
"Makasih," ujar Aisha.
"Sama-sama Ibu ketua, kalau gitu kami pamit," balas Evan tersenyum, keluar dari kamar.
Setelah teman suaminya sudah pergi, Aisha mengabrak pintu dengan sangat keras, dia mendekati suaminya yang tertidur di atas kasur.
Dengan perasaan kesal Aisha melepaskan sepatu yang terbalut di kaki suaminya.
tanpa hati durani dia mendorong tubuh suaminya sehingga terjatul ke lantai, Aisha pun melempar bantal ke arah wajah Altar.
"Bau menyang" ketusnya Aisha, tidur menutupi seluruh tubuhnya.
Saat ini dia merasa di hianati dengan suaminya sendiri.
Sekitar jam tiga dini pagi Altar terbangun dan merasa kepalanya puyek, tubuhnya sangat dingin.
Dia mengejapkan matanya, lalu melirik kiri-kanan. Lelaki itu beranjak bangun dan naik ke atas kasur, memeluk erat tubuh sang istri.
Dia merapatkan dirinya agar dingin yang ada di tubuhnya hilang.
Altar kembali lelap tanpa mengingat kejadian semalam, mungkin besok dia akan mengingatnya.
Adzan subuh berkomandang membuat Aisha terusik, dia pun bangun.
Pergerakan Aisha membuat Altar ikut terbangun.
"Sayang," ujar Altar, mencium pipi Aisha, tanpa tau bahwa istrinya sedang marah.
Aisha menyepit hidungnya. "Mundur!" pinta Aisha, membuat Altar menurut saja.
"Lagi!"
"Jatuh sayang!"
"Mundur! Atau gak mau jatuh pindah sana, mandi!" ujar Altar.
Altar menggerik bingung. Altar hanya menurut, dia mengambil handuk dan masuk ke dalam kamar mandi.
__ADS_1
Saat sudah berada di dalam kamar mandi, lelaki itu memijat keningnya merasakan pusing di bagian kepala.
"Setelah pulang dari markas ngapain, ya?" tanya Altar pada dirinya sendiri. "Kok kepala gue pusing? Terus semalam gue tidur di bawa lantai, dan parahnya istri gue kelihatan marah," gerutuknya bingung.
Altar buru-buru membersihkan diri, agar tidak membuang waktu lama.
Ceklek!
Altar kaget karena istrinya sudah berdiri di depan pintu kamar mandi.
"Ssyang ngagetin ah," pekik Altar.
"Awas!" pinta Aisha.
Altar pun bergeser ke samping.
Aisha menutup pintu kamar mandi dengan sangat keras, sehingga Altar tersentak kaget.
"Astaghfirullah," umpat Altar, mengelus dadah.
Altar melihat ke kasur dan tidak melihat baju kokonya yang sering di siapkan sang istri.
Dia pun memilih menunggu sampai istrinya selesai ambil wudhu.
Aisha keluar dari kamar mandi dan melewati Altar tanpa tersenyum.
"Sayang, baju koko dan sarung kakak mana?" tanya Altar.
"Ada tangan ada kaki, cari sendiri," ketus Aisha memakai mukenanya. "Mau sholat bareng, atau pisah?" tanya Aisha dengan wajah datarnya.
Altar buru-buru berdiri, membuka lemari dan memakai baju kokonya.
"Sayang pakein, kakak gak bisa," rengek Altar.
Aisha menunjuk ke arah kasur menggunakan dagunya." pake celana panjang aja," jawabnya.
Altar hanya mengangguk.
__ADS_1
Mereka pun sholat bersama, selepasnya sholat.
Altar mengulurkan tangannya pada Aisha, Aisha dengan wajah tidak bersahabat menyiumnya.
"Sayang, kakak mau skor hafalan," sahut Altar tersenyum pada istrinya.
"Lain kali aja," jawabnya Aisha, dia mengambil ponselnya di atas nakas, banyak notif masuk, dan notif itu dari keempat teman Altar.
Aisha melirik Altar sekilah yang masih tersenyum ke arahnya, dia kembali beralih menatap layar ponsel.
Hidung Aisha kembang kempis sehabis melihat pesan yang di kirim Evan.
"Kakak sini coba," panggil Aisha, Altar pun hanya menurut, mendekati sang istri.
Tanpa tak tau diri, Altar memeluk tubuh istrinya sehingga Aisha menepis tangan Altar yang memegang pinggang rampingnya.
Altar menggaruk belakang kepalanya, dia merasa bingung ada apa dengan istrinya?.
"Ken-" Ucapan Altar menggantung saat Aisha memperlihat ponsel ke arahnya.
"Mau jadi gembel?" tanya Aisha dengan datar.
"I-tu si-apa sayang?" tanya Altar balik.
Aisha hanya menaikan bahunya.
"Kok mirip kakak?" tanya Altar menatap istrinya.
"Bukan mirip, tapi itu memang kak Altar!" ketus Aisha.
Altar menggaruk keningnya. "Mana ada! Kakak kemarin tidur di samping kamu!" dustanya.
"Ya tidur, sehabis itu keliyurankan?" tanya Aisha dengan tekanan, bahkan menatap Altar dengan tajam.
"Kakak cuman ke markas, ada keperluan," jawab Altar, panik.
"Ada keperluan, minum-minum," ujar Aisha tersenyum, namun senyumannya membuat Altar ketar ketir.
__ADS_1