Badboy Suamiku

Badboy Suamiku
~Dijebak•Chapter 49•


__ADS_3

"Kayanya, hari ini gak bisa!" sahut Aksa. "Lo lihat, tuh cewek nempel mulu ke Altar."


"Tenang, serahkan ke gue tentang ini. Lo cukup nyulik gadis sundal itu," kekeh Ilona.


"Pak, sini dulu bentar," panggil Ilona, melihat seorang bapak-bapak tidak sengaja lewat dari sana.


"Iya, ada apa?" tanya bapak-bapak tersebut, pada Ilona.


"Maju dikit, lagi pak!" pinta Ilona, membuat pria sudah berkepala empat itu, hanya menurut.


Ilona membisik,'kan sesuatu di telinga bapak-bapak tersebut.


Ilona tersenyum devil. "Gimana pak, mau?" tanya Ilona, menaik turun,'kan alisnya.


Bapak-bapak tersebut terdiam sejenak, dan beberapa saat mengangguk. "Boleh lah, tapi ada uang jalannya?" tanyanya.


Ilona menaikkan satu jempolnya. "Tenang aja pak, beres itu mah," ujar Ilona.


"Wah, lo jadi cewek pintar juga," puji Aska tersenyum miris ke arah Ilona, di saat bapak-bapak suruhan gadis itu pergi.


***********


"Altar, bukan?" tanya seseorang, sehingga membuat Altar menoleh ke arah suara.


"Benar, ada apa?" tanya Altar.


Seseorang itu pun memberi tau Altar. Altar yang mendengar itu hanya mengangguk.


"Sayang, kakak ke sana sebentar iya!" izin Altar, dan hanya di angguki oleh Aisha.

__ADS_1


Altar pun pergi menjauh dari Aisha. Di sana lah, Aksa dan Ilona saling tos.


"Cepat!" pinta Aksa, pada kedua temannya yang ikut untuk menculik Aisha.


Sedangkan Ilona was-was. Jangan sampai Altar, mengetahuinya.


"Halo, adek cantik," ujar Aksa, duduk di dekat Aisha. Membuat Aisha menggeser badannya ke samping.


"Sendirian, aja?" tanya teman Aksa.


Aisha mulai risih dengan kelakuan Aksa dan kedua temannya. "Kalian jangan mendekat!" pinta Aisha, dengan was-was.


"Kenapa sih, dek cantik?" tanya Aksa ingin menarik cadar Aisha, namun cepat-cepat Aisha menepisnya.


"Jangan sentuh!" peringat Aisha, terus mundur. Aksa terus saja ingin mendekatinya.


Aisha mengenggam tangannya sendiri. "Kak Altar, tolongin Ais," teriak Aisha dengan sekuat tenaga, di saat kedua teman Aksa, memegang lengannya.


Aisha terus saja menjerit, namun tak ada tanda-tanda seseorang yang ingin menolongnya, bahkan suaminya tidak datang.


Di sisi lain, di mana ada Altar dan keempat temannya, sedang di landa kebingungan.


Ternyata mereka di jebak oleh bapak-bapak tadi. Yang memberi tau Altar, bahwa keempat temannya memanggilnya.


mereka berempat pun sama halnya dengan Altar, di beri tau kalau Altar memanggil mereka.


"Loh, bukannya kalian yang manggil gue?" tanya Altar, pada keempat temannya.


"Lah, lo yang nyuruh kita ke sini iya ege!" ketus Evan.

__ADS_1


"Tad-" Altar menggantung ucapannya, sehingga membuat keempat temannya bingung.


"Tadi apa anjing?" tanya Cakra.


Altar mengacak rambutnya furstasi. "Tadi gue di beri tau bapak-bapak, kalau lo pada manggil gue ke sini!" jawab Altar.


Mereka berempat saling pandang satu sama lain. "Lah, kami juga di beri tau om tua bangka itu!" ujar mereka secara bersamaan.


Mereka berlima diam sejenak, dan pada akhirnya berlari tergesa-gesa.


"Istri, gue anjing!" teriak Altar, berlari kembali ke tempat di mana dia meninggal,'kan Aisha sendirian.


Sesampainya di sana, Altar menoleh kiri dan kanan, tidak mendapti istrinya.


"Aisha," teriak Altar.


"Siapa yang rencana in, ini semua?" tanya Cakra, yang cepat cepat menahan Altar yang ingin ambruk ke tanah.


"Ilona?" tebak Evan. "Hanya Ilona, yang bisa berbuat seperti ini. Kalau rival geng motor Aodra, tidak ada yang mengetahui hubungan Altar dan Aisha bukan?"


"Bentar, jangan langsung ngambil kesimpulan, siapa tau Aisha ada di sekitar sini sedang mencari Altar," sahut Kendra.


"Masuk akal." Mereka manggut-manggut.


Mereka pun berpencar untuk mencari Aisha.


Mereka sudah mencari di semua tempat yang ada di pantai tersebut, dan sama sekali tidak menemukan Aisha.


"Cakra, lo lacak lokasi Aisha di mana!" saran Kendra.

__ADS_1


"Lah, mana bisa ege, kita tidak mempunyai barang Aisha, yang dapat di lacak," celetuk Vier.


"Ponsel anjir, ponsel!" ngegas Evan, mengjitak kepala Vier.


__ADS_2