
Aisha menggengam dengan kuat benda yang dia pegang, yang tadi ingin dia perlihatkan pada suaminya namun tak jadi.
"Udah, kak?" tanya Aisha.
"Coba, jelasin ini semua ke kakak!" pinta Altar.
Aisha mengghela nafas kasar menatap senduh ke arah lain, matanya berkaca-kaca namun berusaha tidak menyatuhkan hujan.
"Jelasin apa kak Altar? Coba kakak pikir, kalau memang Ais selingkuhin kakak, nomor itu pasti Ais save! Bahkan Ais melarang kakak membuka ponsel Ais tiap malam kan? Lagi pula dari kita nikah pernahkah Ais keluar rumah sendiri tanpa kakak tau? Bukankah setiap hari kakak bersama Ais? Jadi dari mana Ais bisa selingkuhin kak Altar? Kapan kakak bisa percaya sama Ais! " jelas wanita itu dengan air mata terus mengalir. "Hanya sebatas pesan, membuat kak Altar menatap Aisha seperti itu?" tanya Aisha.
Altar sedikit terdiam, apa yang di katakan istrinya ada benarnya. "Tapi akhir-akhir ini kamu sensi pada kakak Ais!"
__ADS_1
"Ais sensi karena ulah kakak juga! Ulah kakak!" tekan Aisha dengan nada tingginya
"BERANI LO SIALAN, TINGGIKAN NADA BICARA LO ITU KE GUE!" teriak Altar.
Tubuh Aisha seketika bergetar hebat benda yang dia genggam sangat erat terjatuh ke lantai.
Altar memegang kuat kedua bahu Aisha."Gue udah sabar Sha! Kakak udah sabar tapi kenapa lo gak pernah memberi tau kakak? Apa salah kakak?" tanya Altar.
Dengan sekuat tenanganya Aisha menepis tangan Altar. "Seharusnya kakak sadar! Bahwa Gea menjadi penghala bagi hubungan kita hari ini, kak Altar!" jawab Aisha.
"Ya kak! Ais kekana-kanakan! Ais di sini berhak cemburu padanya, dia bukanlah adik kandung mu! Tidak berhubungan darah dengam mu, lantas apa salahnya kalau Ais waspada? Dan merasa cemburu padanya. Di saat kakak meninggalkan Ais sendiri di mobil apa kakak tau gimana perasaan Ais? Bahkan tadi Ais sudah berusaha membuang sifat posesif Ais, membiarkan kakak pergi bersamanya. Kakak tau? Aisha sakit hati kak! Makanan yang Ais buat untuk kalian tidak di makan sedikit pun, seenaknya mengatakan sudah makan di luar bersama, hebatkan? Jadi di sini yang kekana-kanakan siapa!" ucap Aisha panjang lebar, mengeluar semua apa yang di pendam beberapa jam.
__ADS_1
Kalau terus-terusan di biarkan, dia takut makin menjadi-menjadi hubungan antara sepupu tersebut.
"Ais tau kakak sangat meyayanginya layaknya adik kandung kakak sendiri, namun perhatian kakak kedia berlebihan menurut Ais," sambungnya.
"T-"
"Udah ya kak, Aisha gak mau makan waktu lebih banyak, Ais mau sholat! Kalau kakak masih belum mempercayai ,Ais, ok gak masalah, yang terpenting Ais sudah menjelaskan disini, tinggal keputusan kakak mau gimana, mau ninggalin Ais? Ok gak apa-apa, mau buat Ais menderita? Silahkan mumpung keluarga Aisha tidak ada, Ais cuman bergantung hidup pada kakak, jadi lakukan apa mau mu, bentak sepuas mu, keluarin kata-kata umpatan menyakitkan itu!"
Aisha berjongkok mengambil benda berbentuk kecil yang sempat jatuh tadi, dia memberikannya ke telapak tangan suaminya lalu berkata kembali.
"Tentukan keputusan mu, kalau kau ingin istri mu dan anak mu tetap bersama mu kak, suruh Gea tinggal di rumah Mama, jangan bersama kita, batasi kedekatan kalian, kalau kakak lebih memilih Gea, kakak siap-siap tidak akan pernah bertemu dengan ku apalagi anak ku! Aku melakukan ini semua demi nyawa yang aku kandung, aku tidak tega saat dia lahir, tidak merasakan sosok ayah," tekan Aisha, dia mengambil mukenanya dan keluar dari kamar.
__ADS_1
Dia akan sholat di Mushola , tidak bersama Altar.
Padahal tadi Aisha begitu bergembira akan menyampaikan berita bahagia pada suaminya namun malah berujung petaka, entah siapa yang tega mengfitnah dirinya, yang jelas-jelas tidak berselingkuh dengan siapa pun itu. Aisha berharap ini semua cepatlah kelar.