Badboy Suamiku

Badboy Suamiku
~Takdir Cinta Atlanta~ Part 59


__ADS_3

Sesuai dengan janji Leana. Dia akan mengantar Alan ke sekolah hari ini. Dia meminta untuk Leona istri Dito untuk melanjutkan pekerjaannya. Untung saja istri sepupunya itu santiasa membantunya.


"Dada bibi Ona."


"Cium dulu," pinta Leana membuat Alan berlari untuk mencium Leona.


Leona pun gemass di buat anak kecil tersebut. Leona membalas mencium Alan begitu brutal membuat Alan mendengus kesal. Namun, tak berani untuk protes.


"Bibi Ona udah dong." Akhirnya Alan berbicara membuat Leona terkekeh dan menyudahi ciumannya.


Alan pun berlari untuk masuk ke dalam taksi yang sudah ada. Leana melambaikan tangannya kepada Leona sebelum taksi itu melaju pergi.


Sesampainya di sekolah. Alan mencium pipi mamanya dan berlari masuk ke dalam kelas, sedangkan Leana menunggu di luar kelas, dia akan menunggu putranya. Karena Alan belajar hanya dua jam saja.


"Mamanya Alan, iya?" tanya seseorang membuat Leana menoleh.


Leana mengangguk seraya tersenyum ke arah ibu-ibu tersebut. Leana berselamat kepada ibu-ibu tersebut.


"Kata Alan, anda jual dan menerima orderan kue iya? Apakah bisa kue ulang tahun?" tanya salah satu ibu-ibu.


"Insya-Allah bisa, bu. Memang biasa banyak yang mesan kue ulang tahun, dari pada kue bolu dan semacamnya."


"Harganya berapaan?"


"Sesuai request aja, bu, tapi ibu tenang aja harganya enggak buat dompet ibu tipis."


"Hahah mamanya Alan bisa aja. Kalau begitu saya bisa minta nomor telfon anda?"


"Bisa." Leana mengeluarkan ponselnya. Ibu-ibu tersebut perlahan mengetik nomornya di ponselnya.


"Baik, saya simpan."


Leana mengangguk dan kembali duduk di kursi yang ada di luar kelas putranya. Saat jam istirahat tiba, Alan keluar sambil membawa kotak bekalnya.


Alan duduk di samping mamanya dan menerima setiap suapan yang diberikan Leana. Teman yang sibuk lari-larian sambil makan, beda dengan Alan yang duduk dengan enteng dekat mamanya. Tidak menyusahkan mamanya seperti teman-temannya, yang ibunya harus mengikuti mereka ke mana-mana.


"Mana yang di bilang, Antala?" tanya Leana.


"Tala enggak datang, Mama," jawab Alan saat selesai minum. Dia membantu mamanya untuk membereskan kembali bekalnya dan berlari masuk untuk menyimpannya.


"Padahal mama pengen lihat," ucap Leana.


"Besok pasti datang, Mama."


"Ok." Leana memperbaiki dasi Alan yang berantakan. Alan pun ikut bermain dengan temannya yang lain.

__ADS_1


Beberapa saat kemudian. Alan sudah pulang dari sekolahnya, mereka pun kembali pulang. Leana harus cepat-cepat sampai di rumah.


Saat telah sampai di rumah. Leana berpamitan untuk ke tokoh kuenya, karena orang yang dia suruh di sana untuk menjaga mengatakan jika ada yang ingin order kuenya dengan jumlah yang cukup banyak.


"Mama pergi dulu, iya sayang. Mama udah buatin Alan makan, Alan cukup minta aja ke bibi Ona, ok?"


Alan manggut-manggut, Leana pun segera menuju tokoh kuenya. Untungnya sampai di sana, orang yang ingin mesan masih ada dan ingin menunggunya datang.


"Selamat siang," sapa Leana. Orang itu menoleh lalu membalas sapaan Leana.


"Siang juga, mbak."


"Ingin memesan kue berjenis apa, pak? Anda bisa lihat di menu. Nanti tinggal saya catat, jika bapak juga request juga bisa."


"Kue yang kecil aja mbak, tapi jumlahnya banyak."


"Yang kaya gini?" tanya Leana memperhatikan beberapa jenis kue kecil yang di bungkus seperti roti.


Seseorang itu pun mengambil sebungkus kue itu lalu memotretnya.


"Saya foto mbak, saya ingin mengirimkan kepada majika saya dulu."


"Baik."


"Iya yang ini aja, mbak."


"Boleh katakan jumlah pesanannya berapa?" tanya Leana.


"400 bungkus mbak, apakah bisa?"


