
Atlanta tiba-tiba saja dapat telfon dari art yang dia sewakan di rumahnya semenjak sang istri sedang hamil muda. Dia tak ingin Leana melakukan sesuatu yang akan membuatnya lelah.
Art tersebut mengatakan kalau Leana tadi keluar dari rumah dan belum juga pulang dari dua jam yang lalu. Hal tersebut langsung membuat Atlanta panik bercampur marah.
Kenapa Leana harus keluar sendirian? Dia bisa menelfonnya untuk di antar kemana bumil itu mau. Atlan juga tidak terlalu sibuk, bisa menemani kemana pun istrinya
"Sial." Atlanta mematikan sambungan telfon dan buru-buru memakai jasnya dan berjalan keluar dari kantor.
Tujuan Atlanta kali ini menuju supermarket yang tadi Leana sempat datangi. Atlanta mencari sang istri di sana. Namun, tidak ada tanda-tanda dia menemukan sang istri.
Atlanta pun kembali melajukan motornya, tetapi lajunya tidak cepat. Dia mengikuti arah tujuan ke rumahnya, siapa tahu sang istri sedang berjalan kaki.
Namun, tetap saja nihil dia tidak mendapatkan tanda-tanda. Akhirnya dia menelfon Dito, Davin dan Mahesa untuk membantunya mencari keberadaan Leana, sekalian ajak anggota lain untuk mencarinya.
"Astaga sayang, kenapa kamu nekat sekali keluar rumah tanpa aku? Gimana jika terjadi sesuatu denganmu," ucap Atlanta meraup wajahnya kasar.
Suara bruman motor mendekati Atlanta, Atlan pun menoleh dan melihat kedua sahabatnya. Dia mengerutkan keningnya karena tak mendapati Mahesa.
"Mana Mahesa?" tanya Atlan.
"Kurang tahu, Lan. Dari kemarin dia seperti sibuk banget, kurang berkunjung ke markas, tadi dia juga menghilangkan sejak dua jam yang lalu," jawab Dito.
Atlanta langsung menghubungi satu sahabatnya tersebut, istrinya juga hilang sejak dua jam yang lalu. Berharap Leana bersama dengan Mahesa, dan Mahesa membawanya pulang.
"Sial enggak diangkat," umpat Atlanta geram.
"Bentar gue yang coba." Davin ikut menghubungi Mahesa. Namun, hasilnya tetap saja tak diangkat.
Mereka jadi penasaran di mana laki-laki itu berada sampai tak mengangkat telfon dari mereka.
"Udahlah, Lan. Mending kita langsung cari bu wakil aja," teriak anggota lain dan di anggukin yang lainnya juga.
Atlanta pun manggut-manggut, mereka pun berpencar untuk mencari keberadaan Leana.
"Sial lokasi Leana putus," umpat Atlanta berhenti di sebuah gang kecil.
Tak sengaja dia menginjak sesuatu, Atlanta pun menunduk dan melihat ponsel yang ponsel tersebut mirip dengan ponsel sang istri. Di sana juga terdapat berdecak darah membuat Atlanta semakin panik.
__ADS_1
"Leana," teriak Atlanta. "Kamu harus bertahan dengan anak kita, aku akan menyelamatkanmu," ucap Atlanta.
Dia yakin istrinya berada di sekitaran gang tersebut, karena dia sudah mendapatkan jejak sedikit. Akhirnya Atlanta pun kembali berjalan memasuki lorong yang buntu.
Lagi dan lagi Atlan mendapatkan sesuatu. Ya, sendal yang sang istri pakai. Atlanta sangat tahu sendal tersebut, dikarenakan dia yang membelikannnya untuk Leana.
"Sial, siapa yang berani buat macam-macam dengan istriku?" tanya Atlanta geram. Matanya sudah memerah menahan marah.
Sesaat dia mengingat akan kembalinya sang ayah. Atlanta pun berpikir jika laki-laki tua tersebut yang menyembunyikan istrinya.
Dengan amarah yang meledak-ledak, Atlanta menuju di mana perusahaan ayahnya berada. Dia pastikan Mahendra akan ada di sana.
"Mahendra Arlangga keluar lo, sialan," teriak Atlanta berusaha masuk ke dalam kantor tersebut. Namun, dia dihalangi seorang satpam.
"Pak, jaga sikap pak. Pak Mahendra saat ini sedang tak ada di kantor," ucap satpam tersebut.
