Badboy Suamiku

Badboy Suamiku
~Takdir Cinta Atlanta~ part 51


__ADS_3

Leana mengenggam dengan erat tangan Atlanta. Sedangkan Atlanta juga ikut deg-degaan.


"Bismillah." Atlanta membalikan benda kecil tersebut dengan mata yang terpejam.


"Hore, dua garis, Na," seru Atlanta langsung memeluk istrinya begitu erat. Leana pun langsung menangis dalam pelukan suaminya.


"Benaran?" tanya Leana membuat Atlanta menganggukan kepalanya.


"Iya, sayang. Kamu hamil lagi anak aku." Atlanta menghujamkan ciuman di wajah Leana.


Tidak di perkirakan kebahagian mereka. Apalagi Atlanta yang merasakan bahagia, untungnya sang istri masih bisa hamil. Dia akan berjanji akan menjaga istrinya dengan ketat.


"Kali ini kamu harus ikutin apa yang aku katakan, jangan ada kata bandel!"


Leana menganggukan kepalanya. Tanpa dikatakan pun Leana akan mengikuti setiap peraturan yang dikasih sang suami. Bagaimana pun dia sudah mendapatkan teguran karena membantah dahulu.


"Allah sudah memberikan kita kepercayaan kembali. Maka kita harus menjaganya."


Atlanta langsung mengangkat istrinya dan duduk disofa. Leana pun menggalungkan tangannya di leher Atlanta. Sedangkan laki-laki itu menyembunyikan wajahnya di tengkuk leher Leana.


"Sayang pake baju dulu," ucap Leana. "Nanti kamu masuk angin."


"Biarin kaya gini dulu, sayang."


(⊃。•́‿•̀。)⊃(⊃。•́‿•̀。)⊃(⊃。•́‿•̀。)


Besoknya mereka berdua sudah bersiap untuk kembali ke Indonesia. Leana tidak sabar memberitahukan kabar gembira ini kepada mertuanya.


Di bandara mereka bertemu dengan ulat keket. Itu panggilan Leana kepada Davina. Si ulat keket, yang terus menganggu suaminya.


"Mau apalagi ini si ulat keket," ucap Leana saat Davina mendekati mereka berdua.


"Halo Atlanta, sayang," sapa Davina langsung memeluk lengan Atlanta.


Leana yang melihat itu langsung emosi. Dia mendekati Davina langsung mendorong perempuan tersebut membuat tangan Davina yang tadinya memeluk lengan Leana langsung terlepas.


"Apasih lo," cicit Leana mengusap lengan suaminya. "Nanti gatel lo, nanti kamu mandi kembang tujuh rupah, iya sayang. Supaya bau dan gatelnya hilang," ucap Leana.


"Iya, sayang," jawab Atlanta.


Davina mendengus kesal, tapi masih mengikuti mereka yang sudah masuk untuk chek-in.


Leana dan Atlanta tidak menghiraukan Davina. Mereka malah sengaja bermesraan membuat Davina semakin memanas.


Saat mereka berada di atas pesawat. Davina pun ikut duduk di belakang tempat duduk mereka membuat Leana memutar bola matanya malas.


"Sayang auranya bedakan? Sepertinya ada yang ngikutin kita seperti makhluk tak kasat mata," sindir Leana. Sambil matanya melirik ke arah Davina.


"Aku jadi takut deh, takut dia buat macam-macam." Leana menaroh kepalanya di bahu Atlanta. Atlanta pun mengusap perut istrinya.


Sedari tadi laki-laki tersebut hanya diam. Takut mengeluarkan suaranya, dan malah salah ucap. Dia kan yang akan mendapatkan akibatnya.


Singkat cerita kini mereka sudah sampai di Indonesia, di bandara. Ke korea ke Indonesia menghabiskan waktu tujuh jam. Kini Leana sudah tertidur dalam gendongan sang suami. Untungnya saat mereka mendarat, sudah ada yang menjemput mereka, sehingga tidak membuat Atlanta tidak terlalu mendorong kopernya miliknya dan sang istri.

__ADS_1


"Mang udah lama nunggu, iya?" tanya Atlanta saat sudah berada di atas mobil.


"Tidak kok, Den. Pas Den keluar dari bandara mang juga sampai. Jadi tepat waktu kan," jawab mang sopir rumah Atlanta.


"Mang kita langsung ke rumah, bunda iya. Enggak usah pulang ke rumah dulu," pinta Atlanta membuat sopir tersebut menganggukan kepalanya.


Mobil yang di tumpangi pun menuju rumah bunda Karen. Semoga saja wanita tersebut sudah pulang dari rumah sakit, karena sudah malam ini.


"Mang saya minta tolong bawakan koper kami." Atlanta menggendong seperti bayi koala tubuh Leana masuk ke dalam rumah.


Ting-tong!


Atlanta menindis bel rumah membuat bibik Siti langsung membuka pintu rumah.


"Den Atlan," ucap bik Siti memberi ruang kepada anak majikannya. Atlanta pun segera membawa istrinya ke kamar untuk di tidurkan.


