
"Yaudah, kalau nenek gak mau, gapapa," ujar Altar "Tapi, di terima sembako yang sebentar di antarkan oleh teman saya ke sini!" lanjutnya Altar.
Nenek Aqila hanya mengangguk. "Makasih atas ini semua, nak," ucap wanita tua itu.
"Sama-sama," balas Altar dan Aisha secara bersamaan.
"Tunggu besok ya nek, saya dan istri saya bakal kembali lagi ke sini, mengantar nenek ke rumah sakit untuk operasi secepatnya."
Wanita tua itu kembali menganggguk.
"Kalau, begitu Altar mau pamit nih nek," ujar Altar.
Altar menatap Aqila dan memanggilnya untuk mendekat.
Altar tersenyum memegang kedua bahunya. "Kakak pulang dulu ya, jangan nenek kamu dengan baik, ok!" pesan Altar.
Anak itu hanya mengangguk dan memeluk tubuh Altar.
"Makasih kakak baik," ucapnya mencubit pelan pipi Altar, sehingga Aisha maupun sang empuh terkekeh gemass.
"Aku gak?" tanya Aisha cemberut.
Aqila tersenyum dan memeluk Aisha juga. "Kalau bukan karena kakak cantik, aku gak akan sebahagia ini, makasih kakak cantik udah mau bantuin bayar biaya pengobatan nenek," katanya didalam pelukan Aisha, sambil terisak terharu.
Aisha kembali tersenyum, melepaskan pelukannya lalu mengusap air mata Aqila.
"Kakak pulang ya!" pamit Aisha beranjak berdiri di bantu oleh suaminya.
Aisha dan Altar mencium punggung wanita tua di depannya, dan sekali lagi berpamitan usai benar-benar sudah ingin pergi.
__ADS_1
Aisha melambaikan tanganya pada Aqila sebelum Altar melajukan motor miliknya.
"Mereka baik banget, nek," puji Aqila pada pasangan muda tersebut, nenek pun hanya mengangguk.
"Semoga aja ya, mereka benar membantu kita." Neneknya memeluk badan cucunya.
**************
Altar mengusap tangan mungil istrinya yang sedang memeluknya, dagunya di sandarkan di pundak suami.
"Ais senang deh kak Altar, kalau habis berbagi rejeki pada seseorang yang kurang mampu," seru Aisha pada suaminya yang sedang mengemudi.
"Sama, sayang," balas Altar.
"Kak Altar, jangan langsung pulang Ais mau jalan-jalan dulu bentar cari angin sore, segar tau."
Aisha menggigit lengan suaminya.
"Aw, sakit," aduhnya meringis. "Dedek kalau lahir jangan ikutin mama kamu ya, dia ciri-ciri psikopat," ejek Altar, kembali mendapatkan gigitan.
"Udah ih, sakit tau! Kalau kita jatuh gimana."
"Kakak sih, nyebelin," ketus Aisha, sehingga membuat suaminya terkekeh.
"Sampai di rumah, main naninu ya," pinta Altar tiba-tiba membuat istrinya bingung.
"Main ayunan? Yaudah singgah di taman aja kak Altar, di sana ada ayunan kita bisa main ayunan bersama," balas Aisha.
"Ck, bukan main ayunan loh," decak Altar.
__ADS_1
"Terus apa? Main sorotan? Di sana juga ada," seru Aisha dengan polosnya.
Altar kembali berdecak. "Udah deh, gak jadi," ketusnya.
Aisha hanya menaikan bahunya, yang penting dia sudah menawarkan pada Altar semua mainan.
"Kak Altar, mau itu..," tunjuk Aisha pada penjual batagor gerobang kaki lima. "Sekali ini aja, Ais pengen banget tau. Mau ileran anaknya?" tanya Aisha mengancam, membuat Altar tak bisa berkutik lagi, kalau senjatanya adalah calon anaknya.
Padahal mah, ini memang kemauan Aisha semata bukan karena ngidam.
Altar pun memberhentikan motornya di depan penjual batagor.
"Mas, batagornya 5-ribu ya!" pinta Aisha.
"Ok neng, di tunggu," ujar tukang batagornya.
"Mas kasih kacang aja, yang lain-lainnya gak usah," perintah Altar.
Aisha mengode tukang batagor agar tak merespon apapun perintah sang suami.
"Kakak, Ais mau pake kecap dan sausnya secuil aja."Aisha memperlihatkan tangannya pada sang suami.
Namun lelaki itu menggeleng. "Gak boleh!" tekan Altar.
"Ini kemauan dedek, mau dedeknya ile-" Belum sempat melanjutkan, Aisha sudah tersenyum di saat Altar menyuruh tukang batagor itu memberi kecap dan saus di batagor milik istrinya.
"Kasih, aja mas," perintah Altar.
Aisha bersorak dalam hati. "Asyik." Bumil satu ini kegirangang, dia memegang perut ratanya. "Anak aku memang the best, bisa di ajak kerja sama. Kalau kamu dah lahir kita harus ngalahin perintah Apahmu ya! Masa di larang itu ini mulu, kaya ratu dalam dongeng aja."
__ADS_1