
"Kamu nonis dek," timpal Evan ke Kendra.
Kendra menepuk jidatnya. "Lupa astaga, puji Tuhan,"ucap Kendra.
"Gea, ambil sendiri bisakan?" tanya Altar pada adek sepupunya itu.
Gea pun hanya mengangguk kecil. Lalu mengambil nasi beserta lauknya.
ting tong!
Mereka berdecak, saat mendengar suara bel berbunyi.
"Biar gue aja!" ujar Altar berdiri namun tak jadi, karena orang itu membuka pintu duluan dari luar.
"enstt, Tar lo ngundang tamu sebanyak ini tiap hari? Atau lo memang buka jasa panti?" tanya seseorang masuk menerobos duduk di dekat Aisha.
"Halo, kakak ipar," sapa seseorang itu, yang tak lain adalah Atlanta.
Aisha hanya mengangguk.
Altar mendorong tubuh sepupunya itu agar menjauh dari istrinya.
"Cih, gitu aja pun, posesif banget," celetuk Atlanta merapikan bajunya lalu duduk di samping Gea.
"Terus, nih siapa lagi Tar?" tanya Cakra
Altar yang ingin berbicara tetapi tidak jadi, karena sudah di sela duluan oleh Atlanta, manusia paling menyebalkan menurutnya.
"Gue Atlanta. Gue memang satu dari yang lain, lebih tampan dari bulu keteknya Altar, tapi kalau dirinya sorry gue nyerah, soalnya lebih gantengan gue," jelas Atlanta.
__ADS_1
Altar melemparkan tulang ayam ke arah sepupunya itu, lalu memutar bola matanya jengah.
"Atlan, ke sini ngapain sih?" tanya Gea, buka suara.
"Jemput lo, lah!" jawabnya.
Gea mendesah. "Maksudnya?" tanya Gea tak mengerti.
"Udah, lo makan aja dulu yang banyak, biar gak kurus-kurus amat kaya tulang," cerca Atlanta menyuapi Gea makanan, sehingga pipi gadis itu jadi ngebuk gara-gara Atlanta.
Gea mengerucut bibirnya dan menepis tangan Atlanta yang terus saja menyuapinya, kasih sayang Atlanta memang beda dari yang lain.
Keempat teman Altar, tertawa kecil melihat komuk Gea.
**************
"Ayo cepatan Gea, Atlan punya urusan!" ketus Atlanta membujuk adek sepupunya, yang bersembunyi di belakang Altar.
"Gak apa-apa, di rumah Mama Karen dulu ya? Nanti tiap hari Ata akan ke sana jengukin Gea," bujuk Altar.
Gea menggeleng, air matanya mulai jatuh. "Gak mau, Gea pengennya di sini sama kak Ata!" tolaknya, merengek.
Altar menatap ke arah istrinya penuh keluh, berharap istrinya bisa membiarkan Gea tinggal bersama.
Aisha yang di tatap membuang pandangannya ke arah lain.
Altar berdecak, berbalik badan menghapus air mata Gea.
"Di sini Ata gak terus-terusan perhatiin Gea, soalnya Aisha kan lagi hamil, Ata harus 24 jam menjaganya nanti gak punya luang waktu dong sama Gea, terus nanti Gea bosan gimana? Di rumah Mama Karen dulu ya? Di sana ada Cila yang temanin kamu main, biar gak bosan!" bujuknya.
__ADS_1
"Cila kan masih esde, nanti muka Gea di coret-coret samanya!"
Altar menghela nafas. "Nanti, Ata janji tiap hari Ata akan datang temui Gea."
"Kenapa sekarang kak Ata, gak biarin Gea di sini? Selama punya istri kak Ata, gak sayang Gea lagi!" ketusnya Gea.
"Siapa bilang Ata gak sayang Gea lagi? Sampai kapan pun Ata tetap sayang Gea, tetapi gak kaya dulu lagi, soalnya kan Ata udah punya istri dan bentar lagi punya anak, jadi gak terus-terusan Ata ikutin ke mauan Gea," jelas Altar.
"Tapi, janji ya?" tanya Gea, di angguki oleh Altar.
"Jadi gimana? Mau ya tinggal di rumah Mama karen?" tanya Altar, seraya menyipit anak rambut Gea ke telinga.
Gea akhirnya mengangguk.
"Yaudah, ayo tos dulu!"
Gea pun tersenyum dan tos tangan dengan Altar.
"Tapi besok Gea mau ikut! Acara geng motor kakak!" sahut gadis itu.
Altar mengangguk.
Akhirnya sekian lamanya di bujuk, Gea ingin juga pergi bersama Atlanta. Sebenarnya Altar tak rela membuat adek sepupu tersayangnya itu menangis namun apa boleh buat, dia lebih menyayangi istrinya dan anaknya jauh dari kasih sayangnya ke Gea.
Altar melambaikan tangannya di saat Atlanta dan Gea sudah ingin melaju.
Sehabis perginya Atlanta dan Gea, keempat temannya pun ikutan pamit.
...****************...
__ADS_1