Badboy Suamiku

Badboy Suamiku
Marahin aja!


__ADS_3

"Maksud ente apa?" tanya Evan yang tidak sengaja mendengar ucapan Kiara.


"Apa?Emang benarkan dompet lo tipis? Palingan didalamnya cuman ada seribu," julid Kiara.


"Lo dukung iya?Tau banget isi dompet gue," ujar Evan


"Kan benar!" hebo Kiara memukul kepala Vier.


Vier yang hanya mencibirkan mulutnya kearah Kiara.


"Botih ya lo?" tanya Kiara diluar dugaan.


"Botih teh apaan neng?" tanya Evan dan kedua temanya yang lain.


"Kamu nanyek?" ujar Kiara, membuat ketiga pria itu memutar bola mata malas.


"Ga!" Evan pergi dari sana dikutii oleh kedua temanya.


Beberapa saat guru sudah memasuki kelas. Dan dikelas itu hanya ada kehingan disaat mendengar guru menjelaskan. Adapun yang menguap karena merasa bosan.


"Ibu saya mau nanya," Vier mengangkat tanganya. Membuat guru yang sedang mengajar menoleh kearah nya.


"Boleh," ujar Ibu Megan.


"Ga jadi bu, cuman gabut," seru Vier. Sehingga mendapat sorotan murid murid yang ada didalam kelas itu.


Ibu Megan pun berusaha kuat menghadapi murid yang teladang tiada tara seperti Vier tersebut. Hanya Vier yang bisa membuatnya ingin murka.

__ADS_1


"Evan coba kamu naik susun rumus rumus ini," pinta ibu Megan.


"Saya ibu?" tunjuk Evan pada dirinya sendiri.


"Nama mu siapa emang?" tanya balik ibu Megan.


"Altar bu," jawab Evan. Membuat keempat temannya menatapnya dengan aneh, apalagi Altar.


"Gausah banyak alasan, ayo cepat naik!" pinta ibu Megan menaikan kecamata bulatnya keatas matanya. Tapi melorot turun membuat murid murid yang ada didalam kelas menahan tawanya


"Kacamata aja gabetah sama ibu makanya ibu masih jomblo, jomblo perawat tua," jujur Vier, membuat teman sekelasnya geleng geleng.


"Apa maksud kamu Vier?"


Murka ibu Megan menghampiri Vier dan menjewer telinga muridnya itu.


"Aduh bu sakit!" aduh Vier berusaha melepaskan tangan gurunya dari telinganya.


"Gausah ngerayu. Kaya saya gatau kamu aja," sahut ibu Megan.


"Vier ga bohong loh bu, ini asli no efek efek." Vier menaikan dua jari kearah guru nya itu.


"Ah ah, sakit bu," ringis Vier kembali, disaat bu Megan memperkuat menyewer telinganya.


Bu Megan melepaskannya disaat melihat telinga Vier sudah merah.


Vier pun mengusap usap telinganya.

__ADS_1


*****************


Evan menarik tas Vier dari belakang, membuat Vier mundur dengan badan yang tak seimbang. "Mau kemana lo?" tanya Evan.


"Nyari janda pirang!" jawab Vier, menepis kasar tangan Evan.


"Emang noh janda mau sama lo? Mending sama Lucinta Luna deh!" saran Kendra.


"Lo kira gue apaan? Yang waras dikit lah! Gue mau nyari sugar baby."


"Gue ga yakin, kalau lo bakal dapat sih," ujar Cakra menaikan tanganya di bahu Evan.


"Dih lo pada bukan nya semangatin kasih sport system gitu, malah ga yakin gitu," ketus Vier.


"Soalnya muka lo ga ngeyakini, tuh sugar baby baru ketemu lo aja udah tertekan," sahut Altar.


"Udah ah malas, ngomong sama dinding aja sono," ketus Vier pergi menduluangi teman temannya.


"Gue kalem, cool apalagi cowok dingin beh itu mah gue banget. Pasti sugar baby atau janda pirang langsung kepikat sama gue," pede Vier.


"Kak Altar jangan lama pulangnya iya!" pesan Aisha pada suaminya, disaat dirinya ingin memasuki mobil.


"Kalau gue gamau pulang sekalian gimana? Emang lo siapa ngatur ngatur gue?"


Aisha sering kali mendengus kesal kalau suaminya sudah mode seperti ini. "Aku istri kak Altar, kalau kak Altar lupa itu," ketus Aisha. menutup pintu mobil dengan keras.


Altar hanya terkekeh. Entah mengapa dia suka sekali, dimana istrinya itu kesal kepadanya.

__ADS_1


"Mang antar pulang langsung iya, jangan singgah singgah!! Walaupun dia minta singgah beli jajanan kaki lima, bilang aja jajan jajanan seperti itu ga sehat, kalau dia ngeyel marahin aja!" jelas Altar berbisik ke sopir rumahnya. Yang bernama mang ujang.


Mang ujang hanya tersenyum lalu mengangguk. "Beres itu mah den." Mang ujang dan Altar saling tos. Membuat Aisha menggerik dahi nya.


__ADS_2