
"Kak Altar, kenapa mereka di pukul semua? Padahal Ais yang nyuruh buat beli seblaknya, seharusnya kasih ke Ais aja, jangan ke mereka," timpal Aisha.
Altar memukul keempat temannya, yang sedang menjalankan tugas dari bu ketua mereka untuk membeli seblak diam-diam.
"Kakak gak bisa marah sama kamu, jadinya aku pukul aja dia pada, siapa suruh mau aja di suruh," balas Altar memeluk pinggang Aisha.
"Obatin mereka, kalau gak di obatin Ais marah sama kakak," pinta Aisha.
Altar mengerucut kesal. Dia berlari mengambil kotak P3K yang ada di bagasi motornya, yang selalu memang dia bawa akhir-akhir ini, untuk waspada pada istrinya yang sering ceroboh, bahkan keperluan Aisha yang lain sudah diam siapkan semua, mumpung bagasinya agak luas untuk mengisi barang-barang.
"Sini, maju-maju!" pinta Altar.
Namun keempat temannya tidak ada yang ingin bergerak mendekatinya.
"Ck, kalian benar-benar bajingan," umpat Altar, melempar satu-persatu kapas ke arah mereka.
"Lihat bu ketua, Altar gak ikhlas!" aduh Vier seperti bocah.
"Kak Altar!"
"Ya! Kakak ikhlas ini," ketusnya menarik tangan Vier dan mengobati, bukan secara pelan-pelan namun memakai kekuatan sehingga Vier menjerit saat Altar menekan lukanya.
"Lebay, lo yanto," sahut Altar.
"Lo, lagi sini," panggil Altar menarik tangan Kendra dan mengobatinya.
Dan terus-terus seperti itu hingga keempat temannya selesai di obatin.
"Ok, udah kan? Bentar antarin ke rumah ya seblaknya! Kan udah Ais bantuin," bisik Aisha.
__ADS_1
Mereka menggeleng. "Ngak ah, takut monyok lagi kita," tolak Cakra.
Aisha merentangkan kakinya ke tanah. "Aku aduhin sama kak Altar, kalau tadi kalian yang suka rela buat beliin aku seblak dan kalian sengaja sembunyiin seb-"
"Ok, beres bu ketua, tunggu aja seblaknya di pintu belakang," sahut mereka kompak.
Aisha tersenyum. "Nah gitu," ujarnya, setelah itu ia berlari ke arah suaminya yang sudah menunggunya untuk pulang.
"Kok, senyum-senyum gitu ada apa?" tanya Altar memakaikan helm di kepala sang istri.
Aisha hanya menggeleng, dan merentangkan tangannya ke arah sang suami, Altar pun dengan siap mengangkat tubuh Aisha.
"Kak Altar, Ais mau singgah di taman ya! Mau beli gulali," pinta Aisha memeluk pinggang Altar.
"Gak boleh, nanti gigi kamu sakit gimana?" tanya Altar mencegah.
Altar hanya berdehem, membuat Aisha senang.
Saking senangnya akan mendapatkan eskrim sehingga tidak waspada, Aisha turun dari motor dan ujung gamisnya terkain di standar motor milik suaminya.
"Sakit," aduhnya berkaca-kaca, memegang sikunya yang tergetok di aspal.
Altar yang melihatnya seketika panik cepat-cepat menghampiri istrinya, bahkan ia tidak menyimpan motornya dengan benar.
"Kamu sih, turunnya gak hati-hati kan luka," ujar Altar mengangkat tubuh istrinya dan mendudukannya di kursi penjual bakso. "Maafin kakak ya! Kakak gak bisa jaga kamu, jadi kaya gini deh."
Altar menghapus air mata istrinya dan mencium matanya.
"Mas, punya alkohol dan kapas?" tanya Altar pada mas-mas tukang bakso.
__ADS_1
"Ada, bentar ya dek." Mas-mas itu berlari kecil masuk ke dalam tokonya, dan beberapa saat kembali membawa apa yang di minta Altar.
"Ini, dek," ujar mas-masnya.
"Makasih, mas," ucap Altar tersenyum.
Altar pun mengobati luka istrinya.
"Perih, tahan sebentar sayang," pesan Altar.
Aisha hanya mengangguk dan menutup matanya, membuat Altar terkekeh melihatnya.
"Udah," sahut Altar, mencium sekilas mata istrinya yang di pejamkan. "Udah nangisnya," pinta Altar memeluk Aisha.
"Mau beli eskrim kan?" tanya Altar dan di angguki Aisha.
"Yaudah, ayo kita lesgoo," ajak Altar, mengenggam tangan Aisha menuju penjual eskrim kaki lima.
"Kak Altar, cadar Ais kotor," rengek Aisha berhenti.
Altar menoleh kebelakang, dan dia baru sadar kalau cadar istrinya kotor, karena memakai cadar berwarna putih.
"Bentar ya! Kakak bawa cadar yang lain di bagasi motor," ujar Altar kembali di mana dia meninggalkan motornya yang sudah di letakin dengan benar oleh tukang parkir.
"Makasih mas, sudah di parkirin," sahut Altar merengok saku celananya, memberikan uang seratus lembar pada tukang parkir.
"Kebanyakan Den, saya biasanya cuman di beri dua ribu aja." tukang parkir itu menolak pemberian Altar.
"Gak apa-apa mas, anggap aja sedekah," ujar Altar menaro uang itu di telapak tangan tukang parkir.
__ADS_1