjut Altar.


"Gue akan memberi kabar padanya," jawab Rigel, manggut-manggut.


"Ingat selalu beri tau padaku, tentang perkembangan kondisi abi, gue akan berdo'a agar abi segera sembuh dan kembali seperti dulu, kalau lo butuh bantuan langsung hubungi gue."


"Aamiin, pasti," ujar Rigel, mengangguk.


"Kalau gitu, gue pamit pulang dulu, besok gue akan kesini untuk pamitan pada umah dan abi."


"Hati-Hati di jalan," teriak Rigel.


Beberapa menit kepergian Altar, Giva keluar dari ruang rawat suaminya.


"Tadi ada siapa? Kok dengar kamu sedang mengobrol dengan seseorang?" tanya Giva duduk di samping sang putra.


"Altar, umah," jawab Rigel.

__ADS_1


"Al-tar?" tanya Umah Giva.


__ADS_2