"Akan di ambil kapan?"


"Sepertinya lusa."


Leana terdiam sesaat, menyelesaikan banyak pesanan sekaligus sendirian pasti akan membutuhkan waktu yang sangat lama dan melelahkan. Tapi dia akan pikirkan untuk mencari beberapa orang untuk dia sewa, lagian tokoh kuenya berkembang pesat saat ini.


"Baik, pak. Bisa, dengan motifnya mau paket motif atau tulisan apa?"


"Kata bos saya polos aja."


"Baik-baik, saya mengerti. Tolong catat nama anda, alamat serta nomor telfon anda. Agar kami bisa lebih mudah memberitahukannya."


Orang itu pun segera menulis tadi yang di katakan Leana. Setelahnya orang itu pun pergi. Leana bersyukur, karena ada yang orderan baru.


"Alhamdulillah, iya, kak," ucap orang yang membantu Leana untuk menjaga tokoh kuenya.

__ADS_1


"Iya Alhamdulillah, El."


"Eh... El, apa kamu ingin membantu kakak untuk membuat kue ini? Nanti kakak tambahin gaji kamu, tenang aja."


"Siap kak."


Leana tersenyum dan menyuruh Elana kembali duduk di tempatnya. Dia pun menempelkan kertas tersebut di mading, lalu pamit untuk pergi sebentar. Dia akan pulang dan menyiapkan bahan untuk membuat kue.


"Tumben banget, ada yang order tanpa menye-menye mana polos lagi. Kalau poloskan enggak estetik kelihatannya, tapi itu tergantung orderan aja. Costumer cuma ngikut," gumam Leana mulai membuat adonan di bantu oleh Leona dan Elana. Tak lupa juga anaknya yang berada di atas meja sambil ikut membantu duduk saja.


Seaeorang datang, membuat mereka menoleh. Alan pun tersenyum dan buru-buru turun dari meja itu dan berlari ke pelukan Dito, pamannya.


"Paman Dito bawa ics crem yang Alan suruh beli kan?" tanya Alan mendongak ke atas.


Dito memperlihatkan kantong kresek yang dia pegang. Alan pun bersorak gembira dan mengajak Dito untuk duduk di sofa.


"Alan jangan makan ice cream terlalu banyak, iya. Kamu tuh cepat sakit gigi dan flu," teriak Leana dari dapur memperingati putranya.


"Siap, Mama. Alan makan satu aja kok," teriak Alan kembali dan mengambil satu ice cream dalam kantong tersebut lalu perlahan menjilatnya.


Anak itu terlihat sangat gembira dan senang makan ice cream. Leana memang hanya memberinya satu kali seminggu membuat Alan sangat gembira jika waktu tiba dirinya makan ice cream.


Alasan Leana memberinya waktu, karena dulu Alan pernah sakit gigi bercampur flu, karena Alan terus menelfon Dito untuk membelikannya ice cream. Dito pun membelikannya, sebab tidak tahu jika Alan minta tanpa sepengetahuan Leana.


"Paman, mau?" Alan menawarkan Dito saat ice creamnya sekali jilatan lagi sudah habis. Anak siapa sih ini?


"Astaga," gumam Dito lalu menggelengkan kepalanya. "Gimana paman mau? Orang itu tinggal sedikit."


Alan langsung menyengir dan ingin kembali mengambil ice cream yang ada di kantong. Namun, Dito melarangnya.


"Tadi kata mama apa?" tanya Dito.


"Mama bilang kali ini Alan udah boleh makan ice cream. Nanti hari selesa lagi baru bisa makan," jawab Alan.


"Bukan yang itu, tapi yang barusan yang mama katakan sebelum Alan makam ice cream itu."


Alan menyengir kembali, karena baru ingat akan peringatan yang diberikan mamanya. Bahwa dia hanya boleh makan satu ice cream saja."


"Ok, tapi coklat ini Alan boleh makan?" tanya Alan.


"Kalau gigi Alan tiba-tiba sakit gimana? Paman enggak mau tanggung jawab lo, Alan kan udah pernah nangis seharian karena giginya sakit."


"Biar dikit bisa sakit, iya paman?" tanya Alan membuar Dito menganggukan kepalanya.


Alan pun menaroh kembali makanan tersebut di atas meja, lalu memayunkan bibirnya. Dia ingin memakan coklat, tapi dia juga takut jika giginya akan sakit kembali. Selain takut merasakan sakit, dia juga tak ingin mamanya khawatir. Saat dirinya pertama kali sakit gigit. Mamanya itu menangis.

__ADS_1


__ADS_2