
Pagi harinya Altar segera ke rumah sakit di mana ayah mertuanya di rawat.
"Altar do'ain abi cepat-cepat sembuh dan kembali beraktifitas seperti biasa," ujar
Umah Giva mengangguk. "Aamiin. Umah minta nak Altar, untuk jaga anak kami ya!" pesan Giva.
"Pasti umah, Altar akan menjaga Aisha," balas Altar, manggut-manggut. "Tapi lebih bagusnya kalian juga ikut menjaganya," lanjut Altar, dia mengambil plastik yang dia bawa, berisi makanan.
"Umah makan dulu, umah juga harus menjaga kesehatan agar kuat mejaga abi, jangan sampai umah ikutan sakit," pinta Altar, memberikan kantong plastik itu pada mertuanya.
Give pun mengambil kantong plastik yang diberikan menantunya. "Jadi hari ini, kamu akan kembali ke Indonesia? Tolong titipkan salam pada Ais, kalau kami baik-baik aja di sini," ujar Giva.
"Tapi, Altar gak bisa menyembunyikan ini terlalu lama, izinkan Altar memberi tau Ais di saat waktunya sudah tepat, dia juga berhak mengatahuinya, baik dia khawatir, sedih, itu memang sudah pasti," jelas Altar.
"Iya." Umah Giva mengangguk.
Saat sibuk berbincang.
Tiba-Tiba ponsel Altar berdiring, membuat suasana berubah.
"Altar angkat telfon dulu," ujar Altar, beranjak agak menjauh dari depan ruang ICU.
"Apa?" tanya Altar saat panggilan terhubung.
"Lo gak bisa pulang secepatnya Tar?" tanya Cakra, ternyata menelfon adalah lelaki itu.
"Ada masalah?" tanya Altar balik.
__ADS_1
"Ada," jawab Cakra.
Cakra pun menceritakan semuanya pada Altar, Altar yang mendengarnya mengangguk.
"Ok, gue akan pulang sekarang," ujar Altar, mematikan secara sepihak panggilan.
Altar kembali ke arah ibu mertuanya, berniat berpamitan pada sang mertua.
"Altar, akan pulang hari ini umah, ada urusan yang penting yang harus Altar lakukan," sahut Altar, membuat Giva menoleh ke arahnya.
"Kenapa kok tiba-tiba? Yaudah hati-hati ya nak, jangan lupa beri kabar saat telah sampai," ujar Giva.
Altar mengangguk. "Sapain ke bang Rigel umah, Altar gak bisa menunggunya."
Setelah usai berpamitan, Altar segera menghubungi Ajudan sang papa.
"Halo, Paman, segera urus penerbangan ku kembali ke indonesia sekarang," pinta Altar, pada Ajudan papanya.
"Kenapa Den, kok tiba-tiba, apa ada masalah?" tanya Marko Ajudan papanya.
"Ada paman, tolong siapkan saja penerbangan dengan cepat, saya harus sampai dii Indonesia secepatnya," jelas Altar.
Altar menelfon istrinya. Dan tak cukup waktu lama Aisha mengangkat telfonnya.
"Halo sayang, sekarang kamu ada sama mamah kan?" tanya Altar, dengan cepat.
"Kak Altar, beri salam dulu!" pinta Aisha.
__ADS_1
Altar menghela nafas. "Asslamualaikum," ujar Altar dan di balas oleh Aisha.
"Walaikumsallam, Aisha ada di rumah mamah kok, kenapa kak Altar, kenapa kakak kedengaran begitu panik?" tanya Aisha.
"Tidak ada apa-apa, jaga dirimu saja! Kakak akan pulang sekarang, tunggu kakak di sana," jawab Altar mematikan ponselnya.
Dia keluar dari hotel, menggunakan topi dan masker. Apa yang di katakan Cakra tadi, saat ini papa Aksa sedang mengincar istrinya dan akan berusaha mencegah dirinya untuk kembali ke Indonesia.
Sudah di pastikan papa Aksa akan membalas perbuat Altar, karena membuat anak tersayangnya sedang berada di balik besi yang menjulang tinggi dengan keadaan kaki patah. Kepala Aksa hanya di perban karena tembakan Altar saat itu tidak terlalu dalam dan masih bisa di keluarkan peluruhnya, jadi lelaki itu tak mati sia-sia.
Beberapa saat sebuah mobil berhenti di depannya, Altar pun segera menaiki mobil tersebut.
"Cepat paman," pinta Altar.
Marko mengangguk, dan melajukan mobil di atas rata-rata, agar cepat sampai di lokasi penerbangan.
Altar panik karena istrinya terseret ke dalamnya, dia tidak akan mungkin membiarkan istrinya celaka kedua kalinya.
"Bangsad," umpat Altar turun dari mobil, dan menunggu waktu penerbangan tiba.
"Mari, Den," sahut Marko beberapa saat, Altar pun segera menaiki jet pribadi papanya.
"Minum lah dulu Den, saya lihat Anda begitu panik," ujar Marko, memberi Altar satu botol air miniral.
Altar hanya melirik dan mengambil air minum itu. "Makasih, paman," ujar Altar, dan meneguk air yang berisi botol, sampai habis.
...----------------...
__ADS_1