Sesudah menidurkan Leana, Atlanta mencari bibik Siti untuk dibuatkan makanan.


"Bik, bunda belum pulang?" tanya Atlanta.


"Belum Den, katanya nyonya Karen lembur. Kemalaman baru pulangnya," jawab bik Siti.


Atlanta menganggukan kepalanya saja. Sambil menunggu bibik selesai memasak. Setelah masakannya jadi, Atlanta membawanya ke kamar. Dia akan makan bersama dengan istrinya di kamar nanti.


"Udah bangun," sahut Atlanta saat melihat Leana membuka matanya.


"Kita udah ada sampai di rumah?" tanya Leana membuat Atlanta mengangguk.


"Kamu tidurnya pulas banget, enggak rela bangunin kamu. Makanya aku gendong."


Leana bangun lalu memeluk suaminya. Dia zangat beruntung mempunyai suami seperti Atlanta yang negitu memahaminya dan memperlakukannya dengan sangat baik dan lembut.


"Makasih, sayangku." Leana mengecup dengan singkat bibir Atlanta. Membuat sang lelaki terkekeh.


"Ayo kita makan dulu," ajak Atlanta menggendong istrinya ke sofa sambil membawa namoamg berisi makanan.


Atlanta memangku Leana. Leana pun menyuapi Atlanta makan.


"Makanannya semakin enak, jika di suapi istriku," ucap Atlanta mencium bibir Leana yang dapat saos.


"Gombal."


"Emang benar, sayang." Atlanta semakin memper-eratkan tubuh mereka.


"Bunda ada?" tanya Leana.


"Belum pulang katanya," jawab Atlanta.


"Lembur pasti, kasihan bunda. Kurang tidur."


"Ya namanya juga dokter sayang. Harus santiasa menolong pasien yang darurat. Tanggung jawab dokter itu luar biasa, aku udah mengerti kenapa bunda tidak mempunyai banyak waktu bersamaku dan Cila dahulu, karena dia sibuk untuk menyelamatkan orang-orang sakit."


"Sayang," panggil Leana dengan suara manjanya.

__ADS_1


"Kenapa?"


"Kamu udah mandi tujuh kembang? Aku enggak mau sama tidur, jika kamu belum membersihkan diri. Kamu kan habis di sentuh sama ulet keket. Nanti keteluran ke aku lagi." Leana langsung turun dari pangkuan Atlanta lalu menjauh.


"Astaga," gumam Atlanta. Ternyata sang istri masih mengingat akan masalah itu.


"Dingin sayang, nanti aku masuk angin gimana?" tanya Atlanta.


"Tidak akan!


Atlanta menghela napas panjang. Lalu beranjak bangun, dia masuk ke dalam kamar mandi.


"Mau kemana?" tanya Leana.


"Kan mau mandi."


"Mandinya di kolam!" perintah Leana. "Nanti aku bakal metik buaga tujuh rupa di luar "


"Astaga, yaudah hati-hati," ucap Atlanta membuka bajunya lalu berjalan ke belakang halaman di mana ada kolam.


Sedangkan Leana pergi untuk mengambilkan bunga tujuh macam. Di mana tertanam di luar rumah, untungnya di taman banyak berbagai macam bunga.


"Mang tolongin ambilin semua macam bunga tersebut!" perintah Leana.


Tanpa di suruh dua kali. Mang Asep segera memetik beberapa bunga tersebut. Sedangkan Leana hanya duduk di kursi taman.


"Leana," panggil seseorang membuat Leana menoleh.


"Bunda." Leana langsung memeluk mertuanya. Saking kangennya dengan wanita tersebut.


"Kenapa ada di luar, sayang? Nanti masuk angin loh."


"Ini Leana nyuruh mang Asep metik bunga."


"Buat apa?" tanya bunda Karen.


"Itu bunda, Lea mau mas Atlan mandi kembang, tadi dia disentuh ulat keket. Jadinya harus mandi kembang dulu baru Lea mau tidur sama dia," ucap Leana.


Bunda Karen sudah menebak jika menantunya sedang hamil. Dan ini ngidam di luar nurulnya, semoga saja sang anak kuat menghadapi ngidam sang bumil.


"Kamu hamil, Lea?" tanya bunda Karen membuat Leana menganggukan kepalanya.


"Ya Allah." Bunda Karen langsung menghujamkan kecupan di pipi Leana. "Bentar lagi bunda punya cucu."


"Bunda senang banget deh. Kalau gitu bunda ganti pakaian dulu, terus kita bawa bunga-bunga ini ke kolam. Biarkan suamimu itu kedinginan."


Keduanya tertawa dan pada akhirnya bunda Karen masuk ke dalam rumah.


Setelah memetik bunga Leana membawa keranjang kecil tersebut ke halaman belakangan rumah. Di mana ada suaminya yang sudah berenang.


"Sayang, kamu di mana?" tanya Leana berteriak.


Saat berbalik badan, Leana langsung berteriak karena seseorang mengejutkannya.

__ADS_1


__ADS_2