Bruk!
Atlanta meninju rahang satpam tersebut sehingga sang satpam terjatuh ke lantai dengan darah yang keluar dari hidungnya.
"Pak Atlan," ucap semua karyawan yang melihatnya. Tentu mereka tahu, karena Atlanta adalah anak dari ceo di sana.
"Mana bos kalian?" tanya Atlanta kepada semua karyawan.
"Pak Mahendra tidak ada, dia sedang keluar sejak tadi," jawab salah satu karyawan membuat Atlanta semakin curiga jika memamg ayahnya yang menculik istrinya.
Atlanta mengepal tangannya dan kembali keluar dari perusahaan tersebut. Semua karyawan tadi merasa takut dengan tatapan Atlanta yang sangat tajam.
"Di mana dia?" tanya Atlanta. Dia pun menuju rumah sakit untuk menemui bundanya, mungkin pria tersebut sedang bersama dengan bundanya.
"Bunda," panggil Atlanta.
Bunda Karen yang baru saja selesai memeriksa pasien, mengerutkan keningnya melihat sang putra datang ke rumah sakit tersebut. Bunda Karen mengira Atlanta menemani menantunya untuk periksa kandungan.
"Atlan ada apa?" tanya bunda Karen.
"Bunda, bunda tahu di mana ayah sekarang?" tanya Atlanta dengan panik.
__ADS_1
"Ayahmu?" tanya bunda Karen kembali.
Atlanta menganggukan kepalanya, bunda Karen pun baru ingat jika pria itu tadi ingin sekali mengajak dirinya untuk bertemu dengan Atlanta.
"Dia baru saja pergi dari sini, tadi dia memaksa bunda untuk bertemu denganmu, tapi karena bunda sibuk bunda menolaknya," jawab bunda Karen. "Coba kamu datang ke makam adikmu. Bunda sempat mengatakan jika Cila sudah tiada dan dia ingin ke makam Cila."
Atlanta setelah mendapatkan penjelasan dari bundanya, langsung saja pergi dari sana. Dan menuju makam Cila.
Benar saja kata bunda Karen, seorang pria paruh baya sedang berada di makam adiknya sambil membawa setangkai bunga mawar.
"Ayah," panggil Atlan pelan membuat Mahendra menoleh ke belakang.
Pria tersebut terkejut dengan kedatangan sang putra, yang sudah tumbuh sangan dewasa. Terakhir dia meninggalkan Atlan berusia dua belas tahun. Kini sang anak tumbuh sangat tampan.
Bahkan, sekarang sudah ingin membangun keluarga kecil dengan istri dan calon anaknya.
"Atlan," ucap Mahendra berdiri dari sana menatap lekat putranya. Matanya seakan menampung air mata dan ingin sekali memeluk Atlan.
Atlan mendekatinya membuat Mahendra tersenyum, tetapi senyuman itu seakan musnah ketika Atlanta menarik kerah kemejanya.
"Di mana istri gue, sialan. Lo yang menyembunyikan Leana kan?" tanya Atlan.
Mahendra langsung menggeleng. "Tidak, apa yang kamu katakan Atlan, ayah tidak pernah berniat untuk menculik istrimu. Bahkan, ayah ingin bertemu dengan kalian dan menyapa calon cucu ayah yang istrimu kandung."
"Bohong, lo bohong sialan. Jujur di mana istir gue!" teriak Atlan semakin menguatkan cengkramannya.
"Ayah sudah jujur Atlanta, ayah tidak menculik istrimu. Ayah berada di depanmu. Bagaimana bisa ayah mencurinya? Ayah sudah berubah, ayah tak seperti dulu lagi. Kamu harus percaya itu," pinta sang ayah.
Atlanta melepaksan cengkramannya yang berada di kerah maju sang ayah. Jika bukan ayahnya yang menculik sang istri, terus siapa?
Musuh geng motornya? Setaunya dia kurang mempunyai musuh dalam urusan gengnya. Apalagi pernikahan hanya beberapa orang yang tahu.
"Terus Leana berada di mana?" tanya Atlanta furstasi.
"Ayah enggak tahu, tapi ayah bisa menolongmu untuk menemukan istrimu."
"Tidak usah gue enggak butuh bantuan olehmu." Setelah mengatakan Itu Atlanta pergi dari sana meninggalkan Mahendra sendirian.
__ADS_1